KAU MENDUA

KAU MENDUA
Bab 41


__ADS_3

Setelah liburan akhirnya kami kembali kerumah, kini semua sudah masuk ke rutinitas biasanya.


Pagi ini aku membuat burger untuk sarapan kami , aku juga membuat susu untuk kedua anakku , secangkir kopi untuk mas Bram dan teh hangat untukku.


Mereka sangat menikmati makanannya, terutama kedua anakku yang memang sangat menyukai burger.


"hmmm enak, ada lagi gak mah?" tanya Farhan


aku tersenyum "ada tuh di dapur"


"adek bawa ke sekolah ya?" tanya Farhan sambil tersenyum lebar


"eh jangan senang dulu, kakak juga mau bawa " sahut Ara


"no kakak! itu untuk Farhan"


"no Farhan, itu punya kakak"


"ngalah Napa sih sama adeknya"


"eh situ aja yang ngalah sama gue"


Mendengar pertengkaran itu mas Bram langsung bertepuk tangan, seketika kedua anakku langsung diam dan menundukkan kepala.


"sudah siap debatnya?" tanya mas Bram sambil melihat mereka satu persatu namun tak ada yang menjawabnya.


"Farhan, Ara... lihat mama" pintaku kemudian keduanya melihatku


"kakak beradik itu tak boleh saling berdebat, kalian harus saling menyayangi. anak mama cuma dua dan itu hanya kalian. jika kalian tak saling mengalah begini bagaimana nasib kalian jika mama dan papa sudah tidak ada? Hem?" tanyaku lembut untuk menyadarkan mereka.


"mama jangan ngomong begitu, maafin Ara" sambil memelukku


Aku melepaskan pelukannya " sekarang kalian mau berdamai atau tidak?"


Keduanya mengangguk lalu saling berpelukan dan juga saling memaafkan.


"mama masih punya empat burger, nanti mama bekalin burger masing-masing dua biji, gimana? cukup? kalau tidak biar mama buat lagi, Hem?"


"cukup kok ma, asiiiikkkk" celetuk Farhan


"terimakasih mama"


"sama-sama sayang.


Aku kembali teringat dengan pertengkaran kedua anakku, perdebatan yang sederhana namun dilakukan dengan sesering mungkin.


Terlintas dibenakku saat aku dan mas Bram berantam, aku jadi merasa bersalah pada kedua anakku. 'apa mereka seperti ini karena melihat kami bertengkar?' ah pertanyaan itu selalu membayangiku.


Ingin rasanya aku bertanya pada mereka hal apa yang membuat mereka akan bahagia? ya, itu pertanyaan yang ingin aku tanya namun lidahku mendadak kaku.


"sayang" ucap mas Bram


Aku menoleh "eh hai, sudah pulang? kok gak ucap salam dulu?"


"sudah tapi kamu cuekin makanya mas samperin eh rupanya lagi melamun"

__ADS_1


"oh hehehe maaf" sambil nyengir


"kamu kenapa?" tanya mas Bram


"Rai cuma kepikiran anak-anak "


Mas Bram mengerutkan alisnya "apa mereka melakukan kesalahan?"


"tidak mas, Rai hanya kepikiran dengan pertengkaran mereka. Rai jadi merasa bersalah karena sebelumnya mereka jarang bertengkar namun sekarang? mereka bagaikan Tom and Jerry"


"kenapa kamu merasa bersalah?"


Kini giliran aku yang mengerutkan alisku.. apa maksudnya? kenapa dia gak merasa bersalah sedikitpun? dasar tidak peka.


"hei kenapa diam aja?" tanyanya lagi saat melihat aku hanya terdiam


"mas tau gak kalau anak-anak sering melihat kita berantam?"


Mas Bram yang mendengarnya langsung melihatku dengan kagetnya, ah masa iya dia tidak tahu?.


"serius yank?" tanya nya dengan wajah yang masih sama.


Aku mengangguk "Rai takut kalau apa yang mereka lihat akan di praktekinya di luaran sana, Rai gak mau anak-anak jadi nakal mas"


Mas Bram langsung memelukku " maafin mas, semua ini karena mas . maafin mas"


Aku hanya bisa diam, ingin bilang tidak kalau itu bukan salahnya tapi memang kenyataannya dia lah yang bersalah. ingin bilang aku sudah memaafkan tapi tak munafik jika jauh di lubuk hatiku yang paling dasar itu masih merasakan sakit bahkan masih ingat semua yang terjadi di masalalu.


Suasana menjadi hening, sampai akhirnya aku melepaskan pelukannya.


"kenapa? Hem?" tanya nya heran


"selama menjadi istri mas apa Rai pernah lalai dalam tugas Rai?"


Mas Bram langsung menggeleng "tidak, bahkan kamu selalu memberikan lebih dari cukup"


"oh begitu, terus apa Rai pernah melakukan kesalahan ?"


"tidak, kalaupun ia itu masih hal yang wajar karena manusia tidak ada yang sempurna"


(tumben lu bijak Bram, arggghh gedek author)


"lalu salah Rai dimana mas?"


deggg!


"sa---salah? salah apa?" tanyanya gelagapan.


Aku mengangguk "iya salah Rai dimana sampai akhirnya suami yang Rai percaya itu dengan mudahnya mengobralkan cintanya kepada wanita diluar sana?"


Mas Bram tertunduk


"jawab mas, biar Rai tahu salah Rai apa, dan Rai akan mengubahnya"


"sayang , kamu gak salah. mas terlalu mengikuti nafsu. mas hanya ingin bermain-main dengan mereka, mas gak ada niatan untuk serius dengan mereka" sambil membuang nafasnya dengan kasar.

__ADS_1


Aku langsung mengubah posisiku, apa katanya tadi? main-main? memangnya ini taman kanak-kanak?


"berani sekali mas bermain-main dengan pernikahan"


"maaf sayang, tapi mereka yang menggoda mas"


"dan mas tergoda? ingat mas , tamu gak akan pernah bisa masuk jika tuan rumah tak membukanya. Rumput tetangga memang lebih hijau, tapi rawatlah rumput sendiri jika memang ingin lebih baik lagi." ujarku lalu aku pergi meninggalkan mas Bram yang masih terdiam.


"Rai, dengarin mas dulu" teriaknya yang mencoba menghentikan langkahku.


Aku menoleh "maaf mas, lupakan saja yang tadi. Rai mau buat kopi mas dulu sekalian mau masak, bentar lagi anak-anak pulang sekolah"


Benar saja, tak lama kemudian kedua anakku pulang sekolah.


ceklek


"assalamu'alaikum" ucap mereka diambang pintu


Aku dan mas Bram menoleh "waalaikumsalam"


Aku kaget melihat keadaan mereka, aku langsung menghampiri nya "ya ampun sayang, kalian kenapa bajunya basah begini?"


"maafin kami ma" ucap Ara


Aku melihat Ara yang tertunduk lesu


"semua itu karena kakak" ucap Ara


"bukan ma, ini semua karena Farhan" sahut Farhan.


Mas Bram menghampiri kami lalu menyuruh mereka untuk mandi terlebih dahulu.


Beberapa menit kemudian kedua anak kami keluar dari kamar dan bergabung bersama kami di meja makan, setelah makan mereka ingin masuk kamar namun aku menahannya.


"sekarang ceritakan sama mama apa yang terjadi" tegasku.


"sebenarnya ini salah Farhan ma.."


"gak dek, salah kakak" bantah Ara


"ayo Farhan lanjutin, dan Ara diam dulu, mama belum mengizinkan kamu untuk berbicara, ngerti?"


"iya ma"


"jadi ceritanya itu Farhan diejek sama kawan Farhan, terus kakak meluk Farhan saat Farhan mau disiram kawan Farhan"


Aku mengerutkan alisku "memangnya Farhan diejek gimana nak?"


"masa kata mereka papa Farhan tukang selingkuh, kan gak benar yakan ma? Farhan kesal sama mereka, makanya Farhan siram pakai air paret biar tahu rasa mereka" ujar Farhan


Deg!


Aku langsung menatap mas Bram dengan tatapan tajam, sedangkan yang ditatap terlihat seperti ingin menyumpahi dirinya sendiri.


"terus?"

__ADS_1


"iya terus mereka balas ma, tapi pas mereka mau balas itu tiba-tiba kakak datang dan meluk Farhan, terakhir jadi basah berdua deh"


Aku langsung nangis dan tangisan itu membuat kedua anakku semakin merasa bersalah padahal mereka hanyalah korban. tubuhku tiba-tiba lemas dan akhirnya aku digendong mas Bram ke kamar kami.


__ADS_2