KAU MENDUA

KAU MENDUA
Bab 29


__ADS_3

"Bagaimana Bu, anak saya?"


"Begini pak..Bu.. sebelumnya saya minta maaf, untuk semester ini saya melihat dari hasil rapot Farasya mengalami sedikit penurunan di dalam nilainya. Bahkan juga saya melihat secara langsung pada jam mata pelajaran Farasya sering sekali melamun dan kurang fokus dalam pelajaran."


"tapi Bu kenapa dengan anak kami?"


"iya Bu benar, sementara dirumah dia termasuk anak yang periang"


"saya dan beberapa guru sering bertanya padanya kenapa dan ada masalah apa, tapi anak itu tidak mau memberitahu kami. Jujur saja Bu, ini sangat disayangkan karena mengingat Farasya termasuk salah satu anak yang pintar disekolah ini." ucap guru


Terlepas dari itu, saya mohon kepada ibu dan bapak untuk tidak memarahinya karena akan mempengaruhi mental anak bapak dan ibu juga. oh iya, kalau boleh saya kasih pendapat, sebaiknya jika ada masalah dalam keluarga mohon sebisanya untuk tidak memberitahukan kepada anak-anak, juga jangan sampai mereka mengetahuinya. mohon maaf bukannya saya lancang tapi ini demi anak-anak Bu". lanjut guru.


"terimakasih Bu, kami mengerti. mari...."


ceklek


mas Bram membuka pintu ruangan, terlihat Ara sudah berada di depan ruangan dengan wajah yang ia tekuk, tak seperti semester-semester sebelumnya yang ia sambut dengan suka cita kali ini ia seperti tahu ada sesuatu dari hasil nya .


"maafin Ara ma, pa.."


"kenapa minta maaf anak gadis mama?" sambil memeluknya


"nanti saja kita bahas ya sayang, sekarang kita pergi dulu ambil rapot adikmu" sahut ayahnya.


***


Berbeda dengan Ara, Farhan memang tidak termasuk anak yang pintar, tapi ia juga tidak bodoh hanya saja ia malas dan lebih suka bermain.


Namun untuk kali ini, kami sama-sama dikejutkan dengan hasil anak-anak kami. Farhan juga dikatakan nilainya menurun bahkan termasuk dua terbawah.


Akhirnya, mas Bram mengajak kami makan diluar dan kali ini makannya bukan sekedar makan biasa melainkan sekalian ingin bertanya sebab akibat dari nilai mereka.


"kalian mau pesan apa?" tanya mas Bram


"kakak pesan nasi goreng spesial sama juice pokat ya pa"


"oke sayang, kalau jagoan papa ini mau makan apa?"


"Farhan burger aja pa sama kentang goreng, tapi minumnya milk shake hehehe"


"perbaikan gizi lu" celetuk Ara


"berisik! wleeee" sahut Farhan


"ekhemm" dehemku


"maaf" ucap mereka barengan


"kamu apa Rai?"


"aku spaghetti carbonara sama lemon tea"


Tak berapa lama kemudian, pesanan kami pun datang dan suasana menjadi hening hanya ada suara sendok yang terdengar karena kami.memang membiasakan diri untuk makan tidak sambil berbicara.


Setelah selesai makan mas Bram langsung menyelidik anak-anaknya, jantungku mulai berdegup karena aku takut ayahnya memarahi kedua anak kami ini.


"sudah pada siap makan kan? papa mau nanya nih"


degg!!!

__ADS_1


ku lihat wajah kedua anakku menjadi pucat ketakutan.


"semua akan baik-baik saja nak" sahutku menenangkan mereka, dan keduanya langsung mengangguk ngerti.


"mulai dari Ara ya nak"


"iya pa"


"kata Bu guru, Ara sering melamun di sekolah, nilai Ara juga sedikit terjun bebas,emangnya anak papa ini ada masalah apa sih? huh?"


"Ara gak ada masalah pa, Ara baik-baik aja. maafin Ara kali ini mengecewakan kalian"


"lalu Ara kenapa? apa Ara butuh les tambahan? papa gak mau ya Ara kaya gini lagi"


Aku melihat mata Ara mulai berkaca-kaca, aku langsung memeluk anakku itu .


"mas.... udah!"


"hmm baiklah, kalau begitu sekarang Farhan"


"i--iya pa"


"ada yang mau kamu jelaskan nak?"


"Farhan setiap hari mikirin papa saat ujian kemarin"


deggggg!!!


"maksudnya nak?" tanyaku


"iya Farhan mikirin papa kenapa papa jarang pulang, kenapa papa sering bertengkar dengan mama, sampai mama mau nyoba bunuh diri karena papa, itu kenapa pa? Farhan juga pengen kumpul bareng lagi, biasanya papa sama Mama nemenin Farhan belajar saat ujian, ini kenapa cuma mama aja? papa kemana?" sambil terisak


seketika gelas yang dipegang mas Bram terjatuh kebawah.


"Farhan sayang, kamu ngomong apa nak" ucapku sambil bergantian memeluk Farhan .


"maafin Farhan ma"


"hussttt!! diem ya, udah ya nangisnya. kamu gak salah nak"


"iya, kamu yang salah!" celetuk mas Bram


"aku.???? hah? gak salah?"


"andai kamu gak senekat itu sampai bunuh diri semuanya gak akan terjadi seperti ini Raina!" ucapnya dengan nada tinggi.


"oh begitu, turunkan nada bicaramu tuan Bram Wijaya, tapi maaf hatimu itu terbuat dari apa? bahkan mas tak menyadari kesalahan mas! sudahlah sekarang silahkan pergi, biar anak-anak aku yang mengurusnya"


"hiks...hiks..." isakan Kedua anakku.


"jangan nangis nak, hati mama ikutan sakit melihatnya."


"maafin Ara maa, sungguh ini salah Ara."


"ini salah Farhan juga, hiksss"


"kalian tidak salah, yang salah itu kami.. sudah jangan menangis ya.."


"maafin papa nak" sambil memeluk kedua anaknya

__ADS_1


"oh sudah sadar sekarang? cih!" sindirku


"sebaiknya kita pulang sekarang ya anak papa"


"Ara mau pulang kerumah opa"


"Farhan juga"


"ga ada yang mau tinggal sama papa nih?"


"gak! papa jahat!" ucap mereka sambil pergi..


"Ara.... Farhan." teriakku sambil mengejar mereka.


Namun aku mengentikan langkahku sekilas sambil berbicara kepada mas Bram "jika kau ingin dihargai maka kau harus belajar menghargai"


***


"hikss hikss." tangisan kedua anakku sambil memeluk ayahku.


"apa yang terjadi?" tanya ibuku.


"nilai mereka turun dan ayahnya memarahinya"


"Bram? kenapa ada Bram?"


"tadi pagi dia datang menjemput kami, Rai sudah menolaknya tapi anak-anak ingin diantar ayahnya. Rai akan sangat berdosa jika menjauhkan mereka ma..."


"keputusanmu sudah benar nak, tapi lihatlah anak-anakmu. Bram sudah keterlaluan!"


"ma, nanti aja kita bahas lagi, ga enak depan anak-anak"


"anak-anak, lihat opa! apapun hasil yang kalian dapatkan sekarang itu sudah baik, tapi besok harus dinaikkan lagi, mengerti?"


"iya hiksss opa hikss"


"kalian itu hebat, kalian itu kuat. justru hal ini harus menjadi patokan untuk kalian agar kedepannya lebih baik lagi, lebih tinggi lagi nilainya . kenapa? karena biar papamu itu tahu dan lihat kalau anak-anaknya pintar dan tidak seperti yang dipikir nya" ucap ayahku lagi


"iya opa...." sambil meredakan nangisnya.


'maafkan mama nak, mama sudah berdosa pada kalian. kalian gak salah, mama lah yang salah. mama akan memperbaikinya sayang, dan itu semua untuk kalian!' batinku menangis.


Lalu kedua anakku kembali kekamarnya. tinggal lah diruangan itu terdapat aku, ibu dan ayahku. Sepertinya kali ini akulah yang akan disidang.


"Rai" panggil ayahku


"iya pa"


"jadi bagaimana keputusanmu selanjutnya?"


"Rai belum tahu, Rai masih bingung, hiks..."


"kamu pasti kuat nak" sahut ibuku.


"kasihan mereka sayang, mereka lah nanti yang akan menjadi korbannya, kamu gak mau kan?" ucap ayahku


Benar apa kata ayahku, "baiklah pa, Rai sudah tahu apa keputusan Rai sekarang"


"lalu, apa?" tanya kedua orangtuaku dengan antusiasnya.

__ADS_1


__ADS_2