KAU MENDUA

KAU MENDUA
Bab 11


__ADS_3

Tanpa basa-basi mas Bram bersujud depan kaki ayahku, hmm ya seperti di tv-tv itu kurasa sekarang.


"papa, kumohon... maafkan aku.. aku bisa menjelaskannya."


aku tahu ayahku tak akan tega melihatnya, hingga akhirnya ia dipersilahkan masuk oleh ayahku.


dengan sigap aku langsung bersembunyi agar ia tak dapat melihatku saat ini.


Saat aku sudah berada di tempat persembunyian ku tiba-tiba ada yang memanggilku "Raina sayang, keluarlah" pinta ayahku seperti memanggil maling yang sudah ketahuan, huh kesal banget gak sih?.


Aku tetap kekeuh tidak mau keluar, enak saja ayahku ini membuatku malu depan dia, iya dia... suamiku yang tukang selingkuh itu, eh astaghfirullah.


"Raina, papa tau kamu disini, ayo nak keluarlah.. masalah itu dihadapin, bukan dihindarin." nasehat ayah.


Akupun keluar dengan wajah datarku padahal dalam hati aku sudah malu sekali sekarang, dan aku duduk disebelah ayahku tentunya sambil menghadap tembok, sesekali aku juga memainkan ponselku agar menjadi alasan untuk tidak melihatnya.


"Rai" panggil mas Bram.


"hmm" singkatku.


"nak, gak boleh kaya gitu" tegur ayah.


"apasih yah, anak ayah itu Raina atau dia?" sahutku.


"dengarkan dulu penjelasan nya, dan kau Bram langsung saja ceritakan kejadian sebenarnya." ucap ayahku.


"ehemmm, begini pa.... rai.. kejadian sebenarnya gak seperti yang kamu lihat Rai.. " ucapnya sambil berdehem.


"jadi, namanya adalah Dinda, jujur dia itu memang mantan aku tapi sungguh sejak kami putus kami tidak pernah berhubungan lagi, bahkan nomernya saja aku tidak punya." lanjutnya lagi.


"terus kenapa gak pulang-pulang ? huh? mau alasan apalagi?" potongku.


"hmm.. itu.. anu..." jawab nya gelagapan


"ah sudahlah.." potongku lagi sambil berdiri dan berniat untuk pergi, tapi tanganku dicekal oleh ayahku. seperti nya ayah memang sudah tidak menyayangiku lagi fikirku.


"nak duduklah" ucap ayahku.


"hayolah pah, semua sudah jelas. kalau tukang selingkuh itu ya pastinya gak bakal berubah, iyakan bhambang?" sindirku sambil menegaskan panggilan bhambang itu.


mas Bram hanya menggelengkan kepalanya, lalu ia menceritakan semuanya sedetail mungkin.


Bram POV.


Kini didepan ku sudah ada Dinda, salah satu mantanku. eh tunggu, emang mantanku ada berapa? hmm lupakanlah.


Kami berbincang panjang lebar sampai akhirnya aku melupakan anak dan istriku yang berada di sampingku.


Aku tersadar dengan hal itu, dan aku berniat untuk memperkenalkannya..


"oh iya Din, kenalin... ini is---------" ucapku terpotong karena tak melihat siapa-siapa di sebelahku.


"kemana mereka???" gumamku.

__ADS_1


Dinda terkekeh mendengarnya, "hahahha sorry sorry Bram gue kelepasan"


"ohiya gue lupa bilang sama loe tadi dia pergi ke arah sana" sambil nunjuk arahnya


"eh tapi kok ga ada ya" ucapnya lagi.


"astaga pasti salah sangka" sahutku sambil menepuk jidatku.


"ah yasudah mari kita cari bersama, sekalian gue mau kenalan dengan istri loe" tawarnya.


dan aku mengiyakan ajakannya tanpa tahu apa yang akan menjadi akibatnya. Sudah hampir dua jam kami berkeliling di mall ini namun hasilnya nihil.


Perutku tak karuan demo didalam dan akhirnya aku mengajaknya makan dan saling bertukar nomor ponsel, bagiku itu tidak masalah bukan? toh juga cuma tukar nomor hape, pikirku.


Setelah itu aku bingung mau pulang kerumah mertua atau entahlah kemana, bisa jadi kerumah kakakku karena jujur aku sudah malu sekali ketempat mertuaku dalam keadaan seperti ini.


Aku memutuskan untuk tinggal dirumah kakakku sampai suasana mereda.


RAINA POV


"jadi begitu ceritanya Rai" katanya.


"oh" singkatku.


"lalu???" tanyanya lagi


"lalu apa? pergi sana! aku tak ingin melihat muka mas Bram lagi" ketusku.


"tidak! menantu papa ini ular. papa tahu?? ular pa!!!"


----loh heh, gimana gimana Rai?? ular?? kok mau sama ular??? hmmm-----( author )


"aku harus bagaimana Rai agar kau memaafkan aku??" tanya Bram kembali.


Sebenarnya aku sudah memaafkan nya tapi gengsi dooong yakan, akhirnya muncullah niat jahilku untuknya


"aku memaafkanmu tapi sampai aku melahirkan mas tidak boleh menyentuh ku sedikitpun, gimana?" ucapku.


"deal!" jawabnya.


hah? deal katanya? dasar ular! kenapa gak minta pisah saja sih? aku muak mas, aku muak .. alasanmu banyak sekali arghhhhhhhh.


***


Hari berlalu, seperti biasa tiap pagi aku selalu berkeliling halamanku untuk melatih agar persalinanku normal.


Setelah aku berjalan tujuh kali putaran aku masuk kerumah, dan kurebahkan kakiku. entah kenapa tiba-tiba aku ingin sekali minum jus sawi campur nanas, akhirnya aku membuatnya.


lalu tiba-tiba perutku mulas sekali, sepertinya ini kontraksi palsu, ku tahan sakit ini sampai akhirnya aku sudah tidak kuat lagi, sore harinya aku ke bidan dan katanya sudah bukaan 1. betapa kagetnya aku jika pada akhirnya aku akan melahirkan hari ini juga .


Pembukaan hampir lengkap, tiba-tiba saja dokter menginginkan untuk USG sekali lagi, dan aku pun menyetujuinya.


Saat di USG, hatiku berdetak...

__ADS_1


degggg


ada apa ini?


kenapa wajah dokternya tiba-tiba menjadi datar seperti aspal?


"ada apa dok?" tanyaku.


"hmm begini Bu, ada sedikit masalah.. Dede bayinya malah bermain di sana, kepalanya berada disamping, jika dia tidak kembali juga posisinya maka kita harus melakukan operasi caesar, bagaimana Bu?" ucap dokter tersebut..


sakit banget rasanya, bukannya aku takut dioperasi tapi aku saat ini memikirkan biayanya.


bagaimana ini???


nak, bantu mama ya... tolong mama sayang... batinku meringis sambil mengelus perutku.


Diluar ruangan terlihat ibu mertuaku tak berhenti mendoakan ku, aku tersentuh melihatnya. ia sangat menyayangiku..


Lagi-lagi keberuntungan ada padaku, karena dokter itu mengajakku untuk USG sekali lagi dan ini terakhir karena aku sudah tidak tahan dengan kontraksi ini.


Ini adalah harapanku satu-satunya, jika tidak kembali ke posisi semula maka aku akan pasrah dengan takdirku, jujur saja aku berharap penuh dengan hasil USG ini.


dan.......


"selamat Bu, bayinya sudah keposisi semula" ucap riang dokternya.


*nikmat tuhanmu manakah yang kamu dustakan???*


aku percaya dengan kuasa Allah, aku tahu jika Allah bilang Kun fa ya Kun, maka akan terjadilah.


Tak lama kemudian, aku berada dititik juangku, dan....


*oooeeeekkkkk


oooeeeekkkkk*


Alhamdulillah, telah lahir anak kedua kami berjenis kelamin laki-laki.. Ohiya aku lupa bilang kalau aku melahirkan tadi ditemani dengan dia , eh maksudku mas Bram suamiku itu.


Kami Memberikannya nama "Farhan Aditya".


***


Satu tahun kemudian,


kami memutuskan untuk mengontrak rumah yang jaraknya tidak begitu jauh dengan rumah orangtuaku.


Walaupun rumahnya kecil setidaknya kami mandiri, tidak melulu bergantung dengan orangtua.


Hubungan ku dan mas Bram pun semakin membaik, karena belum ada tanda-tanda negatif dari mas Bram.


eh Raina, maksudnya apa dengan kalimat tadi? belum ada tanda-tanda? gimana sih, harusnya bilangnya tidak ada dan semoga selamanya tidak ada. hufh salah ngomong jadinya, maaf deh.


-kok author jadi kesel sendiri ya wkwkwk-

__ADS_1


__ADS_2