KAU MENDUA

KAU MENDUA
Extra Part 2


__ADS_3

Dua jam berlalu kini kami sampai di sebuah pantai nan sejuk pemandangannya. Ku lihat ke belakang, keempat anak kami masih tertidur.


Aku tersenyum lalu membangunkan mereka satu persatu.


"Atha biar mas yang gendong" kata mas Rasyid lalu aku mengangguk.


Kami beristirahat sejenak di sebuah villa milik Orangtua nya Mas Rasyid.


Aku ingin mengajak anak-anak untuk makan siang, Syifa dan Atha sudah berada di meja makan, lalu kemana Farhan dan Ara?.


"Syifa, kamu lihat Ara sama Farhan gak?" tanyaku


"Tadi lihat ma, kayanya di pinggir pantai deh, coba biar Syifa lihat dulu"


"Eh gak usah sayang, biar mama saja. Kamu terusin aja makannya ya, Mas dan Atha juga terusin dulu makannya. okay?"


"Maa, Atha mau ikut"


Aku tersenyum "No sayang, nanti ayamnya habis di makan kak Syifa, mau?"


"Enggak jadi deh" kata Atha lalu kami tertawa.


Aku mencari kedua anakku, dimana mereka? sampai aku melihat dua orang sedang duduk di pinggiran pantai. Aku ingin memanggilnya tapi tertahan saat aku mendengar....


"Kak , papa ada masalah" kata Farhan membuatku mendekatkan langkahku dengan pelan


"Masalah apa?"


"Papa di tipu sama temannya kak, uang papa sudah habis semua, ga ada tersisa kak" kata Farhan lagi


"Maksud kamu?"


"Aku dengar papa cerita ke Bu Friska kalau papa mau naik jabatan tapi sayangnya melalui jalur tikus" ucap Farhan terjeda sedangkan Ara masih menyimak.


"Papa tertarik dengan jalur itu, bahkan papa sudah menggadai rumah dan mobilnya"


"Astaga!" pekik Ara


"Husttt jangan kencang-kencang kak"


"Oh iya, lanjutkan"


"Terus sialnya itu orang itu malah kabur entah kemana, kasian papa kak"


"Kenapa gak dilaporin dek?"


"Nah itu, gak ada hitam diatas putih"


"Ya Allah, terus kita gimana dek?" lirih Ara


"Entah lah kak, aku nyesal dulu nakal, sekarang aku malu saat sudah mau sekolah malah begini"


"Kakak ga enak kalau bergantung dengan Ayah"


"Sama, aku juga kak. sekali-sekali coba kakak lihat papa, kasihan kak... papa lebih banyak termenung nya"

__ADS_1


"Itu karma buat papa dek, biarkan aja"


"Tapi gimana sekolahku?"


Lalu keduanya sama-sama diam.


Betapa terkejutnya aku mendengar penjelasan anakku, memang benar sejak jabatan mas Bram sedikit naik dialah yang membiayai anakku sekolah. Mungkin ia haus akan jabatan sehingga ingin minum lagi, minum lagi tapi sayang yang diminum bukan air.


Ada rasa iba, kasian, tapi ada juga rasa senang karena aku hanya manusia biasa.


Ekhem


Dehemku membuat kedua anakku jadi salah tingkah


"Mama???" heran mereka


"Kenapa pada kaget?"


"Sejak kapan mama disana?"


"Dari tadi"


"Berarti......"


"Iya mama dengar semuanya. Farhan kamu kenapa gak cerita sama mama? kamu jangan pikirin uang sekolahmu, dan Ara kamu juga kak, jangan pikirkan kuliahmu. Kalian masih punya mama"


"Mamaaaa" ucap mereka sambil berhamburan memelukku.


"Ya sudah, kita makan yuk" ajakku lalu mereka mengangguk.


"Akhirnya datang juga" Kata mas Rasyid


"Maafin kami ayah, udah buat ayah nunggu" lirih Ara


"Loh, kamu gak salah sayang. ya sudah di habisin makanannya" titah mas Rasyid lagi.


Kami melanjutkan makan kami, setelah itu anak-anak pada main di pantai. sedangkan kami berdua hanya duduk di dekat pantai yang beratapkan payung.


"Sayang..."


Aku menoleh "hmm"


"Ada apa?"


"Gak apa-apa mas"


"Sini, lihat mas" Aku pun langsung melihatnya, hmm benar.. aku gak bisa bohong dengannya karena saat melihatnya aku langsung ketahuan.


"Hmm iya iya , Rai cerita " ucapku pelan


"Tadi waktu aku manggil anak-anak untuk makan, aku gak sengaja dengar Farhan cerita ke Ara kalau mas Bram sekarang lagi jatuh ketimpa tangga, patah tulang lagi"


"Husst kamu ini, cerita yang benar jangan doain gitu ah gak baik" tegur mas Rasyid.


"Ya itu kan umpamanya mas"

__ADS_1


"Memangnya kenapa si Bram?"


"Katanya di tipu, terus sekarang dia kaya orang stress gitu loh mas, kasian lihat anak-anak apalagi Farhan, ternyata dia mikirin uang sekolahnya."


Mas Rasyid diam mendengarkan aku bercerita, bahkan saat aku selesai cerita ia juga masih diam .


"Kenapa diam mas?" tanyaku heran


"Mas kecewa sama kamu"


deggggg!


Apa salahku?


"Apa yang Rai lakukan?"


"Kamu buat hati mas sakit yank, kamu bercerita seolah mas tidak sanggup biayain mereka."


Padahal aku hanya cerita yang sesungguhnya, tapi kenapa jadi salah faham begini?


Aku langsung memeluknya "Mas maafin aku, jujur aku gak maksud. tapi aku hanya cerita apa yang aku dengar tadi. Mereka gak mau merepotkan mas, aku sudah bilang tadi aku juga sudah bujuk mereka untuk mau Nerima pemberian dari kita, mereka juga udah ngerti kok, mas jangan marah sama Rai , aku gak maksud buat mas kecewa"


Cukup lama aku dipandang oleh nya "Sudah, sudah.. maafin mas ya.." .


"Rai juga" lalu aku ambil pipinya dan...."unch" ku cium sekilas pipinya.


Tak lama kemudian beberapa pelayan dari restoran di dekat villa datang membawakan beberapa cemilan dan minuman yang sudah kami pesan sebelumnya.


"Anak-anak, ayo dimakan dulu!!!!" teriakku, lalu mereka mengangguk patuh.


"Atha mauuuuuu" teriaknya dari jauh membuat kami tertawa melihat balita berumur 3 tahun itu berlari.


drrrdd ddrrrddd


"Ponsel siapa itu?" tanya Mas Rasyid


Ara merogoh kantongnya, lalu ia lihat hp nya, setelah itu ia melirik ke kanan dan ke kiri..


"Ada apa nak?" tanyaku


"Itu ma , anu"


"Anu apa?"


"Papa nelpon" lirihnya pelan.


"Ya sudah kamu angkat dong"


"Tapi ma---"


ekhemm


"Angkat nak, kamu gak boleh kaya gitu" tegur mas Rasyid.


call on

__ADS_1


Ara halooo pa?


__ADS_2