
Setelah anak-anak pada pergi barulah muncul ayahnya dengan wajah sok polos tanpa dosa.
"anak-anak sudah pada pergi Rai?" sambil mendekatiku yang sedang membersihkan meja makan.
Aku hanya melirik sekilas "hmmm"
"kamu masih marah ya sama mas?"
"pikir aja sendiri. sudah sana pergi kerja, cari kerja tambahan biar ada uang. keuangan kita tipis banget mas dan gak akan cukup untuk sampai ke akhir bulan, apalagi sampai nunggu mas gajian." celotehku.
"astaghfirullah dek, ga boleh ngeluh gitu.. tandanya kamu gak mensyukuri nikmat Allah" katanya buatku semakin emosi
"mohon maaf ni ya bapak, bukannya mau ngeluh tapi ini faktanya dan karena mas kepala keluarga yang memang bekerja jadi sudah sepatutnya mas usaha lebih giat lagi untuk mendapatkan uang.
Ah iya, satu lagi. Gak ada sarapan kali ini, makan angin aja" sambung ku.
***
Sore hari, aku berencana menjemput anak-anak dirumah orangtuaku. ya, aku sengaja menyuruh mereka sepulang sekolah untuk pulang kerumah nenek kakeknya. Mau gimana lagi, demi kelangsungan hidup aku harus tebal muka depan orangtuaku.
Kebetulan jarak antara rumahku dan orangtua tidak terlalu jauh dan aku memilih untuk berjalan kaki kesana.
Di simpang rumah kedua orangtuaku ada satu warung yang didalamnya orang sering main bilyar dan tak sedikit bermain jud*.
Tiba-tiba mataku tersorot ke seorang lelaki yang amat kukenal orangnya.
degggg!!!!
Ya, dia adalah mas Bram. untuk apa dia disana? ahhh jadi selama ini dia membohongiku? sakit banget rasanya tapi aku harus tahan itu . Aku mempercepat langkahku menuju rumah orangtuaku agar mas Bram tidak melihat kerapuhan ku.
tok tok tok (sebelum masuk aku mengetuk pintu dulu)
"assalamu'alaikum" ujarku
"wa'alaikumussalam" jawab semuanya serentak
"mamaaaaaa" sahut kedua anakku sambil berlari ke arahku dan aku memeluk mereka.
"anak mamah, sudah makan sayang?" tanyaku sambil meluk mereka.
"sudah mah, Ara makan udang sambal, enak maaah" cicit Ara
Aku tersenyum lega mendengarnya "masyaallah, anak-anak mama pintar ya" sambil tersenyum.
Ayahku menatapku dengan lekat, melihat mata senduku yang tak bisa kututupin dan pasti sekarang ia tahu bahwa anak gadisnya ini sedang tidak baik-baik saja.
"Raina kita ke depan dulu yuk" ajak ayahku.
aku mengangguk "baiklah pa, oh iya anak-anak mama yang cakep ini disini aja ya nonton bareng Oma, mama ke sana dulu bareng opa, okey?" pamitku
__ADS_1
"siap maaaah" ucap mereka serempak.
Ayahku sudah lebih dulu duduk di depan tepatnya di terassl rumah, sedangkan aku menyusul dari belakang karena tadi habis pamit dengan anak-anak.
"ada apa pah" ucapku sambil duduk disebelah ayahku.
"apa kamu baik-baik saja nak?" tanya ayahku membuat mataku menjadi mulai berkaca-kaca.
"tentu saja" jawabku sambil nunduk.
"siapa ini yang mau kau bohongi? kamu tuh anak papa, katakan sebenarnya ada apa?" tanya ayahku serius.
"hikss...hiks...hikss...." aku menangis sejadi-jadinya dan ayahku langsung memelukku..
"pah aku sudah gak kuat lagi pah hiksss...hiksss" ucapku.
"menangis lah nak sepuasnya, tapi setelah ini papa gak mau air mata mu ini jatuh lagi untuk orang yang sama, nangislah" sambil mengelus punggungku
"mas Bram jahat hiks.... mas Bram-----" ucapku terpotong
"apa dia menduakanmu lagi?" tanya ayahku
"Rai ragu pah, hiks.... Rai gak tahu ini feeling Rai atau emang nyatanya hiks tapi yang jelas saat ini keuangan kami mulai menipis hikss hikss" sambil tersedu-sedu
ayahku melepas pelukannya "baj*ngan anak itu!!!! ayah tadi ngelihat dia di----" ucap ayahku terpotong saat ia menyadari kalau ia sedang keceplosan.
"ah tidak, lupakan. hmm apa kalian mau langsung pulang? " sambil mengalihkan pembicaraan.
"iya pah, sudah sore, bentar lagi mas Bram kan pulang" ucapku jujur.
Sontak ayahku langsung salah tingkah, aku tak mengerti maksudnya kenapa, tapi yang pasti aku tahu ayahku sedang menutupi sesuatu kepadaku.
"pah? ada apa?" tanyaku
"enggak sayang , gapapa" jawabnya singkat
"papa lupa Raina anak papa? Raina tahu papa lagi bohong sekarang" selidikku.
Belum sempat ayahku menjawab, tiba-tiba tetangga ayah lewat depan rumah sambil menyapa kami.
"opa Ara.... Rai" sapanya. Sejak Ara lahir ayahku sering dipanggil opa Ara oleh tetangga kami.
"eh dari mana Deb?" tanya ayahku
"dari pasar wak" Jawabnya.
"eh iya Rai, sudah sore kenapa suamimu masih disana?" tanyanya polos.
"hah?" kagetku.
__ADS_1
Sementara ayahku sudah menggaruk telinganya yang tidak gatal, aku langsung melihat ayahku meminta jawaban tapi ayahku hanya menggelengkan kepala, lalu kulihat lagi mbak Debi yang tadi memberikan infonya kepada kami.
"maaf mbak, maksudnya gimana ya?" kataku
"loh jadi kamu tidak tahu? tuh suami kamu ada di warung kopi depan tadi aku lihat lagi main bilyar. hmm kalau begitu aku balik dulu ya Rai, mari Wak..." ucapnya
PRANGGGGGGGGGG!!!!
Bagai tersambar petir dengarnya, emosiku sudah dipuncak teratas huh, bisa-bisanya dia main ju*i sementara anak bininya sedang kelaparan.
Walaupun aku tak tahu apakah dia hanya main bilyar saja atau ikut main ju*i, tapi yang aku tahu sebagian besar yang disana adalah orang-orang yang ikut bermain ju*i.
Sungguh, aku sangat kecewa, aku tak ingin keluarga kecilku ini hidup dari hasil uang haram, nauzubillah.
"papah, apa ini yang tadi papa tutupin dari aku? jawab pa?" sambil.mata berkaca-kaca.
Ayahku masih saja diam membisu.
"hiks... jawab paaaaaa" pintaku
"sabar nak" sambil memelukku.
"kenapa ini semua terjadi pada Rai pa, kenapa pa hiks...."
"kamu bisa bicarakan ini baik-baik dengan suamimu nak"
"Rai gak bisa pah, Rai mau pisah aja... sakit banget rasanya pah, dia hanya bisa nyakitin Rai pah... hiks..."
"pelankan suaramu, apa kau mau anak-anakmu mendengar kau menangis?"
"biarkan saja mereka tahu, biar mereka juga tahu bagaimana kelakuan ayahnya sebenarnya.
"itu juga bisa memudahkan ku untuk meminta pisah dengannya, kalau perlu ia menceraikan Rai"
"hussttt jangan ngomong gitu, pikirkan anak-anakmu. Hati mereka akan sangat sakit nak, pikirkan dengan kepala dingin" sambil mengelus kepalaku.
Aku menatap ayahku penuh harap "pah seandainya kami berpisah, apa papa masih mau menerima anak papa ini kembali lagi kerumah bersama anak-anaknya? tentu saja ini akan menambah beban untuk papa dan mama"
"kau ini ngomong apa? hah? sampai kapanpun bahkan sampai aku mati, kau tetap anakku. ini rumahmu. mereka cucuku, aku sangat menyayanginya.
papamu ini sudah tua, akan sangat bahagia jika cucu-cucunya berada disisi papa , mengerti?"
"maafin Rai pa, Rai ngecewain papa" sambil menyeka air mataku.
"aku akan suruh anak-anak memanggil ayahnya untuk pulang, biar dia tanggung malunya itu... huh..." ucapku lagi..
Tanpa menunggu jeda, aku memanggil Ara dan Farhan
"Ara...... Farhan.... kemarilah" teriakku.
__ADS_1