
Satu hari, dua hari, daaannn tiga hari lamanya, suami dan anakku belum juga pulang. tunggu, suami? sebaik itu aku masih menganggapnya suami ckckckc.
Aku sebenarnya tak masalah jika dia tak pulang, tapi yang buat aku tak terima adalah ia pergi membawa hartaku yang sangat berharga, yaitu putri kecilku.
Aku sudah menyuruh ayahku untuk menelpon mas Bram agar membawa Putri kecilku pulang, jika ia tak mau pulang aku dengan senang hati menerimanya tapi setidaknya dia mengantarkan Ara untuk pulang.
Aku tak tahu dimana mereka sekarang, pikiranku sangatlah kacau, ingin rasanya ku akhiri hidupku saat ini.
"bagaimana pah? apa mas Bram mau ngantar Ara pulang?" sambil menghampiri ayahku.
Ayahku menoleh ke arahku "eh kamu Rai, kaget papa." sahut ayahku
Aku langsung memeluknya "pah anakku dimana hiksss"
Tangisanku tak dapat kutahan lagi, hatiku hancur saat ini "kamu yang tenang ya nak, Bram Ayahnya pasti dia akan menjaga Ara sayang"
"ayah yang tak punya ot*k" ketusku tiba-tiba
Benar, saat ini hanya kebencian lah yang aku rasakan. Bahkan aku tak tahu lagi bagaimana rasanya cinta itu.
"makan apa Ara pah? aku tak tahu dia apa dikasih makan atau tidak dengan ayahnya, Rai takut dia kelaparan" sambil terisak-isak.
Ibuku yang tadinya sedang menidurkan Farhan pun keluar dari kamar " ada apa ini Rai? kenapa nangis nak?"
Ayahku hanya mengangkat bahu dan sepertinya ibuku paham maksudnya apa.
"Rai kekamar dulu ya mah" pamitku yang sudah tak tahan lagi.
Saat ini, aku tak bisa merasakan apa-apa lagi, fikiranku sudah tak jernih lagi dan tatapanku kosong. Pasrah dengan takdir membuatku ingin berbuat nekat saja.
Disudut sana, sebelah jendela ku lihat ada sebuah racun nyamuk yang menggiurkan untuk kucicip , aku fikir dengan cara menyicipinya maka masalah ini akan selesai dan biarlah neraka menghukumku.
"maafkan mama nak" ucapku sebelum mengakhiri hidupku.
GLEK GLEK GLEK!
Racun itu sudah masuk ke tubuhku, kepalaku pusing pandanganku sudah kunang-kunang, dan sekejap
brukkkkkk!!!
Tubuhku terbaring lemas di lantai dan aku sudah tak tahu apa-apa lagi.
***
author POV
Disisi lain
Farhan terbangun dari tidurnya dan ia langsung melihat ibunya terbaring dengan keluarnya buih di mulut.
__ADS_1
Farhan berhamburan meluk ibunya sambil menangis.
"mamaaaaaa hiksss ma bangun ma, jangan tinggalin Farhan, Farhan butuh mama... bangun maa" ucapnya.
Melihat ibunya tak kunjung bangun, Farhan pergi keluar untuk mencari nenek dan kakeknya yang entah kemana.
"Oma...opa... hiks... opa...." teriak Farhan
kakek dan neneknya pun datang menghampiri Farhan dengan paniknya "ada apa sayang"
"mama ... mama pingsan hiks... mama pingsan" ucap Farhan.
Kakeknya langsung lari melihat kondisi Raina, sementara neneknya langsung memeluk Farhan untuk memenangkan nya.
Tak lama kemudian kakeknya membawanya kerumah sakit.
author POV_end
****
Raina POV
Perlahan aku membuka mataku terdengar sayup-sayup suara tangisan jagoanku , Farhan.
Juga kulihat sekeliling tempat ini, ah dimana aku? kenapa rasanya badan ini berat sekali untuk bergerak? dan ini, apa ini? kenapa tanganku di infus dan nafasku pakai oksigen?.
Ribuan tanya sudah berada di kepalaku ini, aku mengingat kembali hal apa yang terjadi padaku sebelum ini.
apa aku sudah mati makanya Farhan menangisiku?
nah, orang tuaku kenapa lesu sekali? arghhh!!
Aku menggerakkan tanganku yang membuat Farhan melihatku dengan mata berbinar "mamaaaa" panggilnya.
Mendengar Farhan memanggilku, kedua pasang mata lainnya pun melihatku . Ya, dia adalah kedua orangtuaku.
"sayang kamu sudah sadar?" tanya ayahku khawatir.
"dasar anak bodoh! bunuh diri gak gitu caranya, kau lihat dirimu sekarang, bukannya mati malah nyusahin orangtua" ucap ibuku.
Aku sama sekali tak marah dengan ucapan itu karena apa yang ibuku katakan sangatlah benar. seketika aku meneteskan air mataku ini yang sudah tak terbendung lagi karena hanya penyesalan yang kurasakan saat ini.
"maaf" lirihku.
"minta maaflah pada Allah nak, kau tahu bunuh diri itu sangat dibenci oleh Allah bahkan kau langsung dimasukkan ke neraka tanpa bertanya apa kau punya pahala atau tidak" ucap ayahku
"benarkah opa? ihhh Farhan takut, Farhan gak mau lah bunuh diri, nanti Allah benci sama Farhan. ah iya mah, dengar tuh kata opa, lagian apa mama tidak sayang dengan Farhan dan kak Ara? kenapa mama mau ninggalin kami?" cicit Farhan yang menyimak ucapan ayahku.
Aku merasa terpojokkan saat ini, belum lagi ibuku yang sangat kecewa denganku.
__ADS_1
"lain kali kalau mau bunuh diri pintaran dikit, jangan racun nyamuk yang diminum, emang kau itu nyamuk? " sahut ibuku dengan wajah datar.
"hussshh mama, ga boleh gitu" kata ayah ku menengahi kami
"mama sebel pah sama anakmu ini" sambil pergi meninggalkan ruangan ku.
Sementara ayahku tetap setia menemaniku dan Farhan.
"pah, terimakasih masih setia menjadi cinta pertama Raina. maafkan anakmu ini yang terus bikin masalah. Sejak dulu papa selalu ada disamping Raina" ucapku dengan mata berkaca-kaca.
Ayahku langsung membaringkan Farhan yang tertidur dipangkuannya, dan berjalan mendekatiku.
"kau ini berbicara apa? anakku, hadirmu adalah harapan papa dan mama. kau tahu? selama sembilan bulan kami menunggu mu, papa tak perlu menjelaskan bagaimana perjuangan mamamu sampai kau melahirkan karena kau juga sudah merasakannya. tapi kau harus tahu, sebagai seorang ayah ada tanggung jawab yang harus dipikulnya. memang benar seorang anak perempuan bukan lagi milik ayahnya jika ia sudah menikah tapi ikatan darah tidak bisa menghentikan nya" ucap ayahku.
"untuk mamamu kau jangan khawatir, dia hanya kecewa denganmu, tapi cinta kasihnya masih sama. percayalah sebentar lagi ia akan datang kesini." lanjutnya.
"Ara mana pa?" ucapku tiba-tiba.
Ayahku tidak menyahuti ku, mungkin ia juga bingung mau menjawab apa tapi aku sangat merindukan anakku, rasanya aku ingin mati saja. hmm ya, lagi-lagi pikiran itu terlintas lagi dipikiranku.
Banyaknya selang yang mengelilingi tubuhku ini membuatku tak berdaya, untuk apa aku hidup?.
****
ceklek.
"mamaaaaaaaaaaaa" teriak Ara dengan isakan tangisnya.
Suara itu membangunkan aku dari tidurku, ah ingin sekali aku memeluknya, tapi tubuhku terbaring lemah sekarang dan yang bisa aku lakukan hanya menangis.
"Ara rindu mama, mama kenapa begini ma hiks.... maafkan Ara ninggalin mama, tapi Ara juga ga bisa pisah dengan papa, maafkan Ara maa.... Ara salah.." sambil memelukku..
"sayang , jangan nangis. mama gak apa-apa. mama juga sayang sama Ara, sayang sekali. maafin mama ya nak" ucapku.
Ara menggeleng kan kepalanya sambil menghapus air mataku , ah sweet banget gak sih huh.
"tidak mah, mama gak salah. mama gak usah banyak gerak sekarang. mama istirahatlah" ucap anakku itu.
tak lama kemudian,
"Rai" panggil seseorang yang sangat aku kenal suaranya, orang yang sudah membuatku berbuat hal gila seperti ini, berani beraninya dia datang kesini, ya dia adalah mas Bram. setebal apa sih wajahnya?!
Aku hanya menoleh sekilas kemudian membuang muka, aku sangat jijik melihatnya sekarang.
"kenapa kau melakukan ini ? apa kau tidak sayang dengan anak-anak?" tanyanya tanpa dosa
"diam" sahutku
"Rai, kita harus bicara" sahutnya
__ADS_1
"tinggalkan ruangan ini" usirku dan untung saja ia langsung pergi dari ruangan ku.