KAU MENDUA

KAU MENDUA
Bab 46


__ADS_3

...Ternyata, ada yang lebih berat dari menggenggam suatu kebahagiaan, yaitu melepaskannya jika bahagia mu dan bahagianya sudah tak satu tujuan ~ Raina Amelia...


... ------------------...


 


Aku benar-benar mengalami hari sebagai orangtua tunggal dari kedua anakku. Ada rasa lega dalam hati ini juga ada rasa bersalah saat memandang kedua anakku.


Belasan tahun hidup dengannya tak munafik jika aku saat ini sedang merasa kehilangan, semua kebiasaan yang sudah dilewati akan menjadi kenangan.


Kadang lucu ya, mempertahankan sendirian itu sakit, namun melepaskannya itu berat.


"maaah" sambil memelukku.


"eh kakak, sudah pulang nak?" sambil kuhapus air mata yang sudah mengalir deras.


Ara mengangguk "dari tadi, Ara juga sudah ucap salam tapi mama gak balas"


"maafin mama ya anak cantik" sambil kupaksa tersenyum.


Ara mengganti pakaiannya, sedangkan Farhan sudah lebih dulu pulang sekolah bahkan sekarang ia sedang bermain didepan rumah.


"mah, kakak sama Farhan diajak papa jalan-jalan, boleh gak?" tanya Ara sambil tersenyum.


kenapa harus tersenyum? apa kalian bahagia nak?.


Aku terdiam sejenak, lalu aku mengangguk "itu kan papa kalian, masa iya mama ngelarang"


"makasih mama sayang" sambil memelukku lagi.


Kedua anakku makan siang, lalu tak lama ayahnya datang dengan mengendarai motor. Ingin sekali rasanya mengantar mereka kedepan tapi apalah daya hati ini tak sanggup untuk berjumpa.


"mama, adek pergi dulu ya" pamit Farhan dengan mencium tanganku juga disusul oleh Ara .


"hati-hati sayang"


"assalamu'alaikum"


"waalaikumussalam"


Author POV on


Sementara ditempat lain, Ara dan Farhan sudah bersama ayahnya, Bram terlihat sangat senang saat berjalan dengan anaknya.


Bram mengajak kedua anaknya ke sebuah cafe yang berada di dalam mall tapi saat mereka memilih makanan tiba-tiba seorang wanita datang.


"halooo kesayangan tante" ucapnya sambil duduk di kursi kosong yang berada didepan mereka tepatnya di sebelah Bram.


Ara dan Farhan langsung kaget, wajahnya langsung berubah menjadi murung, Ara menatap ayahnya dengan raut kekecewaan. Bram sadar itu, tapi dia bisa apa?.


"sudah lama ya?" ucap wanita itu lagi.


Ara terpaksa mengangguk sementara Farhan memilih diam.


"Ara sayang, di Salim dong tantenya" pinta Bram yang mendapatkan tatapan tajam oleh anaknya.

__ADS_1


"ah iya" Ara langsung ngikut saja apa yang disuruh oleh Bram, begitu juga dengan Farhan


"eh jangan panggil Tante dong, panggil mama ya" ucap wanita itu


'dikasih hati minta jantung ' dalam hati Ara yang sudah sangat kesal dengan kedua orang yang berada didepannya.


"no Tante, mama kami dirumah, mama kami cuma satu. yaitu mama Raina Amelia" kali ini Farhan yang berbicara sementara Friska yang mendapat ucapan itu langsung tersenyum kecut.


"emhh sayang, panggil ibu saja kalau begitu, okay?" saran Bram.


"yayayya" sahut Ara


"kak, Farhan pengen pulang" bisiknya , lalu dibalas oleh Farhan "sama dek , tapi kakak ga tahu jalan pulang . kita pasrah aja ya, daripada kita hilang nanti"


Akhirnya mereka pun pasrah, setelah makan mereka di ajak belanja, membeli pakaian , sepatu bahkan juga mainan.


Mungkin itu cara untuk mengambil hati anak-anaknya, tapi tanpa Bram dan Friska tahu kedua anak Bram itu tidak sama sekali luluh dengan itu semua walaupun mereka menerima pemberian dari Bram dan Friska.


"kalian suka?" tanya Bram dan keduanya mengangguk tanpa ekspresi


"habis ini kita mau kemana nih?" tanya Friska


"PULANG!" sahut mereka barengan


"gak mau jalan-jalan dulu?" tanya Bram


"no, pa... Ara besok ada------" ucap Ara menggantung karena dia bingung alasan apa yang harus dikatakannya.


"ada ulangan , iya kan kak? tadi kakak bilang besok kakak ada ulangan matematika kan?" kata Farhan sambil mengedipkan matanya.


Bram dan Friska saling tatap lalu Friska mengangguk , setelah itu mereka diantar pulang oleh Friska dan Bram naik mobilnya Friska.


Keduanya ingin mengantarkan sampai rumah, tapi Ara menolaknya, ia takut jika ibunya melihat maka ibunya akan marah, mungkin tidak marah tapi akan sakit hati dan Ara tidak mau itu terjadi.


"turun sini aja pa" kata Ara di simpang gangnya


"kok gak sampai rumah sayang?" tanya Friska


"maaf Bu, tapi kami harus menjaga hati yang masih terluka. assalamu'alaikum" ucap Ara sambil turun.


Ara dan Farhan memilih jalan kaki dari simpang gangnya, sudah terlihat ada seorang wanita hampir paruh baya itu sedang menunggu kedua anaknya pulang lalu mereka berlari dan memeluknya.


Author POV end


Sudah sore hari, aku memilih duduk di teras untuk menunggu anakku pulang. Memang aku tak tahu mereka pulang jam berapa atau bahkan mereka tak pulang hari ini, tapi ingin saja rasanya menyambut mereka didepan.


Tiba-tiba aku melihat kedua anakku berlari dan langsung memelukku


"mamaaa" ucap mereka.


"loh anak mama kenapa jalan? papa kalian mana?" bingungku sambil melihat arah belakang mereka ternyata ada sebuah mobil baru saja berjalan setelah melihat Ara dan Farhan sudah sampai didepan rumah


"didalam sana ada ib------" ucap Farhan terpotong


"AC nya dingin banget mah, Ara gak kuat makanya Ara milih jalan" sahut Ara sambil mengedipkan matanya pada Farhan.

__ADS_1


Aku melihat itu, dan aku sadar sepertinya mereka memang sengaja menjaga hatiku. Tak terasa air mataku menetes melihatnya


"mama jangan nangis" ucap Ara sedangkan Farhan langsung menghapus air mataku


"mama gak menangis sayang , mama hanya terharu ternyata anak mama sudah besar ya" ucapku sambil tersenyum.


Aku melirik paperbag yang mereka bawa "ciye ada yang belanja nih"


"mama ga suka ya? biar Farhan buang saja"


"iya ma, kita buang aja ya"


Aku menggeleng "jangan sayang, kenapa harus dibuang? kita lihat yuk, masuk dulu dong..."


Lalu kami masuk ke dalam rumah ternyata ayah dan ibuku juga menanti mereka.


"opa... Oma.."


"wah cucu opa sudah pulang, habis belanja nih kayanya"


"ada yang sok baik Opa" sambil cekikikan


"husst gaboleh gitu sayang"


"bener kok tadi awalnya cuma sama papa aja bertiga kami, Farhan senang dong tapi tiba-tiba datang tante-tante nyebelin, sok baik pake nyogok belanja segala" kata Farhan panjang lebar


"Farhan!!!" bentak Ara sambil melotot


Farhan langsung menutup mulutnya dan melihat ke arahku "maafin Farhan ma, Farhan gak sengaja"


"aku mengelus kepalanya "kenapa harus minta maaf sayang? ga salah kok nak" ucapku.


***


Keesokan harinya, aku sedang membersihkan halaman namun tiba-tiba


tin tin


klakson mobil berada di depan rumahku, tapi setelah lihat mobilnya aku sudah tahu siapa orangnya, mereka adalah grup rempong.


"Raina!!!!!" ucap mereka bertiga barengan setengah teriak.


"apa?" jawabku santai


Mereka berjalan dan masuk ke halaman rumah "tamu datang tuh disambut gitu"


ccctakkk


"aw! sakit!" keluh Abel


"rasain, siapa suruh datang? ga ada kan? ya sudah"


"ngeselin banget sih, sayang.... jidatku sakit" rengek Abel


"wow sombong guys ada yayang beb ahhahah" kataku sambil tertawa

__ADS_1


Lalu ketiga sahabatku tersenyum "akhirnya Raina kami kembali"


__ADS_2