KAU MENDUA

KAU MENDUA
Extra Part 1


__ADS_3

Beberapa tahun kemudian,


Ara sudah memasuki bangku kuliah sementara Farhan saat ini duduk di kelas 1 SMA. Selama beberapa tahun ini banyak sekali kejutan yang aku terima. Ara yang kuliah karena prestasinya membuat ia hanya membayar uang setengah dari SPP normalnya. Sedangkan Farhan kini tumbuh menjadi anak yang susah di atur .


Aku tak mengerti apa yang terjadi dengan anak lelaki ku itu, Padahal beribu kasih sayang yang sudah aku dan Mas Rasyid berikan padanya. Kadang aku berfikir apa aku terlalu keras mendidiknya, ah tapi tidak juga.. Aku hanya melarangnya jika ia pulang malam, aku hanya menasehatinya di kala ia lupa akan belajar.


Farhan belakangan ini lebih sering tinggal tempat Mas Bram, aku tidak tahu didikan seperti apa yang di ajarkannya. Benar, saat anak-anak sudah mulai besar aku memang tidak melarang mereka untuk tinggal dengan siapa saja yang mereka mau. Berpisahnya aku dengan ayah kandungnya membuatku tak ingin memisahkan antara ayah dan anaknya.


"Mamaaa!!!" panggilan itu membuyarkan lamunanku.


Aku menoleh "Eh Atha sayang...."


Ya, dia adalah Athaya Abbasy, anak laki-laki ku dan Mas Rasyid kini sudah berumur 3 tahun.


"Mama kenapa melamun? Atha panggil dari tadi" rengeknya.


"Maaf ya sayang, oh iya bang Farhan mana?" sambil ku lihat ke arah belakang.


"Abang pergi lagi ma, katanya mau ke tempat papa Bram, Atha cuma diantar sampai depan pintu tadi, nih ice creamnya Atha letak kulkas ya?"


Aku mengangguk "Iya nak"


Kubuka lemari buku yang ada di depanku ini, sebuah surat peringatan dari guru yang masih enggan ku baca.


"Assalamu'alaikum" ucap Mas Rasyid depan pintu


Aku menoleh "Waalaikumussalam, sayang sudah pulang? kok gak dengar suara mobilnya?"


"Hmm bagaimana kamu mau dengar, pikiran kamu kemana-mana" kata Mas Rasyid sedangkan aku hanya tertawa hambar.


Mas Rasyid melirik kertas yang sedang aku pegang " Apa itu? "


"hah? emh, oh ini?" ucapku gelagapan. Sungguh aku malu harus menunjukkan surat ini ke suamiku, entah surat keberapa yang aku pegang ini atas kenakalan anakku.


Aku tertunduk lalu aku duduk di kursi tamu yang berada dekat dengan pintu masuk. Mas Rasyid menyadari ketakutan ku, ia mendekat dan memelukku .


"Ada apa?, Farhan lagi?" tanya nya dan aku mengangguk.


"Sudah, jangan sedih.. biar Mas yang datang besok"


"Tapi mas..."


"Ada apa sayang?"


"Maaf, anakku buat malu lagi" lirihku pelan


"hussttt sudah, jangan ngomong gitu. Farhan anak mas juga, sudah jangan dipikirin lagi. Oh iya mas lapar, siapin makanan ya, mas mandi dulu"


***

__ADS_1


Keesokan harinya, Kami pergi ke sekolah Farhan ternyata disana juga sudah ada mas Bram bersama Friska. Kami saling sapa, aku sudah memaafkan mereka walaupun aku belum lupa atas apa yang terjadi.


"Rai, Rasyid " sapa mas Bram dan kami mengangguk


"Kalian di panggil juga mas?" tanyaku heran .


"Iya, kira-kira ada apa ya?"


"Kita lihat saja nanti" kata mas Rasyid tiba-tiba.


Lalu tak lama kemudian guru BP pun memanggil kami, tepat didepan guru BP kami duduk bersejajar. Sudah seperti reuni ya?.


"Selamat pagi ibu-ibu , bapak-bapak " sapa gurunya.


"Pagi Bu" ucap kami serempak.


"Maaf sudah mengganggu waktunya, ada hal yang harus kita bahas sekarang "


"Kalau boleh tahu, ada apa ya Bu?"


"Iya bu, apa yang dilakukan anak saya?"


ekhemmm


"Begini Pak, Bu... Beberapa hari yang lalu Farhan ketahuan merokok di aula bersama teman-temannya. kami sudah tidak bisa mempertahankannya lagi, ibu dan bapak hanya ada dua pilihan "


"Kalau boleh tahu, pilihannya apa Bu?"


prangggggg


Bagai tersambar petir mendengarnya, aku gak dapat menahan tangisku. Bagaimana bisa anakku merokok disekolah? Selama ini aku memang tidak pernah melarangnya untuk bergaul dengan siapa saja tapi tidak harus ikut merokok juga.


Mas Rasyid memelukku dengan erat, lalu kami saling pandang berempat, aku memberi kode nomor 2 sedangkan mas Bram mengangguk.


"Bagaimana Bu, pak...?"


Lidahku kelu, untuk menjawabnya aku gak mampu. Apa salahku? nak, apa salah ibumu dalam mengasuhmu?.


"Kami pilih yang kedua Bu," ucap mas Bram


"Baiklah, kami akan mengurus suratnya. Terimakasih atas waktunya Bu"


"Sama-sama, mari bu..."


Di luar ruangan, kami duduk di taman sekolah dengan saling berhadapan. Tujuannya adalah membahas masa depan Farhan .


"Lalu bagaimana sekarang?" tanyaku langsung


"Ekhem , sebagai ibu kamu harusnya bisa menjaga anak, bukan kebobolan gini" sindir mas Bram.

__ADS_1


Emosiku terpancing, apa katanya tadi? dia menyalahkan ku? apa dia gak sadar?


"Eh maksud mas Bram apa? kamu nyalahin aku? Sadar dong, sebagai bapak dimana tanggung jawab mu mas!"


"Kamu yang gak perhatian, aku yang kamu salahkan" ucapnya lagi, benar-benar keterlaluan.


"Maaf ya pak, sadar gak kalau Farhan setiap hari tidur di mana? ha? dia dirumahmu! Aku hanya bertemu dengannya di saat siang, selama dia tinggal samaku dia baik aja tuh" geramku membuat mas Bram diam membisu. Mampus, skakmat!


Mas Rasyid hanya diam, dia ingin memberikan luang kepada kami sebagai orang tua kandung untuk meluruskan masalah, tapi karena melihat kami tersulut emosi mas Rasyid pun membuka suaranya .


"Maaf semua, gak maksud ikut campur, tapi ini bukan saatnya untuk saling menyalahkan. Farhan harus segera kita pindahkan , ada saran mau sekolah dimana?" Tanya mas Rasyid sedangkan aku hanya diam.


"Biar dia ikut kami saja!" kali ini yang bicara adalah Friska.


"Tap------" ucapku terpotong


"Sayang, biarkanlah.. Toh juga Farhan itu sudah besar, biarkanlah " ucap mas Rasyid menenangkanku.


Seketika aku diam dan berfikir, apa maksud perkataan mas Rasyid? ah iya, mungkin aku harus mencobanya, karena sebelumnya mas Bram menyalahkan ku.


"Okay"


***


Pagi ini aku mengajak anak-anakku untuk pergi ke sebuah pantai. Ara dan Syifa sudah duduk di kursi paling belakang karena mereka tahu sebagai kakak harus mengalah pada adik-adik nya .


Saat ini Atha sedang duduk sendiri di kursi tengah karena kami sedang menjemput Farhan ke rumah Ayahnya.


Begitu sampai di depan rumah mas Bram...


tin tin


Akhirnya Farhan keluar, betapa terkejutnya aku melihat penampilan anakku. Rambut yang gondrong tak terurus dan apa itu? kumis tipis? astaga, dia pelihara kumis sedangkan ia kini masih sekolah.


"Astaga!" gumamku


"Kenapa ma?" tanya Farhan


"Gayamu nak, kenapa harus begitu?"


"ck! ini namanya style anak muda ma, ah mama kudet"


"Apa itu kudet bang?" tanya Atha


"Kurang update dek" Lalu Atha tertawa.


Aku kembali diam, tak ingin memperpanjang nya.


***

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2