KAU MENDUA

KAU MENDUA
Bab 13


__ADS_3

"assalamu'alaikum" teriak Ara berhamburan ke pelukanku.


"waalaikumsalam sayang mama, kenapa wajahnya ditekuk gitu?" tanyaku heran.


"mama, Ara mau nanya... boleh gak sih kita ngurusin agama orang lain?"


nah loh?


kok?


Aku mengerutkan keningku, pertanyaannya membuatku memutarkan otak agar apa yang aku jawab itu dengan bahasa yang baik.


"hmm begini sayang, sebelum mamah jawab, kamu hafal Surat Al-kafirun kan? ayo dibaca dulu beserta artinya, mama mau dengar"


Ara menganggukkan kepalanya.


"Farhan sini nak, dengarin kakak mengaji" pintaku saat melihat Farhan keluar dari kamarnya.


"baik mah" sahut Farhan


...*sebelumnya maaf nih kalau author salah ya"...


bismillahirrahmanirrahim


qul yaa ayyuhal kaafirun


'katakanlah (Muhammad) wahai orang-orang yang kafir!'


laa a'budu maaf takbuduun


'aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah'


wa laa antum aabiduuna maa a'bud


'dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah'


waa laa ana 'a bidum maa abattum


'dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah'


wa laa antum aabiduna maa a'bud


'dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah'


lakum diinukum wa liya diin.


'untukmu agamamu dan untukku agamaku.'


shodaqallahuladzim.


Masyaallah, aku terpaku mendengar anakku mengaji, suaranya begitu indah dan aku berdoa dalam hati semoga Allah selalu melindunginya.


"mamah? haloow?" ucap Ara sambil memegang bahuku.


"hmm iya nak? eh maap mama jadi melamun gini hehehe" ucapku ga enak hati


"tadi mama mau ngomong apa ya? mama terhipnotis dengan suara kak Ara, jadi lupa mau ngomong apa hahahha sorry cantik" sambungku jujur.


"mama mah gak asik" sahutnya sambil ingin pergi tapi tangannya keburu aku cekal.


"duduk nak" titahku

__ADS_1


"mama akan jelasin, begini sayang... dari surah tersebut kita bisa menyimpulkan kalau dalam beragama kita harus bertoleransi, dan saling menghargai, di ayat terakhir kita sudah baca kan untukmu agamamu dan untukku agamaku? jadi kita tidak perlu ngurusin agama orang lain, setiap agama pasti mengajarkan kebaikan sayang, fahimtum?"


"Fahimna" sahut Farhan dan Ara.


"Masya Allah nak, semoga kalian menjadi anak yang Sholeh dan Sholehah ya, mama bangga dengan kalian" ucapku dengan mata berkaca-kaca membuat kedua anakku berhamburan memelukku.


***


Sore harinya, mas Bram pulang dengan plastik penuh di tangan kanan dan kirinya, apalagi itu isinya kalau bukan mainan untuk kedua anaknya. huh menyebalkan.


"assalamu'alaikum"


Kedua anak kami berhamburan lari kearahnya karena melihat plastik yang dibawa ayahnya "waalaikumsalam, papaa"


"ini untuk kakak, dan yang ini untuk adek" ucap suamiku


"asiiik, terimakasih papa" sahut mereka barengan dan sesegara mungkin pergi ke kamar untuk membuka isinya.


Setelahnya, aku mendekati suamiku dan mencium punggung tangan mas Bram "mainan lagi mas?" tanyaku.


"iya, gak papa lah sekali-sekali" jawabnya.


"ya gapapa asalkan jangan terlalu boros, kebutuhan kita banyak sebaiknya uangnya disimpan mas" saranku dan diabaikan begitu saja.


"ini gaji mas" ucapnya sambil memberikan amplop berisi uang itu.


aku mengangguk dan mengambilnya "mandi gih, Bauk" pintaku jujur.


"ck , ada uang Abang sayang lah ya" sindir suamiku sambil pergi


"ya, ga ada uang Abang kutendang hahaha" sahutku dengan nada sedikit tinggi.


Tak terasa kini hari menjadi sore dan sebentar lagi akan Maghrib, kami bersiap untuk sholat. aku dan Ara sudah menunggu di barisan belakang, sedangkan Farhan sedikit didepan kami dan tentunya mas Bram sebagai imam.


"assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh,


assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh"


selesailah sholat tersebut, dan dilanjut dengan do'a.


"Salim papa nak" pintaku


Setelah kedua anakku Salim kepada ayahnya aku pun langsung Salim dan mas Bram mencium keningku.


Bahagia sekali, bukan?


ya, keluarga kecil ini pasti sangat bahagia jika tidak ada orang lain yang mencoba masuk kedalamnya.


Setidaknya , walaupun mereka ingin masuk dan mencobanya tetapi orang yang didalam ini tidak mengizinkan pasti tak akan bisa masuk, iya kan?.


Aku akan terus bertahan sesulit apapun itu yang nantinya harus aku hadapin. Sampai kapan?


Sampai nanti, saat hati ini sudah tak tahan lagi.


Aku tau setiap rumah tangga tak akan pernah berjalan mulus, tapi haruskah cobaan itu dengan cara mendatangkan orang ketiga?


Entah lah, sebagai manusia aku hanya bisa sabar dan ikhlas. semua itu untuk kedua anakku karena mereka butuh ayah dan ibunya.


***


Hari ini adalah hari Minggu, anak-anak menagih janji pada ayahnya untuk liburan. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi memancing saja dan sengaja. tempatnya agak jauh dari rumah.

__ADS_1


Suasananya masih asri perkampungan, banyaknya pepohonan dan masih jarangnya rumah ditambah lagi banyaknya sawah menggambarkan indahnya daerah ini.


Masyaallah, nikmat tuhanmu manakah yang kamu dustakan??


"sampai" ucap suamiku.


"horeeee!!" teriak anak-anak yang sangat antusias


lalu mereka mengambil pondok di paling ujung, aku juga ga tahu kenapa anak-anak memilih pondok paling ujung.


mas Bram pun memulai kegiatannya, 5 menit berlalu, 10 15 bahkan sudah 20 menit, ikan belum juga berhasil ditangkap.


Ya, memancing memang butuh kesabaran yang extra.


"Ara mau coba dooong" ucap anakku dan dipersilahkan sama ayahnya.


laluuuuu, happpppp


"papaaaa, bantuin... ini sungguh berat, kayanya Ara dapat deh" teriaknya dan dibantu oleh suamiku.


"wahhhhh gede banget" sahut kami barengan saat melihat ikan yang ditangkap Ara .


Mata Ara berbinar melihatnya, ia pasti sangat senang sekarang .


Farhan yang melihat kakaknya berhasil pun tak mau kalah untuk mencobanya ,


setelah 2 menit, dan happpp


"nah lihat, adek punya juga ditangkap, bantuin dong" ucap Farhan


Setelah pancingan berhasil di ambil, seketika semua pada diam, dan sedetik kemudian "pfhhhhh hahahahhahahahah"


semua terkekeh kecuali Farhan, ia malu sekali bahkan sampai menangis, maaf ya nak.


Bagaimana tidak? ia malah mengambil sepatu yang berada didalam kolam, entah sepatu milik siapa itu.


"cengeng banget sih, wleeee " ledek Ara


"huaaahhhh mamaaaa hikssss hiksss" tangisannya pecah.


"kakak ga boleh gitu sama adiknya" tegurku


"ya sudah sekarang coba lagi, mana tau dapet kan" ucap Ara .


Tiba-tiba tangisan Farhan berhenti dan mengikuti saran kakaknya, benar saja ikannya langsung dapat walaupun kecil.


"ciyeeee" goda kakaknya.


"aku berhasilkan?" ucap Farhan


"ya walaupun tak sebesar punyaku, hihi"


Farhan langsung diam walaupun ia tidak marah lagi karena perkataan kakaknya kali ini benar.


Setelah beberapa jam akhirnya suamiku menimbang ikan yang sudah ditangkap lalu menyuruh pemilik tempat pemancingan itu untuk langsung membakarnya dan beberapa menit kemudian kami langsung menyantapnya.


"huh kenyang, Alhamdulillah" ucap Ara


"gimana gak kenyang, ikan yang ditangkapnya dihabisinya sendiri huuuu rakus" ledek Farhan


"syirik banget sih , nikmatin hasil pancingan sendiri itu lebih mantap" sahut Ara.

__ADS_1


"sudah, sudah. jangan pada berantam, Ayuk kita pulang" ucap mas Bram.


__ADS_2