
Lalu Abel langsung melirik Dion, entah apa maksud dari tatapan mereka karena aku yang duduk dibelakang sendiri ini tidak dapat melihat dengan jelas.
"Rai, please..." ucap Abel memohon.
Aku merasa kasihan dengannya karena benar juga apa yang dibilangnya, anaknya dititip nya dengan pengasuhnya sementara aku ada ayah dan ibu yang menjaga mereka.
"hmm baiklah" tuturku pelan.
****
Setelah mengantar Abel kini hanya aku dan Dion didalam mobilnya, kecanggungan sangat terasa sekarang.
"Rai" panggil Dion dengan mata masih fokus ke depan
"ada apa ion?" sahutku
"aku mau cerita" ujarnya.
"oke, aku dengar" sambil mengernyitkan dahi ku.
"sebelumnya aku minta maaf ya Rai, karena sampai sekarang aku belum bisa manggil gue loe, tapi aku janji kalau aku akan berusaha"
"santai aja kali, ga masalah buat gue"
"soal hati aku Rai, jujur aku belum bisa lupain kamu, tapi kayanya aku-------" ucapnya terpotong
"Lo kenapa?
"aku suka juga sama Abel"
" ya bagus Doong, terus?"
"tapi aku ga bisa lupain kamu"
Aku tersenyum "Dion, dengarin ya, gue ga pernah ngelarang loe atau siapapun itu menaruh hati ke gue, tapi harus ada batasannya dan tau kenyataannya. gue udah bilang ke loe kalau ga bisa ngelupain maka loe harus kurangin takarannya. soal Abel, dia itu anak baik Dion dan loe udah tahu itu. gue gak mau lihat sahabat gue tersakiti apalagi kalau misalnya pelakunya itu loe yang juga sahabat gue sendiri. loe paham kan maksud gue?"
Dion mengangguk "aku paham dan aku juga sudah jelasin semuanya ke Abel, untungnya Abel ngertiin gue. "
"tjakeppp" ucapku tiba-tiba.
"kenapa?" tanya Dion heran.
"ya cakep aja, karena loe udah manggil diri loe itu gue hahahha" sahutku.
"eh iya aku ga sadar, ah syukurlah. tapi kamu pengen banget ya aku ubah panggilan aku?" tanya Dion serius
"lebih baik begitu kan? Abel pasti jauh lebih senang" jawabku
"oke sampai... loe hati-hati ya" ucapku
"oke gue pulang dulu, bye "
*****
Semenjak pindah kami memang hanya menghabiskan waktu di kamar setiap malam. bahkan anak-anak selalu membawa cemilan ke dalam kamar.
"mulai besok kalian pindah ke kamar sebelah ya, di kamar anak" goda mas Bram
"ah gak mau, disana ga ada AC nya , iya gak dek?"
"benar kak, panas"
"loh masa iya kalian tidur sama mama dan papa terus?"
"kalau papa mau ya papa aja tidur kamar sebelah"
__ADS_1
"terus mama?"
"mama sama kami disini"
"yah kok jadi gini" ujar ayahnya yang membuat kami jadi tertawa, hmm enak saja nyuruh kami pindah ke kamar sebelah.
"sholat dulu yuk" ucapku dan kami langsung pergi mengambil wudhu secara bergantian.
Bahkan untuk sholatpun kami memutuskan di kamar saja, karena memang kamar ini masih cukup untuk sholat.
Farhan mulai Iqamah, setelah itu mas Bram langsung menjadi imam shalat.
Bahagia? pasti , walaupun hidup sederhana tapi jika kami selalu bersama bahagia pasti akan datang dengan sendirinya.
"assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh"
"assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh"
Lalu kami berdoa masing-masing namun terdengar jelas isi do'a dari anakku, Farhan.
'ya Allah ya Tuhanku hamba senang sekali akhirnya mama dan papa bisa bareng-bareng lagi dan gak ada air mata di pipi mama hamba. hamba mohon biarkanlah kami bahagia dan selalu bersama sampai kapanpun , hamba mohon ya Allah.. hamba sayang mama dan papa. mudahkanlah rezeki kedua orangtua hamba ya Allah.. aamiin'.
tes!
"mama nangis?" tanya Ara , aku langsung menghapus air mataku.
Aku menggeleng "enggak sayang"
"lalu mama kenapa?" tanyanya lagi sambil memelukku
"mama ga papa sayang, oh iya Farhan kenapa do'a nya kaya gitu nak? Hem?"
"Farhan cuma senang aja lihat mama gak nangis lagi, tapi sekarang kenapa mama nangis? apa karena doa farhan kekencangan ya?"
****
Pagi berganti hari
mentari bersinar lagi.
wahai diri
siapkah kau menjalani hidup ini?
-raina Amelia-
Sejak rujuk kembali, aku merasakan mas Bram ku pun kembali. tapi entah lah diluar sana apa dia memang sudah berubah atau hanya sedang bertipu daya.
Kunikmati setiap hariku, sungguh hanya kebahagiaan lah yang kuhadapi sekarang. Mungkinkah ini hasil dari kesabaranku selama ini? atau Tuhan sedang menyiapkan aku masalah yang lain?
Beribu pertanyaan selalu terngiang dihatiku, ketakutan selalu ada dibenakku, aku tak tahu jika aku dikhianati lagi apa hati ini masih sekuat dulu atau malah sudah rapuh.
"kamu kenapa?" tanya mas Bram mengagetkanku
"astaga mas, kaget Rai"
"kenapa melamun sayang?" tanyanya lagi.
"emh ga apa-apa" sambil menggeleng.
"eh iya mas, nyanyi dong" ucapku lagi sambil menunjukkan gitar yang ada disamping dinding .
mas Bram mengangguk .
*Hal hebat - Govinda
__ADS_1
di hidup ini
telah ku singgahi banyak cinta
namun tak pernah aku temui cinta
sekuat aku menginginkan dia
hal hebat kurasakan
kini dicintai seseorang
yang ku pun mencintai
itu sempurna
takkan siakan dia
belum tentu ada yang seperti dia
satu dunia tahu aku bahagia
banyak pasang mata saksinya ho
tak kan duakan dia
belum tentu esok kan masih ada
kesempatan tak datang kedua kalinya
hargai dan jaga hatinya
dalam diamku
kupanjatkan selalu doa untuknya
jodoh bukan soal sempurna
namun yang mampu tangguh tuk bertahan
dan berjuang..
takkan siakan dia
belum tentu ada yang seperti dia
satu dunia tahu aku bahagia
banyak pasang mata saksinya ho
hatinya tak kan siakan dia
tak kan siakan dia
tak kan siakan dia.....
Mas Bram berjalan mendekatiku lalu
cuppp
kecupan hangat mendarat di keningku sungguh aku merasa terharu .
"terimakasih sayang sudah selalu setia" ujar mas Bram
****
__ADS_1