KAU MENDUA

KAU MENDUA
Bab 16


__ADS_3

Malam puncak acara telah tiba, api unggun sudah dinyalakan, tentu saja kami sangat menikmatinya. Kami seperti kembali ke beberapa tahun silam. lalu kemana anak-anak?


Anak-anak pun juga begitu, mereka saling mengenal satu sama lainnya tapi mereka berada diseberang sana, di tempat adanya beberapa wahana permainan. Ku akui villa ini sangatlah besar dan nyaman, sejak dulu jika Dion yang menjadi ketua acara maka semua beres padanya.


Disini bukan hanya kami berempat, tapi ada satu kelas yang kami memang kurang akrab dengan mereka. Ditambah lagi sekarang, saling memamerkan harta, kekuasaan dan pencapaian anak-anak mereka, huh memuakkan!


Karena itu aku Vira dan Abel lebih memilih untuk asik didunia kami sendiri, memang kami duduk barengan dengan yang lainnya tapi kami membahas yang lain.


"guys gue kebelet nih" ujarku


"mau gue temenin?" tanya Vira


"gak perlu, gue sendiri aja" sahutku sambil berdiri.


Namun kakiku seperti salah melangkah hingga akhirnya brakkkk---


Greppp


Aku terjatuh tapi tidak sakit, aku mendongakkan kepalaku dan benar saja seseorang menahanku dengan cara memelukku, betapa terkejutnya aku jika seseorang itu adalah Dion.


"kamu gapapa?" tanya Dion


"enggak, btw makasih" jawabku ketus.


Dion hanya menggelengkan kepalanya, namun siapa sangka ada sepasang mata melihat mereka di kejauhan.


Di kamar mandi, aku bertemu dengan temanku dulu. Eh bukan teman, tapi musuh bebuyutanku. Dia salah satu orang yang dulunya tidak menyukai hubunganku dan Dion waktu sekolah.


"ekhemmm"


Aku hanya melirik ke sumber suara tanpa meladeninya.


"enak ya dipeluk mantan, upsss" ujarnya saat aku membuka pintu untuk keluar dari kamar mandi.


Aku menoleh sekilas "kalau loe juga mau, ya peluk aja sendiri" jawabku sambil berjalan keluar.


"sial!" umpat wanita itu.


.


.


Keesokan harinya kami pulang siang menjelang sore yang mana pastinya sampai dirumah itu sore hari.


"makasih ya guys udah anter sampai rumah" ujarku


"oke Rai, kapan-kapan gue main deh kerumah loe" sahut Vira


"anak-anak loe nyenyak banget tidur nya Rai, mau dibantu gak?" tanya Abel


"hehehehe" jawabku yang digelengkan kepala oleh Abel dan Vira.


Abel pun turun sambil menggendong Farhan, sementara Vira menunggu di dalam mobil.


Deggggg

__ADS_1


Jantungku berdetak lebih cepat, "ini sepatu siapa?" gumamku yang melihat ada sepatu cewek diteras rumahku.


"jangan suudzon, kita lihat dulu yuk" ucap Abel


brakkkk


pintu kubuka kasar, betapa kagetnya aku melihat wanita yang kukenal namun aku membencinya itu duduk di sofa sambil mengelus kepala suamiku yang baring di kakinya.


"KALIAN??" Teriakku.


"Ra--raina, kamu sudah pu--pulang? tanya mas Bram.


"tega kamu mas" lirihku sambil berlari keluar , sedangkan Abel menyusul ku dari arah belakang.


aku kembali duduk di mobil Vira "jalan Vir, please" lirihku.


Tanpa menjawab Vira pun langsung jalan, sedangkan anak-anakku masih setia dengan tidurnya, syukurlah.


saat dijalan suasana hening dan hanya ada suara tangisanku.


"gue gak tahu masalahnya apa, tapi loe jangan nangis terus" ucap Vira .


"biarkan dia nangis Vir, setidaknya dengan menangis itu ngurangin sakit hatinya, tapi loe harus janji Rai setelah nangis loe jangan pernah nangisin wanita j*Lang itu" ujar Abel


"wanita j*Lang? siapa sih?" tanya Vira kembali.


"putri!" jawab Abel.


"putri? bukannya dia sama kita ya semalam? eh tapi kok bisa sih? astaga, keterlaluan tu anak" kesal Vira


"mungkin dia masih dendam sama gue, tapi kenapa harus suami gue Vir? kenapa? hiks...."


"benar Rai, air matamu terlalu berharga" sahut Abel.


***


Aku memilih untuk tidak pulang kerumah dan tidak ke rumah orangtuaku. Aku sangat butuh untuk sendiri, akhirnya Vira meminjamkan apartemen nya untukku dan anak-anak.


"mamah, Ara kapan sekolah?" tanya Ara menghampiriku.


"sabar ya sayang, mama masih sakit" jawabku


maafin mama nak, mungkin mama egois tapi hati ini sangat sakit sayang, ucapku dalam hati.


Aku sengaja tidak memberi izin Ara sekolah karena aku takut mas Bram datang ke sekolah dan mengambil Ara dariku.


Apa aku egois? biarlah aku egois yang penting aku tidak kehilangan anakku.


Apakah sakit harus dibayar dengan maaf ? sesederhana itu kah perasaanku?


ah tidak, ini semua demi anak-anakku.


***


Seminggu sudah berlalu, kini aku mengajak anak-anakku untuk makan di sebuah cafe, kami menikmati makan kami, lalu tiba-tiba seseorang datang bersama putrinya ke meja makan kami.

__ADS_1


"Raina, hai ..." sapa lelaki itu, ya dia adalah Dion


"eh ion, " kagetku


"halo Tante" sapa anak Dion


"halo angel cantik" sahutku sambil tersenyum.


"bertiga aja nih? boleh gabung?" tanya Dion dan aku hanya mengangguk.


Kedua anakku sangat akrab dengan Angel, mereka berceloteh sejak tadi sementara aku dan Dion hanya diam saja.


"suami kamu mana Rai?" tanya Dion memecahkan keheningan


"emhh anu, itu... dia... hemm iya dia kerja" jawabku gelagapan karena terkejut dengan pertanyaan nya.


"kamu yakin?" tanya Dion seperti mengintrogasi ku


"tentu saja, loe Napa sih"


"aku tahu Rai kamu sekarang ada masalah, kalau gak keberatan kamu bisa cerita ke aku, siapa tahu bisa mengurangi sakitmu"


aku menggeleng cepat "jangan khawatir"


"aku sebenarnya sudah tahu, suami kamu selingkuh dengan putri kan?"


pranggggg


tak sengaja aku menjatuhkan sendok .


"da--darimana loe tahu?"


"sebelumnya maaf Rai, saat kejadian itu aku juga berada tak jauh dari rumahmu. aku mengikuti mobil Vira sejak pulang dari puncak karena awalnya aku penasaran dimana rumahmu, kamu yang sabar ya Rai, anggap ini ujian"


"hiksss hiksss" tangisanku pecah


"jangan nangis Rai, air matamu tidak pantas untuk menangisinya" ujar Dion sambil mengeluarkan sapu tangannya.


"sakit ion, kenapa harus suami gue yang diincarnya? apa segitu sakit hatinya dengan gue? lagian loe sih kenapa gak Nerima dia aja dulu jadi pacar lu"


"ya karena aku gak suka dengan dia, ck. hatiku cuma untukmu Raina, dulu dan sekarang."


"ah sudahlah, lupakan saja" ucapku sambil melanjutkan makanku.


Tiba-tiba....


brakkkk


"oh jadi begini kamu dibelakang mas? kamu marah mas dekat dengan wanita lain, tapi apa ini sekarang? kamu makan dengan pria lain dengan membawa anakku!" ucap mas Bram yang tiba-tiba datang.


Tak tahan dengan tuduhannya, tanganku seketika menjadi gatal , dan... "plaakkk!!"


"gila ya? kamu yang selingkuh kamu yang marah-marah! dia ini teman aku, dan lagi kami gak datang barengan, kebetulan saja ketemu" ucapku datar


"mama, kakak takut... (Farhan juga ma...)" ucap anak-anakku barengan sambil memelukku

__ADS_1


"tak apa nak, ada mama disini" sahutku.


"ayo kita pulang!" ucapnya sambil mencekal tanganku.


__ADS_2