
"lepasin!!!" teriakku.
Namun tak kunjung dilepas, Dion yang melihatnya pun langsung mengambil tindakan..
"bro, santai sama cewe... loe ya benar-benar gak bersyukur... istri loe sempurna gitu tapi loe sia-siain.." ucap Dion tiba-tiba.
"bukan urusan loe!" sahut suamiku.
"akan menjadi urusan gue karena dia teman gue. apa loe mau gue laporin polisi karena kdrt? ha?" ancam Dion berhasil membuat Bram melepaskan tanganku.
Saat mas Bram pergi dengan melangkahkan satu langkah tiba-tiba Dion bilang "kalau loe bosan dengan bini loe kasih gue aja, gua mampu kok buat dia bahagia, dan gua gak akan sia-sia kan air matanya walaupun hanya setetes, cam kan itu!"
Mas Bram seketika berhenti saat mendengarnya tapi ia sudah terlanjur malu dan akhirnya melangkahkan kakinya pergi..
"huh syukurlah" gumamku..
Dion melirikku sekilas "maafin aku Rai, seharusnya aku gak ngomong kaya gitu" lirih Dion.
aku menggelengkan kepala dengan cepat karena sepertinya saat ini ia sedang membantuku tanpa ada maksud mengambil keuntungan didalamnya "gak apa ion, gue yang harusnya terima kasih karena loe sudah bantu gue tadi"
"aku gak akan tega biarin kamu disakitin Rai, tapi apalah dayaku? dia suamimu dan aku tak berhak membantumu lebih dari itu" ucapnya menyesal.
"loe itu ngomong apa sih? sudah ah, lanjut aja lagi makannya yuk" sambil menyuapin Farhan.
sungguh aku masih mencintaimu Raina Amelia, ucap Dion dalam hatinya.
Tiba-tiba sebuah pesan masuk di ponselku, ya itu dari mas Bram.
📲 mas Bram
Dek, maafin mas ya.. mas khilaf, tolong maafin mas..
Maaf katanya? segampang itu? habis minta maaf lalu diulangin lagi, hmm menyebalkan. Aku memilih untuk tidak membalasnya.
📲 **mas Bram
tolong maafin mas, pulanglah kerumah. kita mulai semua dari awal ya..
📲 mas Bram
mas tahu kamu sudah baca pesan ini, tolong pulang kerumah kita ya.. kasihan anak-anak**..
**📲 mas Bram
dek??
📲 mas Bram
sayang**?
Dan masih ada beberapa panggilan yang tidak kujawab.
Aku kembali berfikir, apa sudah saatnya kembali?
kenapa pengkhianatan sekarang menjadi makananku?
apa aku Sudi berbagi suami dengan mereka? ah tidak! aku tak sebaik itu.
Lalu bagaimana dengan anak-anak?
Mereka tidak bersalah dan harus menanggung dosanya, maafin mama nak..
Tiba-tiba kepalaku pusing sekali, badanku lemas juga mata ini mulai kabur.. ada apa ini???
__ADS_1
seketika.....
brakkkkk
tubuhku terjatuh dan aku sudah tak ingat apa-apa lagi.
***
Saat aku membuka mata, kulihat anak-anak sedang tidur di sofa, eh tapi ini bukan rumahku dan bukan juga apartemennya Vira. lalu dimana aku?
ceklekkk
"hai Rai kamu sudah sadar, syukurlah" ucap lelaki itu saat masuk..
"Dion?? dan gue dimana? kenapa gue di infus? hah berarti dirumah sakit ya?" celoteh ku
"iya Rai, kamu dirumah sakit tadi itu kamu pingsan. huhf untung saja aku belum jauh dari situ" ucapnya
"ma--makasih ya Di--dion" lirihku
"gapapa, aku akan selalu ada untukmu" sambil mengusap kepalaku lalu aku membuang wajahku sampai ia berhenti melakukannya.
"ma--maaf" ucapnya lagi
"loe memang orang baik ion, " ucapku
"Rai kamu apa gak bisa manggil aku itu gak pake gue elo?" tanyanya tiba-tiba
aku menggeleng cepat "maaf Dion, tapi bagi gue panggilan itu udah lama mati"
"hmm ya sudah gapapa, kamu makan dulu gih" ucapnya sambil mengambil mangkuk makananku.
"ini makanannya, apa mau aku suapin?" sambungnya lagi
"anak pintar" ledeknya
"sialan loe" sambungku..
***
Malam hari, aku terbangun dari tidurku dan kulihat Dion masih saja setia menungguku diruangan ini sampai-sampai ia tertidur dikursi depan ranjangku .
'huh kasihan sekali kau Dion' batinku.
Dan yang ada dibenak ku sekarang adalah membangunkannya.
"Dion, bangun.. " sambil mengguncang tubuhnya
"emh , iya Rai, ada apa? kamu mau makan? atau apa?" sahutnya dengan suara berat khas baru bangun tidur.
"tidak, sebaiknya loe pulang saja.. sudah malam kashian Angel" saranku...
tak lama kemudian,
ceklekk
"mas?!" teriakku saat melihat orang yang baru saja datang, yah dia adalah mas Bram
"Raina bagaimana kabarmu?" sambil mendekatiku.
"jangan mendekat!" ucapku
Dari mana dia tau aku disini? pandanganku langsung beralih ke Dion yang sedang tersenyum kikuk.
__ADS_1
"Sorry Raina, aku rasa kamu butuh suamimu sekarang, dan kalian harus menyelesaikan masalah kalian.. " ujarnya dengan wajah yang tidak enak.
"ya sudah mau gimana lagi.. terimakasih sudah bantu gue ya" ucapku
"kalau begitu aku permisi pulang ya Rai, dan buat loe jangan pernah loe sakitin dia lagi atau gue yang akan bahagiakan dia" ucap Dion sebelum pergi.
Aku tertegun mendengar ucapan Dion, apa aku berpisah saja dengan mas Bram dan kembali ke Dion? arghhh sepertinya aku geger otak ini.
Mas Bram mendekatiku dan meletakkan buah di atas meja.
"sayang" panggilnya
Tiba-tiba anak-anak masuk ke ruangan "papaaaaaah!!' teriak mereka dan langsung berhamburan dipelukan ayahnya. Sesenang itukah mereka???
"sayang, darimana saja kalian?" tanyaku
"maaf mamah tadi kakak ngajak Farhan beli jajanan, Farhan lapar katanya" jawab anakku.
"astaga kalian lapar nak?" tanyaku lagi dan mereka mengangguk.
"berhubung papa kalian sudah datang, kalian ajak papa makan gih" ucapku
"benar juga, ayoo paaah" sahut Farhan sambil menarik tangan ayahnya.
Setelah pergi aku bernafas lega "huh syukurlah"
***
Hari berganti, akhirnya aku keluar juga dari rumah sakit ini. Setelah sampai di rumah aku langsung membaringkan tubuhku . Ya hari ini aku sudah kembali ke rumahku yang sudah dinodai ini, malas banget rasaya tapi aku tak boleh egois dan itu demi anak-anaku.
Mas Bram menghampiri ku "capek sekali ya Rai"
"hmm" singkatku
Semakin lama ia semakin dekat, eh mau ngapain dia?.
"berhenti disitu, mulai sekarang jangan dekat-dekat denganku, dan kita tidur berpisah." tegasku
"loh kok gitu , ga bisa gitu doong, kamu kan istri aku" bantahnya.
"ga ada penolakan atau kami tidak tinggal disini lagi" ucapku
"hmm oke oke tapi boleh dong peluk kamu sebentar saja" pintanya
"tidak boleh!" ujarku lagi.
"pelit banget sih sama suami sendiri juga" gumamnya yang masih bisa kudengar.
"ekhem, aku mendengarnya!" sahutku.
Setelah perdebatan panjang akhirnya aku menang dan aku tertidur , sangat melelahkan bagiku hari ini, ditambah lagi aku juga sedang merindukan kamar ini.
Keesokan harinya seperti biasa aku menyiapkan sarapan, kali ini aku memasak nasi goreng juga tak lupa pula aku membuat teh manis hangat dan kami memakannya bersama-sama.
"mah, pah, besok antarin kakak ya, kakak besok mau ikut lomba MTQ" ujar Ara tiba-tiba.
"beneran kak? Alhamdulillah, mama senang banget akhirnya kamu mau ikut lomba itu lagi" sahutku
"iya sayang besok papa anterin" ucap mas Bram.
"aku ikut juga ya" sahut Farhan .
***
__ADS_1