
Saat di pesta pernikahan Abel dan Dion , aku dan Vira memutuskan untuk tidak membawa suami dan kini kami sedang tengah asik menikmati makanan yang tersedia.
"Rai loe kenapa?" tanya Vira sambil menikmati sate Padang
"memangnya gue kenapa?" tanyaku balik yang memang aku gak paham
"loe okay?"
"ya oke dong, masa sahabat sendiri nikah trus gue galau gitu? sembarangan loe"
"ck, gue jadi sahabat loe itu dari loe lahir ceprot-ceprot oeeek oeeek" ucapnya membuatku menjadi geli.
"nah gitu dong, ketawa! kan kesannya loe happy" sahutnya lagi membuatku memutar mataku dengan malas.
"gue mau nanya ni, loe mau jawab gak?" tanyanya..
"eh Vira bangkeh, loe kaya wartawan aja daritadi nyerocos terus hahahaha iya sayangku cintaku kamu mau nanya apahhhhh" sambil nada dibuat-buat
"apasih yang loe pertahankan dengan hubungan loe itu?"
deggggg!!!
Aku tak langsung menjawab, aku menatap ke arah depan sekilas lalu aku membuang nafasku dengan pelan
"harga diri! sebenarnya bukan hubungan yang gue pertahankan , bukan juga mas Bram tapi harga diri gue. masa iya gue nyerah ditengah rumah tangga yang sedang gue bangun?"
"Rai harga diri loe gak pantas diinjak-injak, masih banyak kok cara menghargai diri loe, gak harus bertahan"
" kalau aku bisa, kenapa enggak? benar loe bilang, tapi belum saatnya gue mundur. setidaknya biarkan anak-anak gue merasakan sedikit lagi bagaimana kebersamaan dari keluarga yang utuh" sambil menahan sesakku.
"gue selalu ngedukung loe, yang lain juga ngedukung. kalau ada apa-apa loe cerita ke kita, okay?" lalu aku mengangguk
"dah ah foto yuk" ucapku
****
Setelah pernikahan Abel dan Dion, kami belum ada bertemu sama sekali, tapi tiba-tiba sebuah mobil terparkir didepan rumahku. Aku yang memang mengenali mobil itu bukan langsung mendatangi pemiliknya namun memilih untuk berdiri didepan pintu .
Pemilik mobil nya keluar
"woy tamu datang bukannya disambut" ucapnya, ya dia adalah Abel dan Dion.
__ADS_1
"ngapain? ada yang ngundang?" sahutku penuh kemenangan.
Lalu aku masuk kedalam dan membuatkan mereka minuman
"darimana?" tanyaku sambil menatap keduanya secara bergantian
"dari rumah, udah cepetan ganti baju" ucap Abel
"mau kemana?" tanyaku heran
"main, aku yang traktir!" sahut Dion
"gila ya udah bebini masih aja manggil aku kamu" celetukku sambil berdiri sementara Abel hanya cekikian.
"santai aja Rai panggilan khusus kami itu sayang " teriak Dion
"wuhuuu pengantin baru , ampun " ucapku sambil pergi ke kamar.
Kami sudah tiba disebuah cafe, dan disana sudah ada Vira dan beberapa makanan. Aku duduk di paling pinggir dimana berdekatan dengan kolam ikan .
"kenapa loe gak ikut jemput gue Vir?" tanyaku
"Yee penting banget ya loe sampai dijemput semuanya? gak sekalian pak RT pak RW pak camat pak walikota juga diajak?" kesal Vira membuat kami tertawa terbahak-bahak.
"guys itu lakik gue gak sih?" tanyaku kepada mereka bertiga.
Ketiganya langsung berbalik badan dan melihat siapa yang aku tunjuk namun beberapa saat kemudian mereka saling pandang, entah apa arti dari tatapan itu.
"bu-bukan" ucap Dion
"iya Rai bukan, loe salah lihat itu" sahut Abel
"benarkah?" tanyaku lagi
"udah, loe gak usah pikirin itu, yang harus loe pikirin adalah......."
"anak loe" lirih Vira
"berarti benar ya itu mas Bram?" ucapku pelan sambil menahan tangis
"Rai loe jangan nangis, loe harus kuat"
__ADS_1
Aku tersenyum "gue gak apa-apa kok, sangkin seringnya patah hati gue jadi lupa rasanya gimana. i'm strong, okay?"
Dion menghela nafasnya, lalu kami melihatnya seperti ingin mengatakan sesuatu tapi dia enggan untuk bicara.
"katakan saja, jangan dipendam" ucapku
"Rai kamu mau tahu pendapatku gak?" tanya Dion sementara aku tersenyum sambil mengangguk.
"Raina yang kami kenal itu orangnya mandiri, cerdas , tegas dan ceria. tolong kembalikan Raina kami yang dulu."
"gue gak bisa, maaf. beban yang gue pikul itu berat banget, bahkan gue gak tahu bagaimana caranya merangkak, diam ditempat pun tak selamanya aman, gue tahu itu tapi setidaknya cara itu bisa membuat gue beristirahat "
"Rai, selama ini gue ngedukung semua yang loe pilih. dari dulu Rai, dari dulu! loe Gonta ganti pacar gue dipihak loe, terus loe nikah dengan si Bram yang baru loe kenal juga gue ngedukung loe, sampai Bram sering selingkuhin loe gue selalu ada buat loe. tapi tidak untuk sekarang. maaf Rai, kita satu tujuan namun kita gak sejalan. gue sayang sama loe, gue care gue pengen loe itu bahagia Rai, sudah saatnya loe bahagia. Jika loe milih bertahan, maka gue di pihak untuk melepaskan" celoteh Abel membuatku menitihkan air mataku.
"cukup bel, cukup" sanggah Vira
"loe bilang loe bertahan untuk harga diri? gue gak setuju ketika harga diri loe dipijak-pijak oleh suami loe. loe bilang bertahan untuk anak-anak? gue setuju kalau loe mau bahagiain anak-anak tapi loe harus tahu kalau bahagia banyak versinya. Banyak cara untuk bahagiain anak-anak tapi cara loe itu jauh dari kata yang seharusnya. sorry gue marahin loe, sekali lagi ini semua karena gua care ! anak bisa bahagia dengan versi kita sendiri, kuncinya apa? hati loe harus sembuh, sakit yang loe derita tak akan membuat si Bram itu luluh, jadi percuma loe ngelakuin itu ke dia. Gue pamit, permisi!" lanjut Abel lagi lalu pergi.
Dion yang melihat itu langsung panik, mengejar istri atau menenangkan sahabatnya.
"kok loe diam aja? kejar bini loe" ucapku
"terus kamu gimana?" tanya Dion lagi
"ada gue, kejar Abel cepat" sahut Vira
Dion mengangguk "kalian jaga diri baik-baik, maafin Abel ya Rai. aku nyusulin Abel dulu. bye"
Sepeninggal dari mereka kini aku berada dipelukan Vira sambil menangis, tak peduli seberapa banyak yang melihat yang penting hatiku tenang.
"jangan loe ambil pusing Rai, Abel lagi emosi" ujar Vira
"dia gak salah, gue yang salah. dia benar, gue harus belajar ikhlas " dengan mata berkaca-kaca.
"memangnya salah ya memperjuangkan harga diri?" tanyaku pada Vira
"Rai, gue gak tahu rasanya gimana, tapi satu hal yang harus loe tahu,.loe itu hebat, loe pasti bisa melewati semua ini. biarlah anjing bergonggong kapilah berlalu."
****
setelah sampai rumah aku sudah menyiapkan makanan, lagi-lagi aku baru masih bersikap biasa saja, seolah tak tahu apa-apa.
__ADS_1
"assalamu'alaikum " ujarnya
"waalaikumsalam " sahutku