
ceklekkk (anggap aja suara pintu yang terbuka)
Mendengar itu, aku langsung pura-pura tidur .
"Raina, mas mau ngomong" ucapnya mendekatiku
"Rai..." panggilnya lagi
"sayang" katanya dan aku belum juga menyahutinya.
"mas tahu kamu belum tidur, ada yang mau mas bicarakan" sambungnya.
"hmmm" sahutku dengan mata masih tertutup
"duduk dulu dong" pintanya.
"maaf mas Raina lelah, kapan-kapan saja. oh iya itu ditengah ada guling sebagai pembatas, jangan sampai melewatinya, mengerti?" jawabku
"loh ga bisa gitu dong sayang" protesnya
"no debat, bye" singkatku. tak lama kemudian aku benar-benar sudah pergi ke alam mimpi.
***
"Rai, bangun" panggil suamiku sambil mencium keningku.
Aku yang merasakan ada sentuhan di kening seketika membuka mataku. ada apa ini? kenapa mas Bram manis sekali subuh ini? , batinku bertanya-tanya.
"iya udah bangun nih" sahutku .
"ambil wudhu, kita subuh jama'ah" pinta suamiku.
Lagi-lagi aku dikagetkan dengan perlakuannya pagi ini. Ingin sekali aku menolak ajakannya, tapi aku juga seorang istri yang harus patuh padanya apalagi dalam kebaikan.
Setelah aku ambil wudhu, aku dikagetkan dengan sudah adanya ibu mertuaku disana sementara anak-anak masih tidur.
skip
Hal wajib yang harus ku lakukan setelah selesai sholat adalah mencium tangan suamiku, dan dia mencium keningku. Pagi ini, kami melakukan itu. Ingin rasanya aku meneteskan air mataku. Sudah lama sekali kami tidak semanis ini, aku yang memang kekeuh dengan keegoisanku juga dia yang dengan kesalahannya.
Dan lagi, aku masih penasaran dengan siapa dia berhubungan melalui ponsel itu, berdosa memang menuduhnya tapi aku juga wanita.
Wanita yang ingin dicintai sepenuh hati dengan suaminya, apa aku salah? apa aku salah mengharapkan cinta suamiku hanya untukku seorang?
***
Malam ini kami sudah sampai di rumah kami, seperti biasa aku langsung beralih ke kamar anak-anak sementara suamiku sudah berada di kamar kami.
"Farhan sayang, malam ini mama boleh tidur sama kak Ara gak? boleh ya?" kataku sambil mengelus kepala anak lelakiku itu.
"mama sama papa lagi berantam ya? kok tidurnya pisah Mulu?" sahut Farhan.
dorrrrrr
Bagai kesambar petir mendengarnya, anak sekecil itu sudah mengerti masalah kami? astaga maafkan mama nak.
Aku berusaha tersenyum didepan kedua anakku "kata siapa? mama bukan lagi berantam, tapi eummmm sini deh mama bisikin" ucapku sambil mikir alasan apa yang harus aku katakan.
"apa mah apa" tanya mereka penasaran sambil mendekat ke arahku.
__ADS_1
"tapi jangan bilang siapa-siapa ya, gimana?" ucapku dan mereka mengangguk.
"sebenarnya mama dan papa sedang bermain sendiri-sendirian" ucapku ngasal.
"benarkah? berarti kalau yang kalah akan diberikan hukuman ya mah?" tanya Ara
"benar sayang, dan kalian berdua adalah jurinya." kataku.
"asiikkk, kita kasih hukuman apa ya dek buat mama dan papa, eummm" ucap Ara
"kita suruh teraktir beli ice cream aja kak sama mobil remote" sahut Farhan
"boneka Barbie dong masa mobil remote" kata Ara
"enak saja, aku kan laki-laki. kakak saja yang beli mobil remote" sahut Farhan
"okey, kalau gitu kakak beli boneka tapi kakak juga beli mobil remote, wlekkk" ledek Ara
"kakak mah curang, huuuuu" ucap Farhan.
"sudah sudah, apapun yang kalian minta pasti di belikkan kok, sekarang Farhan pindah ke kamar papa ya kasian tuh sendiri" kataku untuk merelai mereka.
***
Bram POV
tap tap tap
ah siapa itu? semoga saja Raina , istriku yang sangat kurindukan.
ceklek
jlebbbb
Begini ternyata jika kita berharap terlalu berlebihan, kata orang jangan menghayal tinggi-tinggi nanti jatuhnya langsung ke bawah tanah. sakit? iya, tapi tak berdarah.
Ternyata yang masuk adalah jagoan kecil kami, Farhan.
"nak, mana mamamu?" tanyaku
"mamah sama kak Ara pah, kenapa? papa ngaku kalah ya? hayolooo" ucap Farhan yang membuatku menjadi bingung.
"kalah? memangnya sedang berlomba?" tanyaku polos
"ah papa mah, tenang aja pah, Farhan gak akan kasih tahu siapa-siapa" jawabnya.
Membuatku semakin bingung. kalah? rahasia? huh? apa ini!!!
"memangnya mama bilang apa sama Farhan?" tanyaku lagi.
"kata mama, papa sama Mama lagi main sendiri-sendirian" katanya membuatku semakin bingung.
"mama bilang begitu nak?" tanyaku
Farhan mengangguk "oh iya pah, yang jadi juri itu Farhan sama kak Ara loh, nah yang kalah nanti kami beri hukuman, siap-siap aja duit papa kami habisin hahahahah"
ternyata ini alasan yang dibuatnya untuk anak kami, syukurlah ia tak menjelekkan ku. batinku.
"baiklah, siapa takut" sahutku
__ADS_1
"papa kenapa gak kalah aja sih" kesal Farhan membuatku geli mendengarnya.
Ingin tertawa takut dia marah, tapi ini lucu.
"memang nya kalian pengen banget? hum?" godaku..
lalu, satu detik.. dua detik... dan......
"hahahhahaha" tawa Farhan lepas ketika aku menggelitik badannya.
"ampun pah hahahahhahah ampun" ucapnya dan aku menghentikan aksiku.
"ini namanya menyakiti juri pah, dan papa akan Farhan berikan sanksi, tapi besok aja Farhan sudah mengantuk" ucapnya, dan aku memeluknya sampai ia tertidur.
kupandangi wajah jagoanku ini, ada rasa bersalah dihatiku. Menjadikannya korban atas apa yang aku lakukan, astaga ayah mecem apa aku ini.
Jujur saja aku sangat menyayangi istri dan anak-anakku tapi entah kenapa aku tak bisa berhenti menyakiti mereka.
Apa kurangnya istriku? aku sering bertanya dalam hatiku, setiap aku ingin berubah tiba-tiba saja itu tak bisa.
***
Raina POV
Semakin hari keuangan dirumah semakin menipis. Untung saja anak-anakku menyukai telur dan mie instan. Ya, hanya itulah yang sanggup ku berikan saat ini. Satu telur kadang mereka bagi berdua. astaga ibu berdosa pada kalian nak.
"Mama masak apa ?" tanya Ara di dapur.
"telur dadar nak, gak apa-apa kan?" jawabku gak enak hati
"gak apa mah, Ara sudah lapar" sahut Ara
"baiklah tuan putri, panggil adikmu " pintaku
setelah mereka berada di meja makan aku mulai membagi lauknya menjadi dua, mereka saling menatap mungkin heran melihatku.
"lauknya bagi dua ya, biar so sweet" ujarku ngasal
"iya mah" jawab Farhan
"untuk mama mana?" tanya Ara
"emhh mama masih kenyang sayang" jawabku sambil melihat mereka makan
maafkan mama yang berbohong nak, mama ingin kau menikmati makanmu yang seadanya ini, batinku.
skip
Setelah mereka makan siang , keduanya pun pergi berangkat mengaji di madrasah.
Sekarang, giliranku yang makan. Aku hanya makan nasi putih dengan garam saja untuk menghemat biaya.
***
Keesokan paginya aku bingung untuk menyediakan apa di meja, mas Bram sengaja tidak keluar kamar karena bingung untuk menjawab pertanyaan yang nanti pastinya akan dilontarkan oleh kedua anak kami.
"sayang, mama telat bangun. sarapannya pakai kecap saja gimana?" tanyaku.
Aku tahu mereka pasti kecewa tapi apalah daya?
__ADS_1
"boleh mah .. " jawab mereka beberapa menit kemudian.