KAU MENDUA

KAU MENDUA
Bab 42


__ADS_3

Malam harinya aku merasa enakan, aku ikut menyusul mereka yang sedang asik makan malam.


"sayang? kenapa keluar?" tanya mas Bram sambil menghampiriku sedangkan kedua anakku langsung melihatku dengan rasa bersalahnya


"Rai sudah mendingan" singkatku lalu duduk di kursi yang masih kosong.


"mama maafin kami" ucap Ara


"kenapa minta maaf? ini bukan salah kalian, yang kalian lakukan sudah benar nak tapi ada tapinya" ucapku sengaja kupotong


"maksudnya ma?"


"saling melindungi itu baik, apalagi melindungi karena kebaikan, tapi apa yang diucapkan orang lain jangan diterima gitu saja, belum tentu apa yang kalian dengar itu benar, oke?" jawabku lalu mereka mengangguk


"anak pintar, ya sudah makan nya dilanjutin gih"


Saat sedang asik makan, tiba-tiba ada suara ketukan pintu, aku langsung pergi untuk membukanya, merasa heran saja kenapa ada yang datang diwaktu malam.


ceklek


"maaf, siapa ya?" tanyaku


Orang tersebut senyum "kenalin, saya Friska. pemilik rumah ini"


"oh maaf mbak, silahkan masuk" ucapku ga enak.


Lalu aku mengambilkan air minum untuknya, sedangkan mas Bram sudah berada didepan.


"saya cuma ingin bertanya mengenai uang sewa rumah, karena sudah beberapa bulan ini bang Bram belum membayar nya." tegasnya


Aku langsung menatap mas Bram minta penjelasan, tapi sepertinya tatapanku hanya sia-sia karena ia tak melihat sedikitpun.


"insyaallah lusa saya bayar" ucap mas Bram


Mbak Friska tersenyum "baiklah, saya tunggu"


"oh iya mbak, di minum dulu... maaf adanya cuma teh"


"ah iya kak dak apa-apa, makasih ya"


Aku mengangguk "sama-sama mbak"


Lalu kami bercerita sampai hampir dua jam. Aku merasa sangat cocok bercerita dengannya, menjadi temannya mungkin lebih asyik.


"saya boleh numpang ke kamar mandi?"


"ah iya, boleh mbak, silahkan.." ucapku dan mbak Friska tersebut langsung pergi.


Namun tak lama kemudian mas Bram juga pamit ke belakang dengan alasan ingin melihat anak-anak apa sudah tidur atau belum.


Lalu mungkin waktu yang kebetulan mereka kembali bersamaan, aku melihat sepertinya keduanya sudah lama saling kenal, tak ada rasa canggung tapi aku tak berhak mencurigainya.


Mbak Friska pamit pulang dan aku menutup pintu.


"mas Bram, tunggu..." ucapku melihat mas Bram ingin masuk kamar.

__ADS_1


Mas Bram menoleh "ada apa sayang"


"jelaskan sejelas-jelasnya" tegasku


"tentang?" tanyanya panik sampai keringat bercucuran membuatku curiga


"rumah ini, kenapa belum dibayar?" sambil melipat tangan di dada.


'huh syukurlah' gumamnya yang masih kudengar, memangnya ada apa?.


"Rai masih dengar mas, apanya yang syukur? huh?"


"eh itu, enggak ada sayang.. maksud mas emh gini..."


ucapnya terhenti


"gimana? hm mas jangan bohong terus dong, gak capek apa?"


"siapa yang bohong? giniloh yank, uangnya sudah terpakai kemarin mas belikin sepatu roda sama skuter buat anak-anak"


"benar cuma itu alasannya? ga ada yang disembunyikan lagi?" selidikku sambil menunjuk mas Bram


Tak ada sahutan dari mas Bram aku memilih untuk pergi ke kamar karena untuk pura-pura tidak tahu apa-apa lebih baik daripada tahu tapi sakit.


Keesokan harinya, mas Bram kembali berubah dalam hati kecilku bertanya-tanya sebenarnya ada apa? dan kenapa? tapi apalah daya, bagiku memilih diam lah yang tepat saat ini daripada memperkeruh suasana.


Mas Bram kembali pulang malam hari padahal kerjaannya tak begitu menguras waktu.


ceklek


"mas, baru pulang?" tanyaku dengan suara berat khas bangun tidur


Mas Bram tersenyum hambar "iya tadi jumpain teman dulu"


Sementara aku? hanya ber oh ria.. hal itu membuat mas Bram memasang wajah herannya, ya kali ini aku harus berubah. Mengalah bukan berarti kalah, diam bukan berarti bisu.


Aku keluar kamar mengambilkan segelas teh hangat untuknya , lalu saat berhadapan dengannya aku merasakan ada yang aneh, tapi dimana?


Ya, parfum! seperti bukan parfum yang biasa dia ataupun aku pakai apalagi anak-anak kami. lalu parfum siapa itu? ingin bertanya namun takut mengundang kemarahan.


"di minum dulu mas" ucapku


"iya sayang" katanya.


Lalu aku pergi ke meja rias, mendekati bagian parfum yang sudah tertata rapi.


"ada apa?" tanya nya yang ternyata sedang memperhatikan aku.


"parfum mas wanginya enak, baru ya? bagi dong..." sindirku sambil membuka dan menciumi satu persatu botol parfum itu.


Mas Bram mendekat ke arahku, dan berjongkok dihadapan ku yang sedang main dengan parfum.


"sayang, ini bukan punya mas, tapi punya teman dikantor tadi, mas itu anu itu emh iya mas nyicip dikit soalnya wangi. iya wangikan? nanti kita beli yuk"


"itu anu itu emh maksudnya gimana sih mas? kenapa ngomong aja kaya ngeja gitu?" sambil kucipitkan mataku.

__ADS_1


"ah itu sayang, mas kepikiran sama nama parfumnya apa, iya benar sayang" jawabnya dan aku kembali ber oh ria.


Lalu tanpa melanjutkan kalimat lagi, aku naik ke atas kasur dan kembali tidur.


"sayang kamu baik-baik saja kan Rai?" tanyanya sambil melihat aku yang sudah tertutupi selimut.


Aku mengangguk "of course"


"kamu sakit?" tanya nya lagi.


Aku tersenyum "diam bukan berarti bisu, jangan bangunkan singa tidur" sahutku membuat mas Bram diam tanpa kata.


'mas aku memang diam, namun aku tak bodoh. mungkin selama ini aku bisa dibodoh-bodohi tapi maaf Raina dulu beda dengan Raina yang sekarang ' batinku sambil melirik sekilas mas Bram.


*****


Hari yang ditunggu pun datang, Abel dan Dion akan menikah. Walaupun ini merupakan pernikahan kedua mereka namun keduanya pun merasa bahagia melupakan apa yang pernah terjadi di masa lalu.


Aku dan Vira sudah kompak mengenakan seragam berwarna hijau mint, sementara kedua anakku sedang aku titipkan kepada ayah dan ibu dirumah.


Namun yang menjadi Bridesmaids bukanlah kami melainkan kedua anak mereka yaitu Tania dan Angel.


"cantik-cantik ya" ucap Vira melihat kedua anak sahabat kami itu


"iya, lihat deh pengantinnya kaya baru pertama kali aja hahhaha" ledekku


"iya ya benar juga loe bilang, ga ingat umur tuh aki-aki sama nyai-nyai " sahut Vira .


"eh Vir memangnya gak apa-apa si kembar loe tinggal?"


"santai, dirumah banyak yang jaga"


Lalu, acara di mulai dan ijab Qabul pun terlaksana hingga beberapa saat kemudian kami semua berteriak


"SAAHHHHH, ALHAMDULILLAH"


Dion menatapku sambil tersenyum, tatapan itu? apa maksudnya? sungguh aku bukan cenayang.


Aku dan Vira berjalan mendekati keduanya


Aku memeluk Abel "aaaaaa cuyung gueeee, selamat!!! akhirnya loe akan bahagia seutuhnya"


"makasih banyak, dan gue harap loe suatu saat bakal ngerasain yang sama" ucap Abel membuat hatiku sedikit tersentak.


Aku melepaskan pelukannya, kini aku berhadapan dengan Dion "selamat Dion, loe orang baik dan loe pantas dapatkan yang baik. tolong jagain sahabat gue, tolong jangan pernah sakitin dia"


"Raina, hei Rai... lihat aku.. sampai kapanpun aku tak akan menyakiti sahabatmu , dan ini janjiku. tapi berjanjilah untuk selalu bahagia dimulai dari sekarang" ucapnya dan aku mengangguk.


...... -------......


**hai kakak-kakak, sepi banget deh kayanya, tetap stay dong karena ini menjelang end alias episode episode terakhir. seriuuuuuusss😭


jadi tetap like komen vote dan favoritenya ya, biar author semangat lagi. pasti pada bosan kan ya lihat Raina kalem Bae? oke, kita buat dia bijak mulai sekarang ☺️☺️☺️☺️


salam cinta, author♥️**

__ADS_1


__ADS_2