KAU MENDUA

KAU MENDUA
Bab 24


__ADS_3

(ceklek)


"keluar mas! siapa suruh masuk" ucapku tanpa melihat siapa yang datang karena aku baring mempunggungi pintu.


"ekhemm, kita pulang nih? ya udah deh" sahut mereka .


'hah tunggu, seperti suara perempuan?' ucapku dalam hati


Aku langsung membalikkan tubuhku, dan betapa senangnya aku melihat mereka yang datang.


"Vira!!! Abel!!!! seriously? aaaahh senang banget" teriakku


"kalau gak karena kemanusiaan, gue mah ogah datang kesini" celetuk Vira


"bener deh, nih anak ngeselin banget. akal sehatnya udah hilang. bisa-bisanya punya pikiran buat bunuh diri" sahut Abel


"gue minta maaf" lirihku.


"loe jangan pernah mikir buat bunuh diri lagi dong, ada kita disini" sambil memelukku


"lagian ya Rai, kalau suami loe gak mau lagi sama loe tuh ada yang nungguin loe dibalik pintu" sahut Abel.


"husssh sembarangan loe, memangnya siapa yang mau sama gue yang udah punya anak dua ini, dan lagu gue ga pernah ngerawat diri hahahaha" candaku.


"loe gak percaya? kita hitung mundur ya...


tiga....


dua....


satu...


toktoktok (suara ketukan pintu)


eh kok pas gitu? ahhahaha" ucap Abel lagi membuatku bertambah bingung.


ceklekkk


"Dion?" teriakku


"hai Rai, gimana kabar kamu?" ucapnya sambil tersenyum.


"ba--baik, loe tau darimana gue disini? tanyaku gelagapan.


"eciye ada yang grogi mantannya datang hahaha" celetuk Vira.


"diem gak" sahutku


"aku bareng mereka," jawab Dion, yang ternyata dia barengan dengan Vira dan Abel tapi dia belakangan masuknya karena parkirin mobil .


"eum soal ucapan gue tadi gausah diambil hati Rai, rilex aja tapi kalau dianggap serius juga gapapa *eh" ujar Abel

__ADS_1


"gue setuju" sahut Vira yang cuma aku balas dengan gelengan kepala.


"ah iya, ini Rai kami bawain buah, kamu makan ya.. " kata Dion untuk merelai perdebatan kami.


"eh iya taruh saja dimeja , makasih banyak guys" sahutku.


Ternyata berteman dengan mantan sangat tidak mudah, aku memang sudah tak mencintainya tapi ketika bertemu dengannya seakan mengingatkan kejadian dulu dan itu membuatku menjadi canggung.


Dion menghampiriku dengan membawa buah tersebut "kamu harus makan satu, ayo mau yang mana biar aku ambilkan?"


"awww so sweet" ledek Vira


"Rai aja nih ion? kita enggak? ekhemm disini ada orang loh btw" goda Abel


"kalian ini ya mck" kesalku


"oh kalian pada mau ya? sabar ya entar gue suapin pake pisau ni nah" sambil nunjuk pisau yang ditangannya.


"vir perasaan si Dion sama kita manggil gue elo lah, sama Raina kok masih aku kamu ya? loe ada nyium bau-bau celebek gak?" sindir Abel


"ah iya benar tapi btw celebek apaan?" tanya Vira yang bingung


"lu mah gak asik, celebek itu cinta lama belum kelar hahahaha"


"lu aja yang alay malah disingkat gitu "


Sementara aku dan Dion hanya bisa diam dan menikmati ocehan mereka, aku tahu betul sifat mereka yang kalau di kasih api langsung nyambar begitu saja.


Beberapa menit kemudian, Dion mengambilkan buah jeruk dan langsung menyuapkan aku. Awalnya aku menolak tapi sepertinya akan sia-sia mengingat jumlah mereka ada tiga dan aku untuk duduk saja tak mampu apalagi melawan mereka.


****


Malam harinya, ayahku masuk ke ruangan ku dengan membawa mas Bram juga. Sekarang lengkaplah sudah diruangan ini karena semua sudah berkumpul tapi anehnya ini seperti kuburan karena tak ada suara sedikitpun.


"papa mau ngomong" kata ayahku tiba-tiba dan semua mata tertuju pada ayahku


ceklekkk (pintu ruangan terbuka, terdapat kedua adikku masuk keruangan)


"ah kebetulan sekali, nak coba kalian ajak ke kantin Ara dan Farhan" pinta ibuku kepada mereka


"yah, baru juga datang ma... ah ya sudahlah, ayo anak-anak kita ke kantin" sahut adik lelakiku.


"horeeee" ucap anak-anakku.


Seketika suasana menjadi hening bahkan hanya terdengar suara hembusan napas yang tersisa.


"ekhem" deheman ayahku memecahkan keheningan


"Raina..." panggil ayahku


aku menoleh "iya pah"

__ADS_1


"Bram" panggil ayahku lagi


dan mas Bram juga menoleh "saya pa"


"kalian tahu kesalahan kalian apa?" tanya ayahku serius dan kami hanya bisa diam.


beberapa detik kemudian aku menjawabnya "bukan Rai yang salah pa"


"oh benarkah?, dan berarti nak Bram tahu salahmu apa?" kata ayahku lagi


"maaf pa, Bram tahu.. tapi untuk bunuh diri bukankah juga kesalahan?" tanya Bram lagi.


Aku yang tersindir pun seketika marah, ya bagaimana tidak? dengan gampangnya ia menyalahkan ku.


"Rai kaya gini juga karena mas! karena suami yang tak tahu hak dan kewajibannya . menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang, apa mas fikir itu baik? hah? dan ju----" ucapanku terpotong padahal aku sudah ingin sekali mengeluarkan uneg-uneg ku saat ini.


"Rai, kalau tidak begini kita tidak bisa makan Rai" ucapnya.


"cihhhh, bagaimana kita bisa berkecukupan kalau semua uang halalmu kau berikan pada wanita-wanitamu!" ucapku dengan mata berkaca-kaca .


"sudah, diam!" pinta ayahku


"kenapa kalian jadi ribut begini?" Seperti anak-anak saja." sahut ibuku


"oke, untuk kedepannya kalian mau gimana?" tanya ayahku.


"Rai mau pisah!" jawabku cepat mungkin sedetik setelah ayahku bertanya.


"raiiiii!?" kata ayah dan ibuku serempak karena kagetnya.


"iya ma, pa.. hikss maafin Rai ...hiks... tapi Rai sudah tidak tahan lagi.hikssss "


Ibuku langsung memelukku , mungkin ia tahu apa yang dirasakan putrinya.


"tapi pa, Bram gak mau pisah, Bram ingin bersama anak dan istrinya Bram" kekeuhnya.


"mau sampai kapan kau menyiksa anakku? sudah cukup kesabaranku selama ini. aku tahu apa yang kau lakukan dibelakang anakku, tapi sebagai orangtua kami tak ingin anak kami tersiksa untuk itulah kami tidak memberitahukannya. tapi untuk kali ini, lepaskan anakku biarkan dia bahagia, dan kau juga akan bebas kemana pun kau mau" sahut ibuku.


degggg!!!


Hatiku bagai tersambar petir, aku tahu aku menginginkan ini tapi aku gak menyangka ibuku lah yang mendukungku. Padahal aku tahu bercerai bukanlah sifat terpuji, kedua orangtuaku sangat tidak menyukai itu .


"baiklah , Raina Amelia, mulai saat ini aku jatuhkan talak satu ku padamu" ucapnya lantang sambil pergi entah kemana.


"hiksss...hiksss...hiksss." tangisanku semakin menjadi.


Saat ini, aku menjadi janda dengan dua anak. membesarkan mereka seorang diri tak pernah terbayangkan padaku sebelumnya tapi bukankah ini yang aku mau?


****


Hari demi hari, keadaanku pun semakin membaik. Dan akhirnya aku bisa pulang kerumah tentunya dengan statusku yang baru.

__ADS_1


aku kembali kerumah orang tua ku, dan sekarang aku berada di kamarku sebelum aku menikah.


Untuk Ara dan Farhan tidak mengetahui itu dulu untuk sementara karena aku tahu dan yakin jika mereka tahu mereka akan sangat sakit hati karena orangtuanya ini.


__ADS_2