KAU MENDUA

KAU MENDUA
Bab 47


__ADS_3

Aku tergelak "memangnya Raina kalian selama ini kemana?"


"biar aku yang jawab" kata Dion


Kami semua saling tatap menahan tawa "silahkan pak"


Dion menggaruk tengkuknya "ah pada mau ketawa kan? gak jadi deh aku jawabnya, merujak"


Kami bertiga langsung tertawa "BODOAMAT"


Dion menatap istrinya lalu Abel pun mengangkat kedua tangannya "sorry ya pak, dirumah aku memang istrimu tapi disini aku sahabatnya Rai"


"jadi disini ga ada yang belain aku nih?"


kami menggeleng


"hanya diri sendiri, dan tak mungkin orang lain akan mengerti huoo huooo" ujarnya sambil nyanyi tentu saja membuat kami menjadi ketawa.


Akhirnya Dion hanya bisa pasrah, melawan pun percuma pikirnya. Dion melihatku penuh bahagia.


"are you okay?" tanya Vira setelah melihat keheningan


Aku mengangguk "i'm okay, very very very okay hahah"


"Rai, keputusan loe itu sudah benar" kata Abel


"iya kenapa ga dari dulu aja?" kata Dion yang langsung ditepuk oleh Vira "Napa Vir?"


"maksud loe kalau dari dulu biar loe ngajak balikan, gitu?" kata-kata itu buat Abel melotot dengan sengaja ke arah Dion.


"eh kenapa jadi gue yang kena? enggak-enggak, kan gue sudah punya ayang beb, udah ah jangan melotot gitu matanya, makin sayang deh"


"Bulshit" kata Abel dengan nada yang dibuat-buat.


"eh udah, udah . dipending dulu debatnya, masa iya kalian debat disini? masuk dulu"


"hmm benar juga"


Aku mengambilkan minum dan beberapa cemilan "nah, jangan dihabisin"


Vira tergelak "dimana-mana tuh bilangnya nah dimakan, jangan sungkan"


"Yee gue mah beda, rugi kalau nyuruh kalian habisin" ketusku


"gue mau pesan gofood nih, lagi baik hati, ada yang mau makan gak?" tawar Dion


"MAU"


"ck, dasar! para wanita"

__ADS_1


Dion langsung memesan sebanyak delapan buah kantong makanan, dia memang terkenal royal terhadap semuanya dari dulu.


Satu jam kemudian makanan tersebut datang, aku menaruhnya di atas meja .


"astaga, banyak banget, mau jualan loe ion?"


"ck! suudzon terus, itu memangnya dirumah ini cuma ada kamu aja Rai? noh kasihkan bapak emak dan anak-anak mu"


"oh iya heheheh"


Kami pun makan, aku melihat kedua anakku makan dengan lahapnya , sudah sangat lama mereka tidak merasakan lagi sejak aku dan mas Bram berpisah.


Karena perpisahan ini membuatku lebih banyak mengirit, walaupun mas Bram di kertas menyanggupi untuk memberikan uang bulanan anak-anak tapi nyatanya sampai sekarang ia juga belum memberikannya. Jualanku juga penghasilannya tak nentu, tapi aku masih sangat bersyukur untuk itu .


"jadi Rai, gimana kedepannya?" tanya Dion di sela makan. Hampir saja aku semburkan yang ada di mulutku.


"gue gak tahu, tapi yang jelas gue akan fokus dengan prioritas gue yaitu kebahagiaan gue, anak-anak juga keluarga gue. jujur, dulu gue bodoh banget karena sudah memperjuangkan harga diri gue" .


aku langsung menatap Abel dan teringat dengan marahnya Abel dulu "makasih bel karena udah pernah marah sama gue"


Abel menganga mendengar ucapanku "kok makasih? harusnya gue minta maaf, gue kepancing emosi"


Aku menggeleng "loe itu benar, dan berkat marahnya loe ke gue, itu buat gue sadar akan kenyataan"


lalu Aku, Abel dan Vira berpelukan , "gue bersyukur punya kalian"


"gue juga"


"gue juga"


deheman Dion membuat kami melepaskan pelukan kami "ada apa?"


"gu--gue boleh juga gak?"


"pfftttt hahahahah dasar" celetuk kami


***


Sudah Empat bulan, mas Bram tidak memberikan nafkah untuk anak-anaknya membuatku benar-benar tak memiliki uang lagi.


Tak ada cara lain, aku harus membujuk anak-anak agar mau meminta langsung kepada bapaknya.


Hari ini, aku mengizinkan Ara untuk libur sekolah dan mengajaknya ke kantor ayahnya.


"Ara gak mau ikut ma" ucapnya sambil nunduk


Ada rasa iba bahkan hati ini sampai tersayat mendengarnya "maaf nak, kamu harus melakukannya. mama mohon"


Akhirnya Ara nurut dengan perkataan ku, kini kami sampai di kantor mas Bram. Aku menelponnya tapi panggilanku tidak diangkat, aku juga coba untuk SMS tapi hasilnya nihil, sudah satu jam kami menunggu di parkiran tapi ia tak kunjung keluar.

__ADS_1


"Raina!" panggil seseorang


Aku menoleh, dan ternyata yang memanggilku adalah bang Fahri, temannya mas Bram.


"eh bang Fahri"


"mau jumpa Bram ya?"


Aku mengangguk "orangnya ada?"


Fahri langsung melihat arah dalam lalu bilang "biar saya cari"


"terimakasih bang"


"sama-sama"


Tak lama kemudian mas Bram keluar dengan polosnya "Sudah lama nunggu?"


aku mengangguk lalu aku memanggil Ara .


Ara berjalan mendekat ke arah ayahnya , mulutnya diam membisu, tapi matanya mulai berkaca-kaca, ada apa dengan anakku?.


"sayang" kata ayahnya. Ara tetap diam namun tangannya mengulurkan tangan seolah ingin bilang 'minta uang'.


"ini, papa baru punya segini, ga apa-apa ya" sambil memberikan uangnya.


Ara mengangguk, bahkan ia tak mengucapkan sepatah kata pun.


"ya sudah aku pulang dulu" kataku dingin sambil pergi ke parkiran, lalu Ara juga menyusulku tanpa bicara apapun pada ayahnya.


Aku semakin curiga sebenarnya ada apa dengan putriku, aku pun berjalan mengendarai motor dengan sangat pelan.


"nak" panggilku


"iya mah"


"kenapa kamu daritadi diam saja"


"hiks, ma sebenarnya Ara pengen ngomong tapi rasanya berat sekali, mungkin hati Ara terlalu sakit melihat papa dengan wanita itu, jujur ma, Ara sakit hati sama papa hiks"


Aku memberhentikan motorku tepat di warung, aku menyuruhnya untuk duduk dan minum.


"sini mama peluk" kataku dan kami menangis bersama.


"ma, papa kok bisa tega sama kita?"


"ini sudah jalan dari Allah, takdir Allah yang harus kita hadapi"


"tapi hiks tapi kenapa harus dengan perempuan lain hiks"

__ADS_1


"nak, semua sudah terjadi, yang penting kasih sayang mama dan papa gak akan pernah pudar sayang"


__ADS_2