
Sementara di ruang tv
Ara dan Farhan sedang asik bermain dengan Oma nya sambil menonton. Terdengar jelas suara cekikikan ya dari sana tapi aku malah memanggil mereka dan ikut terseret dalam masalah ini. apa aku egois?!
"Oma, mama kenapa teriak gitu?" tanya Farhan heran
Omanya sebenarnya tahu alasannya tapi enggan untuk menjelaskan pada cucunya.
"ya sudah kalian ke depan gih, mama kalian manggil tuh" perintah ibuku.
"siap Oma " kata Ara sambil berjalan ke depan dan disusul oleh Farhan.
Sampai di depan teras,
"iya ma, ad----" ucap Ara terpotong saat melihatku menangis
"mama nangis? kenapa mah?" tanya Ara khawatir .
Melihatku hanya diam, ayahku langsung mengambil alih untuk bicara "opa bisa minta tolong gak sayang?"
Ara membalasnya dengan senyuman "untuk opa apa yang enggak, Ara sayang opa" ucap Ara jujur
"cucukuuuu" sahut ayahku dengan mata berkaca-kaca.
"ah iya, tolong kalian panggil dan suruh papa kalian pulang, bisakan?" perintah ayahku tanpa menjelaskan suamiku dimana keberadaannya.
Ara dan Farhan tampak kebingungan, saling tatap dan saling menaikkan bahu.
"ada apa?" tanya ayahku
"kami ga tahu papa dimana" sahut Farhan
Ayahku langsung menepuk jidatnya yang tidak bersalah "astaga opa lupa beritahu hehehehe"
"ah, itu papa kalian di warung yang berada di simpang sana, pergilah nak" sambung ayahku.
kedua anakku langsung menjalankan perintah opanya.
Author POV
Sementara di warung,
Seseorang yang dicari sedang asik memilah angka yang entah angka apa itu.
Skip, karena Author gak paham yang begituan ckckck.
"Bram, anak loe datang tu" ucap seseorang yang melihat kedatangan kedua anak kami, ya sebut saja si Ucok .
Bram langsung salah tingkah, dan celingukan mencari anak-anak nya.
"papaaaaahhh" panggil kedua anak kami dengan nada sedikit tinggi.
__ADS_1
Mas Bram langsung kedepan mendatangi anak kami.
"ada apa sayang? kenapa kemari?"
"harusnya kami yang tanya kenapa ayah disini? ayah tidak bekerja? kami juga bosan makan pakai telur dibagi dua , pa" celetuk Ara .
byurrrrrr
Bagaikan disiram karena kata-kata anaknya menusuk jantungnya.
"pa----papa tadi bekerja, karena pu--pulang cepat papa mampir kesini" jawabnya terbata-bata.
Farhan memicingkan matanya "papa bohongin kami ya?"
Bram menggelengkan kepalanya dengan cepat "tidak nak"
"ya sudah ayo kita pulang pah, sudah ditunggu sama mama" sahut Ara .
Dirumah,
Raina sedang minum teh hangat buatan ibunya, namun karena melihat kedatangan suaminya itu ia mendadak mual dan emosinya kembali naik.
lalu seketika,
PRANGGGGGGGGGG!!!!!!
Gelas itu sengaja dijatuhkan nya, semua kaget terutama kedua anaknya yang langsung menangis histeris karena ketakutan. Ya wajar saja, mereka masih kecil tapi harus menyaksikan perang ini.
"sayang, ada apa ini?" tanya Bram tanpa dosa.
"DIAM!" Teriak Raina.
"Raina, pelankan suaramu" tegur ayahnya dan ia hanya mengangguk .
"mas, aku kecewa sama kamu! selama ini aku cukup sabar ya ngadapin kamu. aku fikir kamu akan berubah, tapi apa ini? huh? apa mas mau ngasih kami makan dengan uang haram itu? cihhhh... tak Sudi aku mas!"
"Rai, mas gak ikut main, beneran..." ucapnya bohong
"oh mas mau bohongi aku? huh aku tak bodoh mas! aku tahu mas itu siapa! sekarang, mana uangnya? huh? apa mas gak ada menang dari tadi? kami rela makan ala kadarnya asal dengan uang halal mas. apa mas gak kasihan sama anak-anak?" tanya Raina dan Bram hanya diam.
"kenapa diam? mas mau anak-anak menanggung dosa akibat tingkah mas yang keji ini? kecewa aku mas! sekarang pergi dari sini, cari uang sana , yang halal! pergiiii!!!" teriak Raina .
Saat bersamaan Bram mau pergi, Ara berlari mendekati ayahnya, dan untuk menghindari marahnya Raina yang berkepanjangan akhirnya Bram membawa Ara dengan cara menggendongnya sambil berlari.
Entah syaiton apa yang merasuki Raina kali ini, karena ia tiba-tiba mengambil sebuah batu yang agak besar dan melemparkannya ke arah Bram.
bruuuukkkkk!
Lemparan itu tepat mengenai kepala Bram sebelah kanan, Tangisan Ara semakin pecah karena menyaksikan itu secara langsung.
"jangan nangis sayang, papa gak apa-apa" ucap Bram
__ADS_1
lalu Bram memegang kepala yang terkena batu itu, lalu melihat tangannya kembali yang ada darahnya.
Saat berlari Bram melihat ada angkutan umum yang berjalan didepannya , tanpa mikir lagi Bram langsung memberhentikan mobil angkutan itu dan naik ke dalamnya.
"kepala papa sakit ya?" tanya Ara saat di dalam angkutan.
"tidak nak, maafin papa ya" ucap Bram
"papa jangan ulangi lagi, itu dosa pa" sahut Ara .
Author POV _end
***
Raina POV
"huaaaaaaa....... hikss..... Ara.... hiksss" tangisku yang terus memanggil nama anakku.
"sudah nak, jangan nangis" ucap ibuku yang mencoba tenangin aku.
"mah, kenapa Ara memilih ayahnya? kenapa mah? aku ingin mati saja, aku mau mati !!!" histerisku.
plakkkkkk
Satu tamparan mengenai pipiku, betapa terkejutnya aku melihat ayahku untuk pertama kalinya menampar wajahku.
"maaf nak tapi kau sudah keterlaluan!" kata ayahku
"kau sudah melukai hati anak-anakmu, apa kau tak tahu itu?" tanya ayahku dan aku hanya diam sambil menangis.
"pertama, kau sudah menyakiti cucu pertamaku. memang betul kau sakit hati pada bapaknya, tapi tak perlu dengan cara melempar batu didepan anakmu, apa kau tak mikir segala macam resiko nya? bisa saja dia yang kena? dan pastinya hatinya sakit saat ini, aku takut cucuku akan mengalami trauma atas kejadian ini. kau keterlaluan Raina .
"kedua, kau juga sudah menyakiti hati cucuku, Farhan. kau lupa kau mengucapkan kata mati itu didepannya? dan kau tidak memikirkan perasaan nya ! Raina, papa tahu hatimu sakit, tapi kau sudah dewasa. kau lihat anak-anakmu yang tak berdosa ini, bahkan kita tak tahu sakitnya akan sembuh atau tidak dihati mereka" ucap ayahku menyadarkanku
"hikss.... hiks.... aku harus apa sekarang" ucapku menyesal.
Ya, benar. aku sangat menyesal sekarang, aku terlalu ceroboh. Harusnya aku menahan sakit ini tapi aku juga manusia biasa.
Aku memang bukan manusia suci, bahkan aku sangat banyak dosa. Tapi karena itu lah aku tak suka makan uang dari hasil uang haram, pantas saja beberapa waktu lalu ada rentenir datang ke rumah managih hutang, dasar.
"Ara dimana sekarang hiks... mama kangen... hiksss" kataku sambil menangis.
"sudahlah, doakan saja dia baik-baik saja. toh juga dia sekarang bersama ayahnya." ucap ayahku yang menenangkan ku padahal sebenarnya ia lah yang sangat khawatir dan bahkan lebih dariku.
"mama Farhan takut ma" ucap anakku tiba-tiba memelukku.
"tenang sayang, ada mama disini. Farhan sayang mama kan?" tanyaku.
"Farhan sangat menyayangi mama" ucapnya didalam pelukanku.
"kalau begitu, jangan pernah tinggalkan mama ya nak" pintaku
__ADS_1
"pasti ma, kakak pasti juga sayang mama . kakak makanya mau ikut papa agar papa juga tidak jauh dari kami. itu tadi pesan kak Ara pada Farhan ma..." sahut nya.