
Tak terasa kini usia Ara sudah 3 tahun, sudah banyak sekali kosakata yang bisa diikuti nya walaupun selama tiga tahun ini ia sering sekali keluar masuk rumah sakit , ya seperti anak orang kaya saja gerutu ku.
"ma....mama...ma...." teriak Ara sambil berlari kehadapanku.
"ya sayang? ada apa nak?" tanyaku memeluknya .
"ala mau jayan-jayan, boyeh ya?" ucapnya celat.
"hmm boleh tidak ya" godaku sambil menggaruk dagu yang tidak gatal.
Tampak jelas matanya sudah berkaca-kaca , kini ia menutup matanya yang sebentar lagi akan menangis.
"boleh kok, yuk bangun papa.." sahutku lagi.
"benelan?? yeeeee...." ucapnya kegirangan
Ara langsung berlari menuju kamar dan membangunkan ayahnya, ia mengguncang badan ayahnya namun tidak juga terbangun, hingga akhirnya ia mencolok mata ayahnya yang tidak bersalah itu, dan....
"awwww!" pekik ayahnya
"sayang, kamu ngapain? hmm?" tanya Bram yang sadar melihat anaknya sebagai pelaku.
"ala cuma mau bangunin papah, ala mau jayan-jayan. ayo yah kita pelgi" celoteh putriku
"memangnya kamu mau kemana nak??" sambil duduk.
"ala pengen main Timezone pah, ayoook" rengek Ara dan di anggukin oleh mas Bram.
****
Sesampai di mall aku memandang suamiku yang kadang suka melirik cewek-cewek yang mungkin baginya itu cantik.
"ehemmmm" dehemanku membuatnya salah tingkah.
"gak bisa lihat yang bening dikit ya bapak" sindirku lagi saat melihat mas Bram melirik cewek.
mas Bram menghampiriku yang sedang menemani Ara bermain "kamu kenapa?? humm?" tanyanya.
"kenapa? mas nanya kenapa? oh iya, kenapa mas yang nanya??" jawabku yang ribet.
"hei , apa ini sayang? kenapa nanya balik?"
"sudahlah mas, lupakan. mata itu dijaga, disini juga ada kami, setidaknya hargain kami." ucapku lirih.
*****
Setiap harinya ayahku selalu mengantarkan ibuku untuk mengajar di sekolah SD dan selalu mengajak Ara menemani ayah.
Ara sangat antusias setiap di ajak, hingga akhirnya saat Ara memasuki umur 4tahun ia merengek untuk disekolahkan.
__ADS_1
Betapa terkejutnya aku saat melihat anakku meminta untuk sekolah, bukan karena aku tidak suka dengan permintaannya tapi kembali lagi dengan peraturan yang ada, sekolah mana yang menerima murid berumur empat tahun sementara ia minta SD bukan TK?
Sekalipun ibuku seorang guru tentu tidak mungkin bisa ia membantuku memasukkan anakku sekolah ditempatnya mengajar.
Nasehat demi nasehat telah kami beri pada putri kami, akhirnya ia mau untuk TK.
Bahkan untuk TK sebenarnya perlu berumur lima tahun. Banyak sekali pertimbangan yang harus dihadapin di sekolahnya nanti ini, akhirnya menerima putriku ini di sekolah ini namun ia harus sekolah dua tahun di TK ini.
Aku tak mempermasalahkan nya, karena bagiku putri kami juga masih muda bahkan sangat muda untuk sekolah .
Tapi siapa sangka bahwa putri kecil kami ini hanya perlu empat bulan saja sekolah ia sudah bisa membaca, Qadarullah..... bayi mungilku dulu telah tumbuh menjadi anak Sholehah yang pintar dan cerdas.
Hari berganti, bulan pun juga ikut berganti. Kini usianya sudah 5tahun lebih, dimana seharusnya ia masih harus melanjutkan TK nya satu tahun lagi.
"ma.... Ara bentar lagi SD kan ? mama gak bohong kan??" tanya nya sekali lagi memastikan .
(oh iya Ara sudah tidak celat lagi ya ngomong nya )
Aku kebingungan menjawabnya, satu sisi tak ingin membuatnya bersedih namun sisi lainnya ia harus terima kenyataan.
"nak, apakah di TK kamu tida senang??" tanyaku
"senang sih ma, tapi Ara bosan main terus, Ara pengen banget SD biar bisa lebih fokus lagi belajar" jawabnya jujur.
"hmm begitukah? memangnya kamu tahu dari mana kalau di SD lebih serius lagi belajarnya?" sambil meluk putriku.
"mama lupa ya kalau Ara sering ikut Oma ngajar?" tanya putriku lagi..
"sini dulu, duduk dipangkuan mama.." pintaku.
Ara langsung mendekatiku dan duduk di pangkuanku, tak tega rasanya menyakitinya karena putriku ini sangat senang belajar .
"begini sayang, syarat untuk SD itu harus berusia minimal 6,5 tahun, dan usia Ara belum cukup untuk itu nak, bisakah kita sekolah TK dulu untuk menunggu usia yang ditentukan?" tanyaku yang berhasil membuat Ara kesal denganku.
Ia turun dari pangkuanku "Ara tidak mau" jawabnya singkat dan berlari ke kamarnya.
BRUKKKKK
"hmm anak ini" gumamku.
Tak lama kemudian mas Bram pulang kerja, "Assalamu'alaikum"
"waalaikumsalam" sambil mencium tangannya.
"kok sepi? Ara mana?" tanya nya.
"dia merajuk lagi" jawabku lesu.
"karena sekolah lagi???" tanya mas Bram dan aku anggukin pertanda itu benar.
__ADS_1
mas Bram menggaruk telinganya yang tidak gatal "baiklah, nanti aku tanya lagi dengan pihak sekolah"
****
Setelah banyak pertimbangan akhirnya Ara diperbolehkan masuk SD dengan catatan tiga hari adalah tahap pengenalan, jika Ara tidak sanggup maka ia bisa berhenti sekolah karena pada umumnya memang tidak diperbolehkan sekolah.
Ini adalah hari ketiganya sekolah, dag Dig dug pastinya bagiku sebagai orangtua karena melihat semangat putriku yang begitu luar biasa membuat kecemasan itu hadir pula, aku takut ia akan sangat kecewa dengan hasilnya..
tok...
tok..
tok...
"permisi bu," sapa ku saat masuk ke ruangan kepala sekolah.
Ibu kepsek itu melirik ke arahku dan mempersilahkan aku untuk duduk didepannya.
"maaf nih Bu ganggu waktunya sebentar" ucapku.
ibu kepsek menggelengkan kepalanya dan tersenyum ke arahku "tidak masalah ibu, kalau boleh tau ada apa ya?"
"hmm begini Bu, maksud kedatangan saya kesini saya ingin mempertanyakan kelanjutan sekolah dari anak saya" penjelasan ku.
"kalau boleh tahu nama anak ibu siapa ya? dan kelas berapa?" tanya ibu kepsek.
"oh ya anak saya baru masuk Bu, namanya Farasya ia yang kemarin diterima dengan catatan masih di tahap percobaan tiga hari." jawabku.
"Farasya ya?? hmmm." coba nya mengingat kembali.
"oh ya saya ingat sekarang" lanjutnya.
"jadi bagaimana Bu? apa anak saya masih bisa melanjutkan sekolahnya? atau harus kembali ke TK?" tanyaku to the point.
Tentunya setelah melontarkan pertanyaan itu hatiku menjadi tidak karuan, putriku sangat bersemangat untuk sekolah.
"mohon maaf ya Bu" ucap kepseknya.
Degggggg
"karena saya harus mempertahankan anak ibu, Farasya merupakan anak yang cerdas dengan usianya yang segitu ia sudah lancar membaca , kami tidak mungkin menyia-nyiakan anak sepintar itu" sambungnya sambil tersenyum .
"hmm... APA?!" Tanyaku sambil melongo
"ya seperti yang ibu dengar tadi" jawab Bu kepsek pelan.
"Alhamdulillah, terimakasih Bu.." sahutku dengan senang
"tapi Bu, ada masalah.. karena anak ibu tidak cukup umur bisakah di raport dan ijazahnya nanti tahun lahirnya kami tua kan satu tahun diatasnya?" tanya Bu kepsek dengan nada datarnya.
__ADS_1
Tanpa mikir panjang dan tanpa tahu sebab akibatnya bagaimana, aku pun langsung menyetujuinya. Dalam benakku adalah "yang penting anak aku sekolah", itu sudah cukup .