KAU MENDUA

KAU MENDUA
Bab 50


__ADS_3

"Ini siapa?" Tanya Mas Bram tiba-tiba.


"Ini-------"


"Pa, ini ayah kami" kata Farhan membuat Mas Bram tercengang Lalu saling pandang dengan Friska.


ekhem


Mas Rasyid memperkenalkan dirinya "Panggil saja Rasyid".


Cukup lama mas Bram terdiam, aku juga tidak tahu apa yang ada di pikiran nya, jika aku boleh nebak saat ini ia sedang kecewa. Memangnya apa salahku?.


"Emh, oh iya saya papanya anak-anak, panggil saja Bram" .


Harus banget ya disebutin papanya anak-anak? Ewh!


"dan ini istri saya, Namanya Friska" lanjutnya lagi.


Helooow? siapa yang nanya?.


Friska terlihat kaku karena ia takut bertemu dengan aku , ia juga terlihat malu karena saat ia sudah mendapatkan batu kerikil aku malah mendapatkan berlian karena secara materi Mas Rasyid cukup mapan saat ini.


Berbeda dengannya, Friska berusaha agar mas Bram bisa mendapatkan kedudukan lebih tinggi sampai ia rela mendukungnya pakai finansial.


"Ada apa Friska?" Ucapku membuatnya semakin tegang


"Mbak... maaf... dulu aku-------"


"Sudahlah Friska, semua sudah berlalu. ini bukan salahmu sepenuhnya tapi justru karena kejadian itu aku ingin berterimakasih padamu. Eh, pada kalian berdua maksudnya. Karena kejadian itu lah saat ini aku bertemu dengan seseorang yang benar-benar menganggap ku ada." Kukatakan dengan menekankan setiap kalimat.


Aku melihat reaksi keduanya, benar-benar seperti maling yang ketangkap basah.


"Rai maafin mas" tiba-tiba saja ucapan itu muncul di lelaki ini. permintaan maafnya seperti makanan sehari-hari ku dulu dan sekarang aku mendengarnya lagi.


Aku mengangguk "semua sudah berlalu".


Mas Bram pergi mengambil sesuatu dari kamarnya.


"Anak-anak papa, ini untuk kalian" kata mas Bram sambil memberikan beberapa paperbag berisi buah tangan darinya.


Mereka sangat bahagia, tak terasa senyum bibirku terlukis saat ini. mereka memeluk Papa nya "terimakasih pa"


"Sama-sama sayang"


Ara melihat Syifa yang sejak tadi hanya diam, ia memberikan satu pasang baju dan beberapa gelang yang terbuat dari kayu juga ada tulisan dan motifnya.


"Syifa, ini untukmu"


Syifa menggelengkan kepalanya "Tidak Ara, ini punyamu. Simpanlah"


"Tapi kamu akan jadi saudara ku, sudah lah jangan bawel nah ambil"


Lalu Syifa hanya bisa pasrah, ia mengucapkan terimakasih kepada Ara.


"Oh ya, Ara... Farhan.. papa masih punya satu hadiah lagi"

__ADS_1


"Apa itu pa? apa?"


"Sebentar lagi.... kalian.... akan punya adik"


"APAAAA?" Teriak mereka sama-sama. Aku juga ikut kaget tapi Mas Rasyid berhasil mengendalikanku lewat tatapan nya agar aku terlihat biasa saja.


"Iya, karena bu Friska saat ini sedang mengandung"


Cukup lama anak-anakku diam, wajahnya lesu terlihat sekali saat ini ia sedang kecewa .


ekhem


"Selamat ya Friska semoga lancar sampai melahirkan" ucapku dengan tulus


Ara dan Farhan menatapku aneh, aku hanya mengangguk sambil tersenyum menandakan untuk menyuruh mereka bersikap baik pada ibu sambungnya itu.


"Oh , selamat ya pa"


"Iya selamat ya"


Begitulah ucapan kedua anakku, singkat namun sangat ketahuan itu semua hanya paksaan.


Hari sudah siang, aku mengajak mereka untuk pulang.


"Ara, Farhan.. Mama sama Om Rasyid mau pulang, kalian ikut atau disini dulu?"


"Ara ikut ma"


"Farhan juga"


Keduanya menggeleng, jujur aku sangat senang tapi ada sedikit rasa kasihan melihatnya.


"Maaf pa, mungkin lain kali"


"Ya sudah, kami pulang dulu ya mas Bram, Friska..."


"Iya hati-hati di jalan"


"Anak-anak, ayo Salim dulu" pintaku pada Ara Farhan dan Syifa.


Di perjalanan, aku sering sekali mencuri pandang sekedar untuk melihat mas Rasyid, bagiku memandangnya adalah canduku sekarang.


"Ciyee ayah dan Tante Raina curi curi pandang ni Yee" goda Syifa sampai aku terlihat salah tingkah.


"Emh jangan di lihatin terus calon jodohnya" celetuk mas Rasyid, ingin sekali aku cubit pipi gemesnya .


"Kita langsung pulang nih?" ku alihkan ceritanya.


"Enggak, kita ke Mall yuk, sekalian beli baju seragam untuk keluarga .


Aku mengangguk.


Sampai lah kami di mall, ketiga anak kami itu sudah kelaparan dan kami memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu.


"Kita makan apa ma?"

__ADS_1


"Kalian mau nya apa?"


"Kakek jenggot aja yuk ma" rengek Fathan. Kau melihat yang lain secara bergantian "bagaimana?"


Mereka semua mengangguk.


Di tempat ini kami memesan mocca float, ayam Kentucky beserta nasi nya dan ada ice cream juga cream soup sebagai menu pelengkap.


"Ayo kita beli sepatu ma!" celetuk Farhan saat makanan sudah pada habis di makan.


"Ayo sayang" sahut Mas Rasyid


Kami berjalan mencari toko mana yang cocok , ketiga anak kami sudah berjalan didepan sedangkan aku dan Mas Rasyid hanya mengikuti mereka dari belakang.


"Mas makasih banyak ya" kataku saat ada keheningan


Mas Rasyid menoleh sambil memegang tanganku "Untuk apa?"


"Semuanya" sambil tersenyum.


Aku menghela napas panjang "Kehadiran mas mengubah takdirku, aku fikir takdir ku sangat buruk tapi ternyata mas mengubah semuanya"


"Aku keren ya" Menggodaku yang sedang menahan tangisanku, padahal ini bukan tangisan kesedihan tapi tangis terharu atas keadaan.


"Idih, pede an kamu mas hahahah"


"Gitu dong, senyum. Masa lalu mu biar lah jadi pelajaran yang terpenting sekarang adalah masa sekarang dan masa depan . Mas gak mau kamu sedih lagi, janji sama mas untuk tidak sedih lagi karena itu bagian dari masa lalu mu"


"Hmmm, sayang.. Biarlah kebahagiaan yang melukiskan masa depanmu dan itu bersama mas" lanjutnya lagi .


tessss


Tak terasa air mataku menetes begitu saja.


"Mas sudah bilang jangan nangis depan mas" kesalnya dengan memalingkan wajahnya.


Aku menghentikan langkahku, menghadapkan tubuhku didepannya dan menangkap wajah yang sedang tak melihatku itu.


"Mas, Ini bukan tangis kesedihan, tapi kebahagiaan. Sekarang, kamu dan ketiga anak kita adalah alasanku untuk bahagia."


Tanpa sadar aku dipeluknya padahal ini di depan umum.


ekhemm


Deheman anak-anak membuyarkan segalanya. Astaga apa yang kami lakukan?


"ciyeeeeee" goda mereka.


"hmm awas ya kalian" kata mas Rasyid


Lalu kami melanjutkan jalan kami, aku meliriknya sekilas. "Mas"


"Hmm" jawabnya.


"Aku gak nyangka ternyata Rasyid Ridha itu bisa manis juga ya, kirain hanya bisa kaku"

__ADS_1


"Eh?" kagetnya lalu aku berlari kecil untuk mengejar anak-anak.


__ADS_2