
Beberapa bulan kemudian, mas Bram merasa bersalah karena tidak pernah ada waktu untuk anaknya. Hari ini ia berencana untuk mengajak Ara dan Farhan jalan-jalan mungkin saja menginap di puncak karena memang hobinya mas Bram mengajak keluarganya menginap.
"bajunya sudah dimasukin ke dalam tas nak?" tanyaku pada Ara
Ara mengangguk, "sudah ma"
"coba cek ulang, siapa tahu ada yang tertinggal" pintaku lalu tiba-tiba Farhan memelukku.
"ada apa nak?"
"yang tertinggal itu mama, apa mama bisa ikut juga?"
Aku tersenyum "Mama gak bisa ikut sayang"
Aku terpaksa jujur dengan anak-anakku walau aku tak memberitahu apa alasanku untuk tidak ikut pergi. Aku tak tahu apa mas Bram sudah menikah atau belum dengan Friska karena kabarnya wanita itu sudah bercerai dengan suami sahnya setelah aku dan mas Bram bercerai. Aku tak mengerti dengan takdir, kenapa menyatukan dua insan yang sudah memiliki tulang rusuk , tapi aku percaya takdir jugalah yang menunjukkan kebenaran mana yang baik dan mana yang munafik.
tin tin
Mas Bram datang mengendarai mobil yang sengaja ia sewa. Aku langsung memanggil kedua anakku untuk keluar rumah, orangtuaku sudah membawakan tas mereka ke dalam mobil itu sementara aku pergi ke dapur untuk membawakan bekalnya.
"ini nak bekalnya"
"makasih mama"
"sama-sama sayang, hati-hati ya nak"
"kamu benar-benar gak mau ikut?" tanya mas Bram tiba-tiba.
degggg..
harusnya kita tidak bicara, Bram!
Aku menggeleng "sebaiknya tidak, jaga anak-anak dan hati-hati di jalan"
Lalu mas Bram mencium tangan ayah dan ibuku "pergi dulu ya Ma, Pa, Rai , assalamu'alaikum"
"waalaikumussalam.
Aku menatap mobil itu pergi dengan batinku berkata 'berbahagialah nak'
***
Keesokan harinya mereka belum juga pulang, jujur saja aku sangat khawatir karena ini sudah malam juga hujan yang melanda .
Kilauan petir membuatku semakin takut, tapi tiba-tiba mobil yang kutunggu pun datang.
Aku langsung membuka pagar dan terlihat Ara sudah tidur pulas. Mas Bram membawanya ke kamar, sedangkan Farhan sedang asik duduk di teras.
Namun saat ayahnya ingin pulang ia menahan tangan ayahnya "jangan pulang pa, adek pengen dipeluk dengan papa saat tidur"
deggg
Terlihat mas Bram menjadi salah tingkah.
"Nak, papa mu sudah memiliki rumah untuk pulang"
"Benar kata mama, sini sama opa boboknya "
Namun Farhan masih enggan untuk melepaskan ayahnya. Bagaimana ini?
Ibuku langsung menghampiri Farhan "cucuku sayang, besok kalau jumpa papa masih boleh kok"
Lagi lagi, Farhan masih enggan untuk melepaskan ayahnya. tumben?
Mas Bram melihat kami secara bergantian, aku menggelengkan kepala sedangkan keputusan ada di orang tuaku.
"Ya udah Bram kamu boleh nemenin Farhan sampai ia tidur"
__ADS_1
Kami meninggalkan mereka dikamar, aku pergi ke kamar bekas adikku dulu yang sekarang telah dijadikan tempat bermain oleh kedua anakku.
Aku ketiduran sampai pagi, begitu juga yang lain hingga tak bisa membangunkan mas Bram untuk menyuruhnya pulang.
Pagi hari yang masih subuh tiba-tiba rumah kami di gedor oleh seseorang
TOK TOK TOK
"MAS BRAM! KELUAR! BUAT APA DISINI SAMA PELAKOR! CEPAT KELUAR!"
deggggg
Pelakor katanya? apa dia sedang bercermin?
Suara itu mengagetkan kami semua, aku dan kedua orangtuaku langsung keluar
ceklek
"AKHIRNYA KALIAN KELUAR JUGA! HUH" teriak wanita itu
"Heh, jangan teriak-teriak! ngapain kamu disini ha?" kataku dengan berkacak pinggang.
"AKU DISINI CUMA MAU BAWA PULANG SUAMI AKU, KENAPA KALIAN SEMBUNYIKAN DIA DISINI?"
"Dengar ya Friska, ga ada yang sembunyikan suami loe disini. Dia sendiri yang mau lihat anaknya, dan lagi apa loe gak sadar yang pelakor siapa? ha? dasar wanita gak tau malu!"
Pertengkaran itu mengundang banyak orang yang melihat, tak sedikit yang berbisik-bisik walau tahu pada kenyataannya seperti apa.
"KELUAR MAS!"
Tak lama kemudian mas Bram keluar, ia menghampiri istrinya .
"kamu ngapain disini? pulang sana!" ucap mas Bram membuat kami menjadi tersenyum senang
"Aku disini mau jemput suami aku, ayo pulang!" sambil mendelik
Mas Bram berjalan mendekati kedua anaknya "maafin papa ya nak, papa pergi dulu"
"papa hikss jangan hikss tinggalin kami hiksss" isakan itu membuat hatiku seperti dicambuk.
"maaf nak, papa harus pergi"
Lalu Mas Bram pergi mengikuti Friska, saat di ambang pintu aku menahan mereka.
"Tunggu!" lalu mereka membalikkan badan
"Aku gak masalah kalian menyakitiku, tapi kalian lihat anak-anakku, tangisan nya harus kalian bayar suatu saat nanti, cam kan itu!"
brukkkkk
Pintu rumah kututup dengan kuat, aku langsung memeluk kedua anakku.
"sudah nak, jangan ditangisi lagi"
"Adek benci sama papa!"
"Kakak juga!"
***
Enam bulan kemudian,
Alhamdulillah usahaku sudah semakin maju, kini aku juga membuka warung tempat tongkrongan anak muda .
Kabarnya, mas Bram saat ini sedang belajar akademik untuk kenaikan pangkatnya di Bali dan beberapa Minggu lagi akan pulang .
"mama kita jadi kan ke mall?"
__ADS_1
Aku mengangguk "tentu sayang"
Kami pergi ke mall sementara warungku sudah aku titip dengan karyawanku walau cuma satu orang.
Di mall anakku tampak bahagia, mereka sudah bisa membeli apapun yang mereka mau dengan jerih payaku sendiri walau tak banyak setidaknya cukup untuk mereka.
Farhan memesan ice cream, lalu saat ia hendak balik arah tiba-tiba...
BRUKKKK
"Astaga!" pekikku , aku langsung menghampirinya .
Aku melihat yang ditabrak anakku adalah seorang lelaki paruh baya .
"kamu tidak apa-apa?" tanya lelaki itu pada Farhan.
"Maafkan anak saya pak" ucapku membuat lelaki itu menoleh
"iya tidak apa-apa Bu"
"astaga, baju bapak jadi kotor, izinkan kami menggantinya pak"
Lelaki itu menggeleng "tidak Bu, tidak apa-apa"
Lalu datang seorang anak perempuan seusia Ara menghampiri lelaki itu. "ayaaah!!!"
"hei sayang" ucap nya.
Ara yang memang dari toilet pun juga ikut bergabung dengan kami.
"Ara!!!"
"Syifa!!!"
Mereka saling pandang, loh kenal?.
Lalu keduanya saling pelukan "kamu ngapain disini?" kata Ara, lalu anak itu yang bernama Syifa juga mengatakan hal yang sama setelah itu mereka cekikikan.
"kalian saling kenal?" tanya lelaki itu heran
"iya yah, ini Ara sahabat aku disekolah" Lalu kami semua mangut-mangut
"kalau begitu kami deluan ya pak"
"tunggu Bu, bagaimana kita makan siang dulu?"
"iya Ara, Ayuk...." kata Syifa, lalu Ara menatapku dan aku mengangguk
"asyik!!!" kata keduanya.
Kami pun berjalan menuju sebuah Cafe dengan Ara juga temannya bernama Syifa berjalan seperti menuntun jalannya kamu didepan. Aku , Farhan dan Ayahnya Syifa berada di belakang mengikuti mereka. Sesekali kami saling pandang namun setelah sadar langsung membuang muka. loh ada apa ini?.
Akhirnya kami sampai dan duduk di pojokan.
"ehm, kita belum kenalan Bu. Nama saya Rasyid."
Aku tersenyum "nama saya Raina".
.
.
.
.
*dukung author terus ya, gampang kok tinggal like, komen, vote dan sesekali bolehlah dikasih hadiah heheh canda hadiah.
__ADS_1
salam cinta, author♥️♥️♥️*