
drrrddd dddtrrrddd
aku membuka ponselku, ternyata ada masuk video call dari grup rempong dan aku langsung mengangkatnya .
videocall on
π Raina
hai gaeees
π Abel
widiiiiih ceria banget nih pengantin baru
π *Vira
pengantin baru stok lama hahahha
π Raina
sebel deh gue, Dion help me
π Dion
no comment, aku lagi pahat
π Abel
apaan tuh?
π Dion
patah hati, puas kalian
π Vira
o ow!! gue gak ikutan ya
π Raina
ih apaansih, jadi ada perlu apa nih mbak dan mas nya nelpon princes?
π Abel
ngumpul yuk
π Raina
eum gue izin mas Bram dulu ya
πVira
gaya loe, idih gak penting amat
π Abel
entah tu
π Dion
lebay tau gak
π Raina
iri bilang bos hahahha, udah ya guys, princess mau beberess dulu*
videocall off
Aku langsung membereskan rumah terutama kamarku karena bagiku sejorok apapun rumah yang penting kamar harus bersih.
****
Malam hari ditemani dengan secangkir kopi susu dingin menyempurnakan indahnya malamku saat melihat bintang-bintang yang indah. Ada doa yang kupanjatkan dalam hati, seperti bintang ku ingin rumah tangga ini terus indah dan menyinari sampai akhir hidupku.
Tiba-tiba lamunanku buyar karena melihat kedatangan mas Bram dari arah kamar anak-anak.
"Rai..." panggil mas Bram
"eh , iya mas .. anak-anak udah pada tidur mas?"
"sudah, malahan si kakak gak mau lepas dari mas"
"terus kenapa mas lepasin? entar kalau Ara sadar dia bakalan marah loh mas"
__ADS_1
"karena mas rindu sama ibunya" bisiknya sambil memelukku dari belakang sementara aku sedang duduk di kursi.
"masa iya? wleeee" ucapku sambil pergi ke arah dapur.
"loh kok malah pergi?"
"mau buatin mas kopi, tunggu sebentar ya" sambil kukedipkan mataku padanya.
lima menit kemudian,
"ini mas"
"makasih sayang" dan ku balas dengan senyuman.
"mas, anu... Rai boleh gak besok pergi bareng teman-teman?"
"terus anak-anak gimana?"
"Rai sudah minta tolong sama papa, boleh ya mas"
"hmm iya boleh"
"makasih sayang"
cuppp
"kok yang ini aja?" tanyanya sambil memegang bekas pipinya tadi .
"hah?" tanyaku heran
"iya, yang ini belum? nah ini juga, ini lagi, sama yang ini nih" ucap nya dengan menunjuk setiap bagian di pipinya .
baiklah,
cup
cup
cup
cup
******
Setelah sarapan dan mas Bram sudah berangkat, aku mengantar anak-anak kesekolah nya .
"ingat ya, jangan nakal. nanti kalian dijemput sama opa, jangan mau diajak orang asing untuk ikut bersamanya sebelum opa datang, fahimtum?"
"fahimna" ucap mereka.
Setelah itu aku pergi kerumah ayahku, sesampai disana aku melihat papa sedang merapikan bunganya. Benar sekali, ayahku sangat menyukai dan merawat bunga sejak ia pensiun dari kerjanya. bukan hanya bunga, tapi beliau juga suka membuat vas bunga sesuai dengan kreatifitasnya, seperti dari biji salak terus juga ada pipa, dan banyak lagi lainnya .
"assalamu'alaikum" ucapku sambil mencium punggung tangan ayahku.
"waalaikumussalam" sahut ayahku.
"ada apa nak?"
"memangnya Rai ga boleh kesini ya? ini bukan rumah Rai lagi ya" ucapku sambil cemberut.
"isss gak cocok merajuk gitu" sahut ayahku
"papa mah ga asik, oh iya mama mana?"
"ada di dalam lagi masak, kayanya mama masak masakan kesukaan kamu deh"
"benarkah? wahhh.... mamaaaaa!!!!" ucapku sambil berlari ke arah dapur
"dasar anak nakal, sudah punya anak masih aja kaya anak-anak" gumam ayahku.
Sementara di dapur aku melihat ibuku sedang asik memasak, mungkin teriakan aku saat didepan tadi tak terdengar oleh ibuku makanya saat ini kehadiranku pun tak terlihat lagi.
Aku memeluk ibuku perlahan, dan ibuku sudah bersiap-siap untuk memukul orang yang sudah berani memeluknya, tapi sebelum itu terjadi aku sudah lebih dulu memberitahukan bahwa aku lah yang sedang memeluknya.
"Rai kangen" lirihku
"eh ayam copot" latah ibuku
"dasar yaa... anak nakal!!!!" sambil menarik telingaku
"aduh duh..... aw!! sakit ma, ampuuun" rengekku
"idih sudah punya anak masih merengek, malu tuh sama cicak" ledek ibuku
__ADS_1
"sama cicak apa sama ayam yang copot?" ledekku balik
"ih auk ah" sahut ibuku.
Beberapa menit kemudian makanan telah Mateng Dan sudah disajikan, aku dan kedua adikku sudah berada di meja makan, sementara kedua orang tuaku baru saja bergabung dan kami makan siang bersama.
"tumben kamu kesini Rai? ada apa?" tanya ayahku
"hehehe Rai mau pergi bareng grup rempong"
"terus?" potong ibuku
"mama mah, Rai belum selesai ngomong ih"
"sudah, sudah. ayo di lanjut lagi Rai" ucap ayahku
"nitip anak-anak hehehehhehe" sambil menggaruk tengkuk yang gak gatal.
"siap tuan putri" sahut ayahku
"beneran pa?"
"iya, pergi lah nak, kamu juga butuh waktu untuk bahagia"
****
Saat ini aku sudah bersama grup rempong di sebuah cafe outdoor. Tempat ini sangat sejuk dan tenang, sudah sangat lama aku ingin mengajak anak-anak untuk makan disini tapi ya apa boleh buat? daripada bisa makan tapi ga bisa bayar, kan gawat ya.
"udah lama ya kita gak ngumpul gini" celetuk Abel
"iya ya bel, seingat gue terakhir kali ya pas kita belum punya anak" sahut Vira
"iya dan gue belum nikah, puas lu pada" ucapku
"idih, ada yang baper" ledek Abel
"Dion lu jangan diam aja nanti kesambet cinderbolong"
"kok cinderbolong?"
"ya karena sekarang siang bolong" dan disahuti ketawa oleh kami semua.
"kok gue terus sih yang kena"
"sabar ya, lu memang harus di ospek sampai waktu yang gak ditentukan"
"kok gitu?"
"suka suka gue" sahut kami bertiga
"dih kompak bener kaya perangko"
Tak lama kemudian makanan pun datang, betapa kagetnya aku karena banyaknya menu yang datang dan itu membuatku enggan untuk makan. pasalnya makanannya selain enak juga mahal, ya benar kata orang ada harga ada kualitas.
"di makan Rai jangan di ratapin, kaya nasib aku aja di ratapin" celetuk Dion
"ciyee curcol pak" sahut Abel
"tunggu-tunggu, makanan sebanyak ini kok----- emmh maksudku memangnya siapa yang ulang tahun?" tanyaku dengan memperhalus bahasa.
"aku!" sahut Dion cepat
"loe bukannya masih lama ya?" tanyaku keceplosan .
"maksudku aku yang bayar, sudah lah di makan aja, soal biaya serahkan sama babang ya dek" jawab Dion
"dengan senang hati bang" sahut kami bertiga.
****
Sore harinya aku pulang kerumah ayahku untuk menjemput anak-anak, sesampai disana aku melihat pemandangan yang mengharukan .
bagaimana tidak? kedua adik kakak itu tidur sambil pelukan padahal jika mereka sedang bangun mereka bagaikan Tom and Jerry.
"teruslah begini anak-anakku" batinku.
... -----------------------...
***semoga suka ya dengan ceritanya,
jangan lupa loh untuk like, komen, vote dan favoritenya karena dukungan kalian sangat membantu untuk menambah semangat nya authorππ€
salam cinta, authorβ₯οΈ***
__ADS_1