KAU MENDUA

KAU MENDUA
Bab 27


__ADS_3

Disudut dinding rumah, aku sedang menenangkan diri eh tapi lebih tepatnya sih lagi merenung ya. Banyak hal yang aku fikirkan yaitu sekolahnya anak-anak, kebutuhan anak-anak , belum lagi nanti keinginannya dan sekarang untuk membuat syukuran Farhan.


Ayah mereka benar-benar hilang bak ditelan bumi, jangankan memberikan nafkah untuk anak-anaknya, sekedar nelpon untuk tanya kabar saja pun tidak.


"Raina" seseorang memanggilku membuatku tersadar dalam renungan ku.


"papa? ah bikin kaget saja" ucapku spontan karena aku benar-benar kaget.


"anak perempuan gak baik melamun" sambil menggelengkan kepalanya.


"tapi kan Rai bukan anak-anak lagi hehe" candaku.


"salah! sampai kapanpun kau masih papa anggap anak-anak!"


Aku langsung memeluk erat ayahku sambil duduk, tak lupa pula aku menenggelamkan kepalaku didadanya, ah rasanya nyaman sekali dipelukan cinta pertamaku ini.


"hmm benarkah? lalu anaknya Rai di anggap apa?" candaku sambil mengangkat kepalaku dengan tangan masih memeluk ayahku.


"eummm, tentu saja menjadi anaknya anak-anak"


"pffttt hahahahhahahah, maaf pa, kelepasan hahahahha"


"gitu dong, ketawa" sambil tersenyum.


"Farhan gimana acaranya? kapan?" sambungnya lagi


Wajahku langsung kembali kutekuk, karena memang itulah masalahku saat ini.


"hei kenapa ditekuk gitu? papa loh yang biayain, gak senang ya?"

__ADS_1


"gak perlu pa, ini tanggung jawab Rai" lirihku sambil melepaskan pelukan ayahku.


"gak terima bantahan ya buat cucuku" sahut ayahku.


"terimakasih pa, papa terhebat, cinta pertama Rai yang selalu berusaha untuk tidak pernah ngecewain Rai"


*****


Beberapa hari kemudian,


Teman-teman Farhan sudah berada di rumah, tak lupa pula kami membacakan do'a untuknya yang di pimpin oleh salah satu ustadz di kampung sini.


Setelah itu langsung membagikan pulut kuning tersebut kepada semuanya yang datang.



Farhan yang melihat semua teman-teman nya mendapatkan pulut ia pun segera protes karena dia ingin mendapatkan juga.


"kamu mau? ini" ucap Ara sambil memberikan satu kotak pulut kuning.


Farhan tidak mengambilnya, ia hanya diam dengan wajah cemberut. Ara tidak memperdulikannya, bahkan kakaknya itu meninggalkan adiknya begitu saja.


"huh menyebalkan" gumam Farhan, sementara aku hanya bisa menahan tawa saat ini karena kakaknya berhasil mengerjai adiknya didepan banyak orang.


Lalu, beberapa saat kemudian, Ara datang dengan membawa sesuatu yang membuat adiknya menjadi bahagia.



"jangan cemberut, ini untuk adik kakak" ucap Ara

__ADS_1


Tanpa aba-aba Farhan langsung memeluk kakaknya "farhan sayang kakak" ucapnya.


Tesssss!


Air mataku langsung menetes, aku terharu aku bahagia aku sangat bahagia. Rasanya jika aku dipanggil deluan kepada sang ilahi, setidaknya aku sudah tidak khawatir lagi karena kedua anakku pasti saling menjaga dan menyayangi.


Lalu, beberapa saat kemudian guru ngajinya Farhan selaku menjadi MC saat ini, ia pun menyuruh anak-anak untuk makan dan tentunya membaca do'a terlebih dahulu.


Allâhumma bârik lanâ fî mâ razaqtanâ wa qinâ adzâban nâr .


"ayo anak-anak kita makan dulu"


"baik umi" sahut mereka barengan.


(anak-anak itu sudah pada kenal guru ngajinya Farhan ya karena sebagian dari mereka juga privat dengan umi itu, dan lagi rumahnya deketan )


Masing-masing anak pun makan dengan tenang, namun tidak dengan Farhan karena dia sibuk ruangan untuk menyuapin orang-orang yang disayanginya.


Farhan berjalan mendatangi aku "suapan pertama untuk mama"


Aku tersenyum dengan mata berkaca-kaca "terimakasih nak"


Lalu ia celingukan ke kanan dan ke kiri, seperti ada yang ia cari. aku tau pasti jagoan kecilku ini pasti mencari ayahnya, dia berharap ayahnya berada disini.


Karena tidak berhasil berjumpa dengan ayahnya lalu ia menghampiri ayahku "suapan kedua harusnya untuk papa tapi karena yang menyayangiku itu opa jadi ini untuk opa tersayang"


degggg!


sakit tak berdarah? hmmm mungkin saja karena ini benar-benar sindiran halus untukku sebagai orangtua.

__ADS_1


"maafkan mama nak," ucapku dalam hati.


__ADS_2