KAU MENDUA

KAU MENDUA
Bab 6


__ADS_3

Hari berganti, jam berputar dan bulan bertambah. tak terasa kini aku telah mengandung sembilan bulan dimana sebentar lagi aku akan melahirkan.


Aku ingin sekali lahiran normal dan berbagai cara sudah aku lakukan seperti jalan pagi, yoga bumill dan lainnya.


"auukkhhhh" pekikku .


tak lama kemudian sakitnya menghilang, "oh kontraksi palsu, Dede bayiiii kamu sudah mau lahir ya nak, bantu mama nanti ya sayang" sambil ku elus perutku yang sedang ber ombak.


Beberapa hari kemudian, aku merasakan guncangan yang begitu dahsyat, hingga aku memutuskan untuk pergi kerumah sakit, benar saja ternyata sudah pembukaan 2.


aku ditemani oleh suamiku, mamah dan papah, juga disusul oleh beberapa kakak dari suamiku beserta ibu mertuaku sementara ayah mertua sudah tiada.


"auuuh sakit sus" pekikku meringis kesakitan


"sabar ya mom, sebentar lagi... karena sudah memasuki bukaan 7"


beberapa menit kemudian.....


"dokkkkkk, sussss tolong, auuuh sakit"


dokter dan dua orang suster masuk kedalam ruangan ku, juga suamiku mendampingiku.


"oke mom, sudah saatnya.. yuk atur nafas..." ucap dokternya


"tarik nafas.... buang........"


"tarik nafas... buang.... lebih relax lagi ya mom"


"tarik nafas dan....... buuuaaang, oke sedikit lagi"


"tarik nafas, buanggg...!!"


"oooeeeekkk..


oooeeeekkkkk


oeeeekkkk"


saat yang bersamaan mas Bram juga berteriak "aaauuuuukkkkhhh"


pasalnya aku menggigit tangannya dengan sangat kuat sampai meninggalkan bekas, maklum ya namanya juga tak disengaja, hihi.


welcome to the world, anakku.


Suara tangisannya membuat hidupku kembali nyata, sakit yang baru saja kualami seketika terhempas begitu saja Sakin bahagianya karena telah menjadi seorang ibu..


"selamat ya mom, bayinya perempuan.. cantik sekali" ujar susternya.


lalu bayiku dimandikan dan dibedong.


setelah itu, bayiku diletak diatas dadaku, lagi lagi air mata ini jatuh tanpa pamit, tapi kali ini adalah air mata kebahagiaan.


tak lama kemudian mas Bram meng iqomah kan bayi kami tepat di sebelah kuping nya.


B**ismillahirrahmanirrahim


A**llahuakbar A**llahuakbar


A**syhadu allaa ilaaha illallah


*Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah

__ADS_1


Hayya Alash Shalaah


Hayya alal Falaah


Qad Qaamatish Shalaah*,


Qad Qaamatish Shalaah


Allahuakbar Allahuakbar


Laa ilaaha illallah


setelah di iqomah bayi kami kembali menangis, seperti merasakan suara ayahnya. tak lupa pula Bram mencium kening putrinya yang cantik itu .


"sayang, kita belum beri dia nama" tanyaku


"hmm benar juga kamu"


"bagaimana kalau Farasya Aflah?


"hmm ya, nama yang bagus."


"tapi panggilannya apa??? masa rasya? hahaha" candaku, padahal aku yang usulin namanya


"husss sembarangan.. panggilannya Ara, iya, Ara sayang... senang gak dipanggil Ara??" sahut suamiku dengan menggendong bayi kami.


gak lama kemudian,


"oeeekkk"


"wahhh anak mama dan papa pintar bangettt" sambil menghapus air mata bahagia ini.


lalu,


"mana??? mana cucu papah?? haaa ini ya? haloo sayang opah, kamu sama opah aja ya" datang papa yang langsung berlari mengambil anak kami .


"pah, pelan-pelan dong" teriak mama


"iya nih, ntar jatuh gimana" ketusku


"wleeee, nyatanya aman kan?" ledek papa.


Terlihat jelas kedua orangtuaku sangat menyayanginya, Ara merupakan cucu pertama mereka, jadi wajar saja mereka kegirangan melihat anak kami.


"siapa namanya nak??" tanya papa


"Ara pa,"


"wah nama yang cantik untuk cucu papa" air mata mengalir di pipi ayahku, aku tahu itu adalah air mata kebahagiaan.


"Ara nanti main bareng opa ya, mama kamu tugasnya kasih ASI aja, oke sayang" sambil mengelus bayiku.


"iiih papa mah ngeselin, itu anak aku looooo" tolak ku.


"tapi cucu papa looooo" balas papaku yang tak mau kalah denganku.


Aku pun terdiam karena tahu tak ada menangnya melawan dengan ayahku.


***


Akhirnya kami sampai dirumah, dan sebelumnya aku sudah menyiapkan kamar mini untuk bayiku, tidak terlalu besar dan tidak juga yang mewah, hanya sederhana namun indah .

__ADS_1



Sejak kami menikah dan memilih tinggal dirumah sendiri itu membuatku belajar banyak hal, salah satunya adalah memanage keuangan suami yang memaksaku untuk menghemat agar apa yang aku inginkan bisa tercapai walau dengan waktu yang lama seperti membuat kamar bayiku seperti ini.


Mas Bram tidak miskin juga tidak kaya, tapi kami cukup bahagia.


"oooekkk"


tangisan itu membuatku kebingungan sendiri karena menjadi ibu baru ternyata tidaklah mudah. untung saja ayah ibuku menginap disini.


Dan benar, peran ayahku sangat penting disini, ia benar-benar antusias dalam merawat bayiku.


"hai cucu opa, kamu kenapa sayang" ucap ayahku mendatangi kamar bayiku.


lalu meraba popoknya Ara "oh kamu pipis ya nak hihi"


langsung saja ayahku mengganti popok nya dan bayiku diam seketika "tuh kan, udah enak diganti popoknya"


Ayahku hendak pergi meninggalkan kamar kami, lalu aku memegang lengan ayahku, saat ia menoleh aku langsung memeluknya "papaah, makasih ya selalu ada buat kami..."lirihku.


ayahku membalas pelukanku "nak, tak perlu berterimakasih, harusnya papa yang ucap makasih karena kau telah melahirkan cucu yang sangat lucu, jangan menangis papa tak suka itu"


aku melepaskan pelukan ku "papa, tinggallah disini lebih lama lagi, kumohon"


"oh jadi sekarang papa dianggap ada nih?? kemarin gak ngebolehin papa ngurus cucu papa Hem?" goda ayahku.


"ah papa mah gak asik" sambil membuang muka.


"hahaha kau lucu sekali jika marah, wleeee" ejek ayahku.


"sudah, sudah, jangan nangis lagi. papah akan tinggal disini, tenang saja. kau tidur lah mumpung anakmu sedang tidur sekarang" sambil melirik Ara dan pergi ke luar kamar.


Papa adalah segalanya bagiku, candanya adalah canduku walaupun sering sekali aku kalah ketika berdebat dengannya. Namun benar kaya orang, cinta pertama anak perempuan adalah Ayahnya .


Sejak ayah dan ibu tinggal dirumah kami, aku dan mas Bram memilih tidur dikamar Ara , dan ayah ibu tidur di kamar kami, karena rumahku hanya memiliki 2 kamar.


ku lihat mas Bram sudah di dunia mimpinya sekarang "hmm bisa-bisanya dia tidur dengan nyenyak saat anaknya menangis tadi astagaa mas" gumamku.


Karena dikamar Ara sebelumnya tidak ada kasur besar, kami akhirnya membeli kasur lipat .


Aku membaringkan tubuhku disebelah tempat tidurnya Ara, tak hentinya aku bersyukur karena telah memilikinya.


Kadang masih gak yakin dengan status sekarang yang sudah menjadi ibu, apa ini beneran? atau hanya mimpi? ku tepuk wajahku tiga kali dan ternyata memang ini nyata.


Tuhan, beri aku kemampuan untuk menjadi ibu, batinku .


****


Pagi harinya, disaat orang bangun tidur aku dan bayiku masih nyaman dengan tidur kami yang baru terlelap ini, karena kami tadi malam bergadang.


Suamiku pun bekerja tanpa ku layani, maksudnya tidak kubanguni, tidak ku siapkan baju dan sarapannya, dan tidak kulihat kepergiannya bekerja.


"Raina, bangun sayang" panggil mama.


"hmmmm"


"hei, sarapan dulu" sambung ibuku.


Ibu sudah membawakan makanan untukku, mataku terbelalak melihat lauk yang dibawa


"Hah? sayur katu lagiii???"

__ADS_1


"ya, biar asimu lancar terus" jawab ibuku singkat.


Tuhan, gue tidak menyukainya huaaahhhh" tangis batin ku.


__ADS_2