
Mas Bram Iya sayang, Ara lagi sibuk gak nak?
Ara Enggak kok pa, ada apa?
Mas Bram hmm begini Nak, papa bisa minta tolong gak?
Ara Memangnya ada apa Pa?
Mas Bram Jangan bilang mama kamu ya, Ada 200 ribu gak? Papa lagi gak pegang uang nak
Deg!!
Semua kaget mendengarnya terlebih lagi aku, Ya kami semua mendengar nya karena Ara menekan loud speaker pada ponselnya. Ara memutuskan untuk mematikan teleponnya secara sepihak.
"Hiksss" lirih Ara dengan menangis. Aku langsung memeluknya .
"Jangan nangis sayang" ucapku lembut
"Maa, hikss.. apa ini hukuman buat Papa atas kejahatannya dulu?"
"hust , Kamu gak boleh ngomong kaya gitu. Ini Ujian dari Allah buat hambanya."
"Kasihan Papa ma..." sahut Farhan dan langsung memelukku juga.
"Nak, Allah gak akan menguji hambanya di luar dari batas kemampuan umatnya. Kalian boleh kasihan sama papa kalian, tapi kalian juga harus mendoakannya. Ara, minta nomor rekening papa kalian biar nanti pulang dari sini kita transfer"
"Beneran ma? Mama gak keberatan?"
"Kenapa harus keberatan?"
"Tapi, Ayah?" tanya Ara namun yang disebut tiba-tiba datang.
"Kenapa dengan Ayah? hm? itu kan papa kalian, dan sebagai anak kalian harus membantunya. Sudah , jangan menangis!"
"Makasih Ayah" Ara dan Farhan berhamburan memeluk ayah sambungnya.
"Aku juga mau di peluk" celetuk Syifa
"Atha juga" sahut Atha
"Sini, anak-anak Ayah peluk Ayah sini"
Aku yang melihatnya tak henti mengucapkan syukur.
***
Seperti janjiku, Sepulang dari liburan kami mentransfer uang untuk Mas Bram. Terkadang dunia ini lucu ya, sering sekali keadaan terbolak-balik. Kadang di atas, kadang di bawah. Siapa sangka, orang yang begitu angkuhnya saat ini berada di bawah.
Beberapa bulan kemudian, Aku dan Mas Rasyid mengantar Ara dan Farhan kerumah mas Bram. Dari dalam mobil terlihat Seorang lelaki paruh baya keluar dari rumahnya, tubuhnya menjadi kurus, rambut acak-acakan, bahkan seperti tak terurus.
"Astaghfirullah " gumamku.
"Iya ma, itu Papa" sahut Farhan tiba-tiba.
__ADS_1
"Kenapa jadi seperti itu? Ya Allah " kali ini yang ngomong Mas Rasyid .
"Papa sejak di tipu dia lebih suka mengurung diri dirumah ma, yah.. Farhan sering lihat papa ditelpon temannya tapi gak diangkat sama papa"
"Kenapa begitu?" tanyaku penasaran.
"Karena mau nagih hutang ma, hutang papa sekarang banyak banget."
"Ya Allah, kasihan sekali" gumam Mas Rasyid .
"Ibu Friska kalian mana?"
"Kerja kayanya ma, sekarang yang jadi tulang punggungnya ya si hantu" sahut Ara
"Ara! ga boleh gitu" tegurku
"Maaf ma..." lirih Ara
"Ya Sudah kalian turun, titip salam buat papa dan ibu kalian. Oh iya, sekalian berikan amplop ini ya"
Mereka mengangguk "Turun dulu ya Ma, Yah... Assalamu'alaikum "
"Waalaikumussalam "
Setelah melihat anak-anak turun, Aku dan mas Rasyid melanjutkan jalan kami, tujuan kami adalah sekolahnya Atha.
"Kasihan ya Mas " ucapku
"Iya, kita harus perbanyak syukur ya sayang."
"Mas bangga sama kamu" ucap Mas Rasyid sambil menggenggam tanganku
"Aku juga sayang, Mas Rasyid terbaik. Terimakasih atas segalanya" lirihku.
cupp
Mas Rasyid sekilas mencium keningku membuatku benar-benar kaget, pasalnya saat ini ia sedang menyetir, ada-ada saja suamiku ini, pikirku.
***
Author POV
Sementara Ara dan Farhan yang baru saja turun langsung mendekati Papanya.
"Assalamu'alaikum " ucap keduanya.
"Waalaikumussalam" sambil mengisap rokoknya.
Kedua anaknya melihat papanya hanya bisa berdengus sebal karena jujur mereka tidak menyukai Bram yang hobinya merokok itu.
"Papa sudah makan?" Tanya Ara.
"Belum, gak ada uang papa" lirih Bram
__ADS_1
"Kalau untuk beli rokok sebatang dua batang, ada ya pa?" sindir Ara
"Ada" jawab Papa nya dengan bangga.
"Padahal harga telur dan rokok sebatang itu sama harganya, benar-benar papa ini huffh"
"Papa mau sampai kapan begini terus? kalau papa dirumah aja gimana papa bisa dapat rezeki?"
"Hutang papa banyak nak, papa nanti di laporkan polisi" lirihnya pelan.
"Kak, amplopnya" seru Farhan mengingatkan Ara.
Ara menepuk jidatnya "Oh iya, lupa. Pa ini ada titipan dari mama dan Ayah."
Bram langsung membuka amplop tersebut, lalu tiba-tiba air matanya menetes mengingat semua yang pernah terjadi.
"Papa kenapa nangis?" Tanya Farhan.
Bram hanya menyodorkan kertas dan sebuah cek yang boleh diisi berapapun untuk membantu nya.
"Masyaallah" ucap kedua anaknya
"Papa malu dengan mama kalian, kejahatan papa di masa lalu sangat fatal, kenapa dia masih baik dengan papa? astaga! Nak, tolong pertemukan papa dengan mama kalian."
***
Hari yang ditunggu pun datang, di sebuah cafe sudah duduk Rasyid, Raina, Bram , Friska, Ara dan Farhan.
Namun tiba-tiba...
Rasyid dan Raina kaget karena melihat kedua insan ini sudah berada dibawah mereka setengah bersujud.
"Eh , kok? aduh jangan begini" kata Raina pada Friska
"Iya, silahkan berdiri Bram" titah Rasyid
Bram menggeleng namun Rasyid memapahnya untuk duduk kembali, begitupun dengan Raina.
"Mbak, maafkan aku.. Maafkan kesalahanku, maafkan perlakuanku, maafkan segalanya.. Aku mohon.. Aku sudah sangat jahat dengan mbak, tapi ampunilah aku." lirih Friska dengan sungguh-sungguh.
Raina menggeleng "Aku sudah memaafkan kalian dari jauh hari, sebelum kalian memintanya. sudahlah.. jangan begini, sesama manusia kita harus saling memaafkan, bukan? lupakanlah masa lalu."
"Raina, Rasyid.. kalian memang orang baik, Aku sudah sering menyakiti kalian terlebih-lebih padamu Raina tapi kalian malah membantuku. Aku sangat malu sebenarnya. " kali ini yang bicara adalah Bram.
"Sudah, lupakanlah.. kita berempat adalah orang tua mereka" kata Rasyid sambil menunjuk Ara dan Farhan. Maka dari itu, berjuanglah agar tetap harus hidup demi mereka, demi masa depannya" sahut Rasyid.
...... --------......
...**Alhamdulillah, akhirnya benar-benar tamat. Terimakasih untuk kakak-kakak reader semua, kalian luar biasa, kalian terbaik, kalian segalanya. Tanpa kalian aku sebagai author baru ini tidak ada apa-apanya....
Terimakasih, atas komen baiknya yang membangun semangat author, dan komen yang buruk nya yang membuat athor lebih belajar lagi. lopyupul.
Yuk, sekalian baca karya othor yang lain, apalagi dengan judul "Perjalanan Cinta The Guys" yang banyak komedinya menurut othor.
__ADS_1
love you allš¤**