
... Hai kakak reader yang baik hati, nih menjelang episode terakhir mohon maaf karena bakal buat darah tinggi ya, tetap dukung author ya... salam cinta, author, ♥️...
----------------------------------------------------------------------------------
Aku mendekati mas Bram lalu duduk disampingnya
"capek ya mas? banget?"
Mas Bram mengangguk "iya sayang, banget"
Aku ber oh ria, lalu aku mengambilkan secangkir kopi untuknya. ingin rasanya menuangkan sianida sedikit saja didalam cangkir itu tapi untungnya aku masih berbaik hati .
"di minum ya mas, walaupun tadi di cafe udah minum" sindirku tapi mas Bram belum menyadarinya.
"iya sayang " ucapnya sambil menyeduh kopi tersebut
Aku langsung berbalik arah menatap mas Bram yang sedang minum kopinya "eh mas kan dari kantor ya bukan dari cafe"
uhukkkkkk
Ucapanku membuatnya terbatuk-batuk, kelihatan sekali bukan kalau saat ini ia seperti maling yang ketangkap basah.
"maksud kamu apa sayang" ucapnya lagi sementara aku hanya tersenyum.
"mas, aku memang tak melihat, namun bukan berarti aku tak nampak" ujarku lalu pergi menyiapkan makanan.
Di meja makan sudah kuhidangkan nasi beserta lauk pauknya, anak-anak pun sudah berada di meja makan. Kali ini aku hanya memasak telur dadar dan tumis kangkung saja, bukan gak bisa masak yang lain tapi harus ada yang namanya pengiritan karena mengingat uang sewa rumah belum dibayar.
Seusai makan Ara dan Farhan sudah masuk ke dalam kamar sementara mas Bram kembali duduk di teras rumah.
Aku menyusul mas Bram ke depan setelah membereskan meja makan.
"ekhemm"
deheman ku membuat nya tersentak dan nyaris ponselnya terjatuh
"eh sa--sayang... astaga ngagetin saja"
"biasa aja mas, jangan salah tingkah begitu. aku bukan malaikat pencabut nyawa" cibirku sambil terkikik-kikik
"mas, apa uang sewa rumah sudah ada?"
"tenang sayang, pemilik rumah ini sangat baik pada kita, ia memberikan keringanan"
"kok bisa?"
"iya karena rumah ini emang jarang ditempatin katanya jadi ya sayang toh kalau dianggurin"
Penjelasannya membuatku ingin bertanya lagi namun aku memilih diam, bukan gak ingin ikut andil dalam masalah ini tapi sepertinya diam lebih baik.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian ,
"mas kenal sama pemilik rumah ini siapanya mas? maksudnya suaminya atau istrinya?"
"oh anu, itu... istrinya" dan aku hanya ber oh ria.
Mas Bram kembali lagi meminum kopinya dan tak lupa juga dengan rokoknya . nampak sekali dari caranya itu menandakan bahwa dengan begitu saja rasanya nikmat sekali, seperti dunia ini miliknya. ia memang suka sekali minum kopi, saat haus saja minumnya kopi bukan air mineral, menyebalkan bukan?.
"mas, ada yang mau diceritain gak ke aku biar aku gak salah paham gitu?"
"maksud kamu?"
"benaran gak ada ya?"
"hah? mas gak ngerti"
Aku mengangguk "kita abaikan saja, oh iya mas tadi mas cuma dikantor saja ya?"
"iya sayang, memangnya kenapa?"
"oh ga ada, gak singgah ke cafe gitu?
"ga----gak ada"
"ya sudah jangan gagap juga dong haha" ucapku sambil tertawa hambar.
"kamu kenapa? kalau ada apa-apa cerita ke mas, jangan dipendam begitu"
Aku duduk di meja belajar anak-anak sambil menghadap jendela. ingin menangis takut dibilang cengeng ingin teriak namun apa pantas semua ikut merasakan kegelisahan ini?.
ceklek
Aku buru-buru meletakkan buku harian ku setelah melihat mas Bram membuka pintu, bersamaan dengan itu aku juga menghapus air mataku agar tidak ketahuan kalau aku habis menangis.
"belum tidur?"
Aku menggeleng dan langsung berbaring sambil membelakangi mas Bram.
****
Matahari bersinar, hari ini aku berencana untuk mengajak anak-anak pergi bersama ayah dan ibuku. Entah kenapa rasanya aku ingin sekali mengajak kedua orangtuaku jalan-jalan dengan menyetir sendiri mobilnya ayahku.
Semua sudah diposisinya masing-masing dengan aku yang diposisi pengemudi di sebelahku ada ayahku dan dibelakang ada ibu dan juga kedua anakku. Sementara kedua adikku sudah memiliki keluarganya masing-masing.
Selama ini aku memang tidak menceritakan kedua adikku karena mereka sudah hidup bahagia bersama keluarganya. Riki yang sekarang tinggal di Kalimantan , tentunya sudah hidup berkecukupan karena dia sebagai manager di salah satu PT perkebunan kelapa sawit, dan Rina yang walaupun tidak bekerja namun suaminya adalah direktur di PDAM.
Bukan hal yang tak mungkin jika mereka hidup bahagia, aku senang melihat kedua adikku bahagia walaupun kadang aku meringis dengan hidupku, kenapa pada akhirnya kisahku semiris ini?
Berharap ada keajaiban adalah hal yang paling utama di hidupku, namun semua hanyalah harapan yang tak harus di wujudkan.
__ADS_1
"mah!!!" pekik Farhan
Aku tersentak, bisa-bisanya aku menyetir sambil melamun?
"astaga! kaget mama" ucapku dengan mengelus dada.
"Rai kalau lagi banyak pikiran sebaiknya biar papa saja yang bawa, lihatlah kau hampir menabrak pohon itu" tunjuk ayahku.
Aku memutar pandanganku tepatnya mengikuti arah tangan ayahku, benar saja jika hanya berjarak beberapa cm saja aku nyaris menabrak pohon.
Aku menggeleng "biar Rai aja pa"
Aku melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, saat ini kami sedang menikmati indahnya ladang orang yang saat ini kami lewati.
Suasana yang masih asri di pedesaan ini membuatku sedikit melupakan masalahku.
Setelah itu sampailah kami disebuah tempat pemancingan, ayahku sangat hobi memancing maka dari itu aku membawa ayah untuk menyalurkan hobinya.
Tak terasa kini jam sudah menunjukkan pukul tiga sore, aku mengajak mereka semua untuk pulang.
Tapi sebelum pulang aku mengajak mereka untuk membeli bakso , akhirnya aku memutar arah dimana jalannya berlawanan dengan arah jalan pulangku.
"mah kok putar arah?" tanya Ara heran sementara Farhan sudah tertidur dipangkuan ibuku
"kita mau makan bakso yang terkenal itu loh nak, gimana?" tanyaku sambil sesekali melirik spion untuk melihat putriku itu
"asiiiikkkk" jawabnya.
"biar papa aja yang bawa, kamu pasti lelah" tawar ayahku
Aku menggeleng "papa itu sekarang raja jadi duduknya disitu aja dan gak pake debat, oke?"
Ayahku hanya mengangguk pasrah, karena untuk seri aja ga bisa apalagi menang pikirnya.
Ditengah jalan, tepatnya pas diseberang jalanku, jalan yang berlawanan, tiba-tiba aku melihat orang yang memang sangat aku kenali, dia adalah mas Bram.
Lelaki itu sedang membawa mobil seseorang, tepatnya seorang wanita yang saat ini sedang meletakkan kepalanya di bahu mas Bram.
Aku yang melihat itu langsung memutar mobilku, anak-anak nyaris menangis karena aku memutar arahnya dengan mendadak.
"Rai hati-hati?" peringatan ayahku.
"hiksss pa... Rai gak kuat, hiksss itu mas Bram tadi hikss!!!
"jangan nangis, fokus nyetir biar kita samperin dia!" tegas ayahku.
Tak lama aku berhasil memberhentikan mas Bram dengan mobilnya aku tutupin didepan.
Aku keluar dari pintu, kemudian mas Bram juga begitu tapi setelah mengetahui bahwa yang melakukan itu adalah aku mas Bram langsung mundur seperti orang ketakutan.
__ADS_1
Melihat mas Bram mundur aku semakin mempercepat langkahku , lalu.....
PLAKKKKKK