
Aku bahagia sekali walaupun hidup dengan kesederhanaan tapi keluarga kecilku ini bahagia, melihat mereka tersenyum saja sudah menjadi obat lelahku.
Malam harinya Tiba-tiba aku ingin ke kamar mandi, tapi aku takut sekali untuk keluar kamar, karena konon katanya dirumah ini ada makhluk yang tidak nampak.
Ya aku tau itu benar adanya, disetiap rumah pasti ada tapi sungguh yang di rumahku ini sangatlah jahil, ia suka sekali menampakkan dirinya didepan anakku karena memang mereka bisa melihatnya, berbeda denganku yang hanya merasakan saja tapi sudah ketakutan.
Akhirnya aku membangunkan Ara, anakku. maafkan ibumu ini nak tapi sungguh ibu sebenarnya malu karena anak ibu lebih berani daripada ibunya. lucu gak sih?.
"Ara, sayang.. bangun nak.. temanin mama dulu yuk.."
"hmmm" jawab Ara ngasal dan membalikkan badannya lalu tidur kembali..
ku kecup setiap inci di wajahnya sampai ia terbangun "mama mah curang ih, Ara masih ngantuk tauuuuu" rengek anakku.
"maaf sayang tapi mama udah ga tahan lagi, hayuk temanin mama dulu.." pintaku
"memangnya mama mau kemana sih?" tanya nya yang sudah mulai sadar
"ke kamar mandi heheheh" jawabku sambil menggaruk kepalaku
"hmm mama pasti takut ya? cemeeeen" ledek nya.
huh ni bocah malah ngeledek, batinku. Akhirnya Ara mau menemaniku ke kamar mandi, setelah aku keluar Ara langsung memegang tanganku..
Jujur saja bulu kudukku langsung naik seketika , "a--ad--ada apa n-nak?" tanyaku terbata-bata.
"disitu tadi ada tante-tante mah, untung mama cepat keluar" jawabnya santai.
what? sesantai itu anakku ngomong, astagaa...
"kamu gak kenapa-napa kan nak?" tanyaku lirih
"enggak mah" sambil menggelengkan kepalanya
"yaudah masuk yuk" ucapku.
***
Keesokan paginya, aku sedang membereskan rumah dan kedua anakku bermain di kolam anak yang sudah ku isi air.
Tiba-tiba....
"permisi, hellooooo" ucap seseorang dari luar..
"ya, siapa?" teriakku dari dalam dan berjalan keluar.
"ini benar rumahnya mas Bram?" tanya wanita itu
degggggg
seorang wanita? hmm siapa lagi ini?
"benar, dengan siapa ya mbak?" tanyaku sopan
"saya Dwi, saya ingin menagih hutang. kamu istrinya kan?" ucap wanita itu..
"apa mbak? hutang? hutang apa? emh iya mmm iya mbak saya is-istrinya" jawabku gelagapan dan di anggukin oleh mbak itu.
"tapi maaf mbak, suami saya sedang tidak dirumah, dan saya juga tidak tahu kalau dia berhutang dengan mbak" ucapku lagi.
__ADS_1
"kamu beritahu saja pada nya ya, ini sudah lewat tempo, jangan lupa " katanya sambil pergi.
Aku tak habis pikir dengannya, sejak kapan ia punya hutang? pikirku.
dan untuk apa dia berhutang? ya, pertanyaan itu terus berada di otakku.
Sore hari, aku menunggu mas Bram pulang, tak sabar rasanya ingin mendengar alasannya untuk apa ia berhutang.
akhirnya...
tok
tok
tok
"assalamu'alaikum" ucap seseorang yang aku kenal dari balik pintu, siapa lagi kalau bukan mas Bram.
ya aku sengaja untuk mengunci pintu agar aku tahu kapan dia pulang.
"waalaikumsalam, " sahutku
"baru pulang mas?" lanjutku sambil mencium tangan nya.
"iya sayang, mas mandi dulu ya" ucapnya dan aku mengangguk.
hmm mandi lah Bram Wijaya, biar fresh saat ku tanya nanti, batinku.
"teh nya mas" sambil menyodorkan teh yang aku pegang..
"terimakasih istriku" jawabnya yang membuatku menjadi mual.
"aku mau ngomong mas, penting" jawabku.
"katakan, sayang" sambil menatap mataku.
"jawab jujur, untuk apa mas berhutang dengan wanita itu?"
"u--utang?" tanyanya gelagapan
"sudahlah jangan banyak alasan lagi, jawab sekarang"
"aku ga punya hutang" jawabnya santai..
seketika tangan ku menjadi gatal, dan...
plakkkkkk
satu tamparan mendarat ke pipinya.
"aw!" rintihnya
"masih belum mau ngaku juga mas? apa tamparannya masih kurang? hum?"
"baiklah, iya jujur aku ngutang tapi untuk kebutuhan kita sayang" jawabnya sok jujur.
"oh kebutuhan kita ya, kebutuhan kita atau kebutuhan hobi haram mu itu Bram Wijaya?" teriakku.
"mas gak ngerti maksud kamu" jawabnya santai membuatku semakin geram.
__ADS_1
"mas aku tahu mas sebenarnya pulang kerja setiap hari itu siang kan??? iya kan? lantas kenapa sampai rumah sore? "
"oh itu, aku-- itu-- anu"
"anu anu, anu apa? main judi kan? sudahlah mas, tak perlu ditutupi lagi. aku malu punya suami sepertimu mas, sekarang pergi dari sini, aku sedang tak ingin melihat wajahmu! pergiiiiiii! teriakku hingga membuat anak-anak menghampiriku sambil menangis .
Astaga, apa yang aku lakukan? aku telah membuat anak-anak ku menangis dan menjadi takut. Sungguh maafkan ibu nak. batinku terus meminta maaf.
"papa sebaiknya pergi, jangan buat mama sedih lagi.." ucap anakku yang membuatku kaget
"iya pa, mama kacian" sahut sikecil Farhan.
Astaga, anak-anakku kenapa pintar sekali ngomongnya? apa ini salahku?
Lalu mas Bram keluar dari rumah, namun masih menatap ke arah kami.
brakkkkkk
Aku langsung menutup pintunya dengan kuat.
"Farasya, Farhan... sini nak.. hiksss" ucapku sambil memeluk anak-anakku.
"mama jangan nangis, kami ikut sedih hiks hiks" lirih anak-anak ku.
"sayang, maafkan mama.. kalian jadi menyaksikan ini" ucapku dan di anggukin mereka.
Aku sangat bersyukur memiliki mereka, kedua anakku menjadi malaikat penyemangat ku. Jujur saja setelah kesakitan yang bertubi dilakuin suamiku rasanya aku ingin nyerah saja dan meminta mas Bram untuk mentalak aku, tapi aku sadar kalau aku sudah tidak sendiri lagi, ada anak-anak' yang berhak bahagia.
Dua Minggu sudah aku tak mengizinkan mas Bram pulang, Jujur saja sulit sekali memaafkannya, tapi kali ini Farhan sedang sakit dan menyebut nama ayahnya.
Mungkinkah anak kecil ini merindukan ayahnya? huh aku harus mengalah demi anakku.
"papa..." Farhan terus mengigau namanya..
Air mata menetes mendengarnya, kenapa ia mencari ayahnya sementara di sini ada aku ibunya.
"Farhan rindu papa nak?" tanyaku lembut sambil memeluknya.
"tidak mah, nanti papa nyakitin mama lagi" ucapnya yang membuatku mengetatkan pelukanku.
Dalam keadaan sakit saja ia berpihak padaku, akankah aku bertahan dengan egoku? ah rasanya tidak mungkin.
"baiklah nak, papa akan melihatmu. mama janji papa tidak akan menyakiti mama.." ucapku bohong.
"benarkah? asikkk" ucapnya kegirangan.
Aku mengambil ponsel, dan menelpon mas Bram . berat sebenarnya tapi apa boleh buat?.
📲 assalamu'alaikum, datanglah kerumah karena Farhan sedang sakit.. ucapku to the point
📱waalaikumsalam, baiklah tunggu aku.
tut ..
langsung aku matikan karena aku tak ingin mendengar suaranya berlama-lama.
Tak lama kemudian mas Bram datang, terlihat jelas ayah dan anak itu saling merindukan.
Aku terpaksa memaafkannya semata-mata untuk anakku. Ya, alasan apalagi yang harus ku pertahankan dengan Pernikahan ini selain anak-anak ku.
__ADS_1