
Satu Minggu kemudian,
aku sudah kembali ke rumahku ahhhh rumah yang kurindukan. walaupun masih ngontrak tapi rumah ini sudah memberikan banyak kenangan mulai dari kebahagiaan sampai dengan penderitaan.
"mas" panggilku
Kebetulan mas Bram sedang melewati kamar untuk mengambilkan aku air minum "ya, ada apa?"
"sini dulu bentar" sahutku, mas Bram langsung datang dan duduk di pinggir kasur.
"ada apa? Hm? ada yang sakit ?" tanyanya dengan lembut, sementara aku menggeleng.
"lalu ada apa?" tanyanya lagi.
"Rai... anu, Rai..... Rai mau-----" ucapku terpotong
"Rai mau apa?"
"kita pindah. cari rumah baru, biar punya suasana baru"
Mas Bram diam sejenak, lalu dia mengangguk "nanti mas Carikan kontrakan baru"
*****
"mamaaaaaah" teriak Ara
Aku menoleh saat mendengar suara putriku yang sedang berlari dan memelukku "pelan kak, jangan lari nanti jatuh"
"biarin, Ara rindu sama mama. mama nih kenapa doyan banget bunuh diri? mama gak kasihan sama kami?" protes nya seperti emak tiri.
Aku hanya diam dan mendengar semua ocehannya, wajar saja jika dia marah saat ini karena memiliki ibu yang sangat ceroboh dan ga bisa mengendalikan emosinya.
"maafin mama nak, lain kali mama gak akan buat begitu lagi"
"lain kali? udah punya niatan dong?" tanyanya sambil mendelik
"eh tidak tidak, tidak, jangan ngaur kak" sahutku.
"ma kemarin om Dion datang kerumah" ucap Ara
"beneran????" tanyaku dan Ara hanya mengangguk
"om Dion itu baik ya ma, gak kaya papa sukanya nyakitin mama" kata Ara sambil meluk tubuhku.
"eh kamu ngomong apa sih sayang? ga boleh ya nak, papa kamu itu baik sama kamu, ga ada orang tua yang jahat sama anaknya" ujarku
Ara tidak terima dengan penjelasanku dan langsung protes padaku "iya mama, itukan kalau sama anaknya tapi beda kalau sama mama, istrinya"
Sedangkan diluar ternyata sudah ada sepasang mata yang melihat kami, siapalagi kalau bukan ayahnya.
"ekhem" deheman nya membuat Ara jadi salah tingkah.
"Ara sayang, papa mau ngomong sama mama, berdua aja. boleh?" ujarnya.
__ADS_1
"tapi papa janji dulu sama Ara "
"janji apa sayang?"
"janji untuk tidak marahin mama dan nyakitin mama lagi" sambil menjulurkan jari kelingkingnya.
Mas Bram tersenyum sambil membalas jarinya Ara "iya papa janji" .
Ara langsung pergi meninggal aku dan mas Bram berdua di dalam kamar, mas Bram mendekat ke arahku, jujur saja saat ini hatiku sedikit deg-degan karena entah apa yang akan dibahasnya sekarang.
"mas mau jelasin sesuatu ke kamu" katanya sambil duduk di sebelahku.
"katakan saja mas " sahutku
"sebenarnya waktu itu kamu salah paham"
Mendengar ucapan itu, mataku langsung mendelik tajam ingin sekali rasanya aku menerkamnya argggghhh salah paham katanya? menyebalkan!
"ooh" ya, aku hanya ber oh riaaa.
"dengarin mas, dia itu client mas di kantor, dia mau ngurus surat. awalnya dia memang mau jumpa di kantor tapi karena mas lagi diluar dia akhirnya nemuin mas di sana"
hah??? bisa aja ya bhambank-_- terserah deh terserah, mau bilang apa juga terserah.
"terus kenapa mas disana? bukannya tempat itu jauh ya dari kantor?" sambil menatap matanya untuk mencari pembuktian.
"iya memang jauh dari kantor tapi saat itu jam makan siang jadi mas cari makan disana"
"oh gitu, sampai ga bisa jemput istrinya demi makan siang sendiri diluar kantor ya, hebat sekali wahai bapak" ucapku lembut namun menekankan setiap kalimat.
(loh kok ada ketawanya? sorry , yang ketawa itu author, kesel juga author lihat si bhambank eh salah maksudnya Bram 🤦)
"emh sudah sudah, sebaiknya mas tidur saja karena mas pasti lelah kan?"
"mas ga capek, kamu saja yang istirahat ya"
"oke deh" sahutku karena malas memperpanjang masalah.
*****
Hari ini adalah hari Minggu , anak-anak menagih janji kepada ayahnya untuk pergi dan sebenarnya aku malas ikut tapi kedua anakku memaksanya.
Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke pantai.
Diperjalanan, kedua anakku tampak bahagia banget, sesekali mereka bernyanyi dan tak lupa juga dengan berdebatnya.
Tibalah kami disebuah pantai , tempat yang begitu indah dengan ombak yang menyinari keindahannya.
Kedua anakku langsung berhamburan mendekati air di pantai nya sedangkan aku mendelik tajam karena takut mereka terjatuh
"ARA, FARHAN, JANGAN JAUH-JAUH YA NAK" teriakku dan beberapa saat mereka menoleh ke arahku
"Iya ma" sahut mereka.
__ADS_1
Aku langsung mencari pondok yang tempatnya berada tak jauh dari tempat anakku bermain agar mereka masih dalam jangkauan pandanganku.
"kamu gak ikut main Rai?" kata mas Bram
"aku disini aja mas jagain barang, mas pergi aja main sama anak-anak" ujarku dan mas Bram langsung mengangguk.
Sebenarnya aku ingin ikut bermain tapi rasanya aku masih belum menyukai kebersamaanku dengan mas Bram.
Setelah bermain sebentar mas Bram kembali ke arahku sementara anak-anak sedang duduk dipinggir pantai dengan kesibukannya dimana Ara membuat istana sedangkan Farhan menguburkan dirinya dengan pasir di pantai.
"Kamu kenapa tidak ikut main ?" tanya mas Bram lagi.
"mas lihat deh ombak itu" ujarku sedangkan mas Bram langsung melihat ke arah ombak.
"sebenarnya ombak dengan pasir itu saling membutuhkan ya mas namun takdir mereka memang tak bisa bersatu" ucapku.
Dengan pikiran yang masih menyimak mas Bram melihat wajahku "kalau mereka menyatu itu bakal ngeri dong sayang, pasti banyak makan korban"
"iya mas benar itu sebabnya mereka memilih untuk tidak menyatu karena mereka tau sebab akibatnya, mereka memilih untuk mengesampingkan ego mereka masing-masing untuk menyelamatkan segalanya"
ucapku sambil berdiri dan pergi menemui Ara.
Sedangkan mas Bram langsung terdiam, entah apa yang dipikirkannya saat ini. sadarkah? menyesalkah? atau apa? entahlah.
Ku lihat Ara sedang membuat istana aku jadi ingat dengan masa kecilku yang indah tanpa air mata.
"kamu senang nak?" tanyaku pada Ara .
Ara mengangguk "iya senang ma"
Aku tersenyum ke arahnya, dan aku juga merasakan kebahagiaan anak-anakku. Setelah itu pandanganku beralih ke Farhan yang sudah menguburkan dirinya hingga hanya tersisa bagian kepalanya saja.
"astaghfirullah!" kagetku sambil melotot
"Farhan!!!!!" ucapku lagi
"hai ma" sahutnya tanpa dosa.
"jangan dalam banget nguburnya ah, mama ga suka" ketusku.
"memangnya kenapa ma?"
"kamu mau mama kubur semua?" ancamku
"enggak ma" ucapnya sambil menunduk.
Astaga apa yang aku lakukan? bahkan aku marah-marah kepada anak yang tak tahu salahnya.
Sebenarnya ia tak salah, aku saja yang terlalu khawatir melihatnya.
... -----------...
*halo kakak-kakak baik hati, jangan pernah bosan ya.... dukung author terus dengan cara love favorite, komen dan vote nya hehehe.
__ADS_1
dukungan kalian moodboster banget buat Author, serius deh ga bohong ✌️
salam cinta, author ❤️*