
Aku menyiapkan makanan kesukaan anak-anak, mereka sangat menyukai cumi-cumi, akhirnya aku membuat sambal cumi-cumi dan tumis kangkung kesukaan ayahnya.
"hmmmm wangiiii" teriak Ara menghampiriku ke dapur.
"eh kakak, sudah bangun nak?" tanyaku sambil mengelus kepalanya.
"sudah mamah, masakan mama wangi sekali, Ara suka... mamah masak apa?" sambil mengintip kuali
"mama masak sambal cumi-cumi" kataku sambil tersenyum
"benarkah?" terlihat jelas matanya sudah berbinar, aku langsung mengangguk dan dia mengambil tempat di meja makan.
"kakaaak, kenapa sudah di meja makan?"
"Ara sudah tidak sabar mama, perut Ara lapar sekali " rengek nya.
"iya sayang, sebentar lagi kita makan. tapi sebaiknya Ara panggil Farhan dan papa dulu ya" pintaku
"siap mama"
Tak lama kemudian semuanya sudah berada di meja makan, dan tak ada suara disana semuanya hening menikmati makanan mereka.
Setelah makan, kami mengantarkan Ara untuk lomba MTQ , Air mataku kembali menetes mengingat diriku yang tak ada apa-apanya dibandingkan dengan anakku yang kini memakai baju syar'i dan siap untuk mengikuti lomba.
"mama kenapa nangis?" tanya Ara menghampiriku
Aku menggelengkan kepala ternyata Ara memperhatikanku. "mama tidak nangis" sahutku
"mama bohong, itu air matanya keluar" kata Ara
"sayang, ini air mata kebahagiaan. Mama bangga sekali padamu, semangat nak ya, kamu anak hebat sayang" ucapku
"doain Ara ya ma,"
"selalu nak"
Tak lama kemudian, MC memanggil namanya dan ia melantunkan ayat suci Al-Qur'an dengan sangat merdu , aku beruntung sekali memilikinya dan aku sangat berharap kelak ia lah yang menolongku di akhirat.
****
Dua hari kemudian,
Kami sudah berada di lokasi tersebut, tentunya untuk mendengarkan pengumuman juara MTQ tersebut.
Dag Dig dug rasanya, tapi aku tahu yang paling degdegan adalah anakku sendiri. Ditambah lagi Nama Ara belum juga dipanggil sebagai pemenang padahal ini sudah masuk ke juara 2, tinggal lah juara pertama yang diumumkan.
"maaf ya mah, pah, Ara gak berhasil" Isak nya.
"siapa bilang? kamu tetap juara di sini" ucapku sambil menunjuk hatiku.
beberapa menit kemudian..
"baiklah juara pertama pada perlombaan Musabaqoh Tilawatil Qur'an adalaaaah........ selamat, kepada adinda Farasya Aflah, mari berikan tepuk tangan" kata MC tersebut.
__ADS_1
aku memeluk anakku, dan memberikannya semangat, setelah itu ia maju kedepan meraih pialanya.
Entah sudah berapa lama ia tidak mau mengikuti lba MTQ lagi semenjak dulu ia pernah sakit di satu hari sebelum ia lomba padahal ia sudah berlatih dengan keras selama beberapa hari. Lalu gurunya menggantikannya dan sejak saat itu ia marah juga kecewa pada gurunya.
"mama bangga padamu nak" ucapku dalam hati.
****
Beberapa hari kemudian suamiku mengajak kami kerumah ibunya, wajar saja ia merindukan ibunya, karena kami sudah lama sekali tidak mengunjunginya.
📲 Dion
Rai, are you okay?
Tiba-tiba saja pesan itu masuk ke ponselku, tumben sekali bukan?
📱 me
yes, i'm okay.
Lalu tidak ada balasan lagi, sebenarnya ada tanda tanya besar dibenakku, ada apa ini? aku bahkan sempat negatif thinking pada suamiku, bisa aja Dion melihatnya selingkuh lagi, tapi aku tepis kan jauh-jauh demi anakku.
Kami sudah bersiap untuk pergi, tapi suamiku belum juga pulang yang entah dari mana.
Ara menghampiriku "Mama, papa lama lagi ya?"
Aku menggeleng dengan cepat "tidak sayang, mungkin sebentar lagi. kenapa? sudah ngantuk ya?"
"enggak mah, hoaaamm" ucap Ara
"ya sudah kalian tidur saja dulu nanti kalau papa pulang mama bangunin, okay?" kataku
"siap, laksanakan" jawab mereka serempak.
Beberapa jam kemudian, mas Bram pulang entah darimana dan aku malas bertanya.
"kemana anak-anak?" tanya nya melihat rumah sepi
"pada tidur, papanya kelamaan katanya" ucapku
Sejak kejadian kemarin kami memang tidur bersama saling membelakangi dan aku masih cuekin suamiku, wajar bukan? karena sakit hati ini masih membekas pakai banget.
"maaf tapi tadi mas ada urusan" jawabnya.
"siapa yang mau mas bohongin? dan lagi, aku sedang tidak bertanya, sorry" ucapku.
Tak lama kemudian anak-anak terbangun dari tidurnya dan kami berangkat ke rumah nenek mereka .
"assalamu'alaikum" teriak anak-anakku.
ceklekkk
"waalaikumsalam , cucu neneeek" sambil memeluk kedua anakku.
__ADS_1
"ibu apa kabar?" tanyaku sambil mencium punggung tangannya.
"Alhamdulillah sayang, ayo masuk" ucap ibu mertuaku.
nenek dan cucunya pun bermain bersama sementara aku sedang membuat teh untuk kami sendiri.
"ekhemmm" ucapku sambil meletakkan teh di meja, yang di dehemin langsung salah tingkah.
bagaimana tidak? aku sedang melihatnya bermain ponsel sambil senyum gak jelas, menyebalkan bukan?
"chat an dengan siapa mas?" tanyaku
"oh ini, anu, itu----" ucapnya gelagapan yang langsung aku potong
"ck! lupakan lah, ini minum" sambil pergi meninggalkannya.
Jujur saja sakit pasti hati ini, tapi apa daya? tak mungkin aku bertanya lebih saat ini, karena ini sedang berada dirumah mertuaku.
Tanpa rasa bersalahnya, setelah aku bergabung dengan anak juga mertuaku mas Bram kembali bermain dengan ponselnya.
"ada apa nak?" tanya mertuaku
"tidak apa Bu" ucapku sambil tersenyum
Lalu mertuaku beralih melihat anaknya "Bram apa kau masih sibuk dengan ponselmu itu?"
Mas Bram mendatangi ibunya "tentu saja tidak Bu, ibu mau aku pijit?"
"dasar buayaaa" kata hatiku.
"Bram kau ini sudah ber istri, apa seperti ini caramu menghargai istrimu?" ucap ibu mertuaku yang sedang dipijit anaknya.
"memangnya aku kenapa Bu?" tanyanya heran
"sini ibu bilangin, jika kau mencintai istrimu karena kecantikan wajahnya maka cintamu semakin lama pasti akan semakin pudar, karena pada dasarnya manusia semakin lama akan semakin tua dan semakin jelek. Cintailah kecantikan istrimu dari hatinya, maka cintamu akan bertambah nak. Istrimu sudah sangat capek mengurusi anak-anakmu, jangan kau balas dengan cara menyakiti hatinya. ibu Fikir kau ini sudah dewasa pasti kau paham maksud ibu apa" nasehat Ibunya.
Aku dan mas Bram diam membisu.
"ibu masak apa?" tanyaku memecahkan keheningan
"ada karabu belut, ayo makan sekarang, kau pasti sangat menyukainya" sambil menggandeng tanganku
"ah benarkah ibu? baiklah biar kita sediakan" ucapku.
Karabu belut adalah masakan khas dari daerah Sumatera Barat. Tak semua orang tahu karena masakan ini sudah sangat langka. namun menurutku makanan ini sangatlah lezat.
(seperti itu kira-kira bentuknya, aaaaah author jadi pengen)
Aku memakannya dengan lahap, begitu juga dengan anak dan pastinya suamiku.
Ibu Mertua cekikikan melihat lauknya habis tak bersisa.
__ADS_1
"ibu, maafkan kami, kami khilaf" ucap ku tak enak.
"hahahaha tak apa nak, ibu senang masakan ibu habis, kalian sangat menyukainya ibu sengaja memasakkan itu untuk kalian" sahut ibu mertuaku.