
"Hay Rai" sapa lelaki itu.
Mereka adalah mantan sahabatku, eh enggak deh... masih sahabat ku tapi kami sudah tak bekontak lagi sejak kejadian itu.
Sedikit cerita,
aku dan Rika adalah sahabatan sejak SMA, dan aku dulu memiliki pacar bernama Adrian yang sekarang menjadi suaminya Rika.
Rika dan Adrian sebelumnya tidak saling kenal, sampai akhirnya aku memperkenalkan mereka . Aku tidak tahu apa yang dilakukan mereka dibelakang ku sampai suatu ketika saat aku berjalan di mall aku melihat sosok dua orang yang aku kenal, ya tepat ditempat ini kami dulu bertemu.
Aku kaget setengah mati melihat mereka, ternyata dua insan ini selingkuh dibelakangku, dan kali ini mereka ketahuan .
PLAKKKKKKK
Tangan ini tiba-tiba terlalu ringan untuk menampar keduanya.
"ini untuk pengkhianat!" teriakku.
"dan buat loe, Kita putus!" sambungku dengan menunjuk ke arah Adrian.
aku berlari sekencang-kencangnya agar tidak melihat batang hidung mereka lagi. Adrian ingin mengejarku, namun Rika menahannya.
Beberapa Minggu kemudian mereka mengajakku untuk berjumpa, ingin sekali rasanya aku menolaknya tapi aku teringat lagi dengan Rika, sahabatku.
Rika tak sepenuhnya salah dalam hal ini, karena bagaimana pun lelaki lah yang menggoda, pikirku. Aku menerima ajakan mereka untuk bertemu semata-mata untuk menghargai Rika, sahabatku.
Aku datang ke sebuah cafe dimana cafe itu adalah tempat kami janjian bertemu. terlihat dari kejauhan Rika sudah menungguku di tempatnya.
"Raina!!!! akhirnya loe datang juga" ucap Rika memelukku.
aku melepaskan pelukan nya "sudahlah jangan berlebihan, aku datang untuk kemanusiaan saja!" cetus ku.
Terlihat jelas Rika sangat malu saat itu, ia menundukkan pandangannya "baiklah silahkan duduk"
tak lama kemudian Adrian pun datang ketempat kami, "maaf nunggu lama ya"
aku menggelengkan kepala dengan wajah datarku karena memang aku tak ingin berjumpa dengan mereka.
"ada yang ingin kalian sampaikan? lekaslah! gue masih ada urusan " ucapku.
"kita makan dulu gimana?" tawar Adrian.
"tak perlu" ketusku.
"oke, oke.. dengarin penjelasan gue... Jujur gue sama Rika itu awalnya memang tidak kenal dan yang kenalin kami itu elo, tapi loe harus tahu ini.. beberapa hari setelah loe kenalin kami, gue diajak nyokap ketemu dengan anak temannya, begitu juga Rika. dan ternyata orangtua kami temanan Rai, kami sudah dijodohkan dari kami kecil"
"kenapa kalian gak nolak?"
__ADS_1
"gue ga bisa nolak Rai, loe kan tahu bokap gue punya riwayat jantung, gue gak mau sampai mengakibatkan fatal buat bokap gue" sahut Rika.
Mendengar penjelasan itu sebenarnya Raina sudah memaafkan mereka tapi ia sengaja berpura-pura marah untuk mengerjai keduanya.
"oh!, ya sudah gue pulang ya" jawab ku
Rika kelihatan panik dan dia menghentikan langkahku , sejenak aku langsung duduk dan kembali mengerjai mereka lagi.
"oke oke.. gue sudah maafkan kalian.. karena gue tahu kalau pengkhianat (sambil nunjuk Adrian) cocoknya dengan penggoda (sambil nunjuk Rika)." ucapku ngasal
"eh tidak...tidak.... kebalik.. Pengkhianatnya itu elo (Rika) dan penggodanya itu loe(Adrian). eh tapi gue kayanya salah lagi, kaliankan KATANYA dijodohkan ya, oke selamat.." sambung ku lagi.
perkataanku membuat mereka tercengang, aku tak dapat menahan tawaku, seketika buyaaaarrrr..
"buakakakakkakakakaka" tawaku lepas gitu saja.
Rika dan Adrian semakin tak mengerti dengan tingkahku, mereka saling tatapan seperti ada tanda tanya dikening mereka lalu mereka dengan serempak melihatku sambil mulutnya menganga.
"hei bodoh! kenapa kalian lihat gue seperti itu? gue cantik ya? yaiyalah masa enggak." ucapku dengan pedenya.
"sudah sudah, gue sudah maafin loe pada kok" ucapku lembut ..
"BENERANNNN???" tanya mereka serempak
aku mengangguk dan mereka sangat bahagia saat itu dengan refleks Rika dan Adrian ingin memelukku, aku menerima pelukan Rika tapi aku menangkis pelukan Adrian.
"siapa loe peluk-peluk gue? huh?" ucapku dengan lantang.
"tapi gue mohon, kita jangan jumpa dulu untuk sementara waktu, gue turut bahagia dengan pernikahan kalian nanti tapi gue gak bisa bohongi perasaan gue , biarkan hati gue sembuh dulu . gapapa ya? gue harap kalian ngerti." tegasku lagi.
"Rai, gue benar-benar minta maaf, ini semua salah gue . gue masih sayang sama loe, tapi gue mungkin akan mengubahnya dengan rasa sayang gue ke sahabat gue, loe mau kan jadi sahabat gue?" tanya Adrian, terlihat jelas rasa bersalahnya dari raut wajah nya.
"oke gue mau jadi sahabat loe tapi gue gak mau disayang sama loe, awas loe kalau hianatin sahabat gue, gue cincang loe sampai habis!" tegas gue lagi.
"gue deluan ya, ingat jangan temuin gue dulu untuk sementara waktu, gue mohon. dan semoga kalian bahagia, byeeeeee" pintaku.
Aku langsung pergi meninggalkan cafe itu, aku tak dapat membohongi perasaanku kalau hatiku saat ini hancur sehancur hancurnya.
tiba-tiba terdengar suara samar-samar memanggilku
dan mengacaukan lamunanku
"sayang, heiiii" ternyata itu suamiku.
"i...iya..." ucapku terbata-bata
"ohiya, sayang kenalin... ini teman-temanku namanya Adrian dan Rika, trus guys kenalin juga ini mas Bram suami gue" ucapku memperkenalkan mereka.
__ADS_1
"oh hallo"
"hai"
"btw kalian mau kemana?" tanya Adrian
"hmmm kita.... hmm yaaaa! kita mau pulang, iya pulang, yakan mas?" jawabku terbata-bata sesekali aku mengedipkan mataku ke arah mas Bram.
mas Bram sepertinya mengerti atas kode ku dan ia mengangguk pelan "iya kalau gitu kami deluan ya"
"Raina, tunggu!!" ucap Rika
aku menghentikan langkahku dan menoleh ke arah belakang "mhhh ya??? ada apa Rik?"
"kita kan udah lama nih gak jumpa, ngopi dulu yuk, please" pinta Rika.
Sebenarnya aku ingin sekali bergabung dengan mereka, tapi aku keingat kejadian dulu. huh.
"sorry, lain kali aja ya guys" sahutku.
****
Sampai dirumah aku langsung menaruh baju babyku ke atas tempat tidur dan memperhatikannya lagi.
Perlahan ku elus perutku yang sedang denyut-denyut geli akibat tendangannya itu "sayang, kamu senang ya nak dibeliin baju? sehat-sehat ya anak mama... loveyou nak" ucapku
Seketika perutku semakin besar gelombangnya dan membuatku kegelian "hahahha kamu lucu sekali nak"
tap...tap...tap...
suara kaki itu semakin dekat ke arah kamarku, siapa lagi kalau bukan mas Bram yang mau masuk ke kamar ini...
ceklek...
"sayang, kamu tidak apa-apa kan?" ucapnya dengan nafas yang tidak beraturan.
"hah? aku? tidak, aku tidak apa-apa. justru kamu yang kenapa-napa, kok sesak gitu?" tanyaku heran.
mas Bram mengerutkan alisnya "bagaimana tidak, aku khawatir karena mendengar kamu tertawa sendiri"
"sungguh???" tanyaku yang sebenarnya aku kesal dengan pernyataan suamiku.
aku dikira gila apa ya? huh.
"ya, memangnya kamu itu kenapa cekikikan begitu?"
aku memasang wajah masam dan mengarahkan jari telunjukku ke arah baju-baju yang berserakan
__ADS_1
"aku cekikikan karena melihat baju itu, lihatlah mas, cantik sekali dan aku gak sabar anak kita memakainya"
Bram menghela nafas panjangnya "hmm begitu ya"