
Bulan berganti, tak terasa putriku sudah memasuki empat bulan, senyumannya menjadi canduku dan tingkah lucunya adalah obat setiap lelahku.
Namun siapa sangka tiba-tiba putriku panas tinggi, akhirnya aku membawanya ke rumah sakit. Melihat tubuhnya terbaring di kasur pasien dengan tangan yang disuntik infus membuat hatiku tersayat-sayat, sakit sekali rasanya memandangi tubuhnya yang lemah tak berdaya dan hanya bisa menangis saja.
'kenapa tidak aku saja yang terbaring lemah disitu? kenapa harus anak aku?? pindahkan lah penyakitnya ke tubuhku, tuhan.. aku tak sanggup melihatnya menderita seperti ini, sungguh' batinku menangis.
Putriku masih sangat kecil untuk merasakan sakit ini, tangisannya semakin menjadi saat jarum suntik itu menusuk selang infus putriku.
Ku mendekati tubuhnya yang sedang terlelap dan ku kecup keningnya "sayang, kamu kuat nak, sembuhlah demi mamah ya nak, mama menyayangimu"
Tak terasa seminggu sudah putriku dirawat, suamiku hanya datang disaat siang hari dan entah kemana karena ia tidak ikut menjaga putri kami ini di rumah sakit, aku hanya berfikir positif saja mungkin dia lelah bekerja seharian.
Alhamdulillah kini kami sudah diperbolehkan untuk pulang, dan mas Bram menjemput kami di Rumah Sakit.
"assalamu'alaikum" sapa mas Bram
"waalaikumsalam, mas..." sahutku sambil mencium tangan suamiku.
"nak, papah datang, apa kau senang???" tanyaku pada Ara, putriku.
Bayi mungil itu langsung senyam senyum sumringah seperti mengerti dengan pertanyaan orangtuanya.
Entah kenapa hari ini aku melihat wajah suamiku kusut bagai kain yang belum di setrika, seperti ada yang ingin ia sampaikan, ada yang ia sembunyikan dan seperti orang yang sedang ketakutan.
kupukul pundaknya yang sedang melamun "mas, are you okay?"
"eh i-ii-iya sayang, i'm okay" jawabnya terbata-bata
aneh sekali, batinku.
Mas Bram menjemput kami memakai mobilnya ayahku , sepanjang jalan hanya hening yang tercipta, bahkan suara nafas pun terdengar langsung ke telinga.
Betapa terkejutnya aku saat melewati jalan yang bukan ke arah rumah kami, melainkan rumah ayahku.
"mas kenapa belok sini? bukannya rumah kita belok sana?" tegurku sambil menunjuk jalan
"hemm itu, ha iya sebaiknya kita pulang dulu ke rumah papa ya, ga enak ngomong di jalan, oke?" sahut nya sambil mengelus tangan sebelahku, karena sebelahnya lagi menggendong putriku.
deggggg...
Perasaanku mendadak cemas sekarang, kenapa tidak pulang kerumah? ada apa ini? kenapa? huh lelaki ini, bisanya membuat cemas saja.
"sampai" ucap suamiku sambil turun dan membuka pintu rumahnya papa .
Aku masuk ke dalam dan duduk diruang tv setelah menaruh Ara ke dalam kamar.
"Mas Bram!" teriakku yang melihat suamiku masuk ke rumah.
"hmm?" jawabnya kaku.
__ADS_1
"sini, duduk!" sambil menepuk sofa.
"ada apa sayang?" tanya nya santai
"mas, aku tahu pasti ada sesuatu yang kamu sembunyiin kan, iya kan? udah deh lebih baik jujur aja sekarang"
Mas Bram hanya diam beberapa saat , aku bisa melihat dengan pasti wajah gugupnya setelah mendapat pertanyaan dariku.
"Rai... sebenarnya.. emh.. maaf..." ucapnya lirih.
Pemjelasan seperti apa ini?? pasti ada yang tidak beres.
"katakan" singkatku
"mas sudah menggadaikan rumah kita, maafin mas tapi itu unt--" ucapnya terputus
PRANGGGGGGGGGG
Gelas yang mau diminum Raina pecah secara tidak sengaja terjatuh dari tangannya.
"apa mas???? hikssss kenapa mas?? kenapa harus rumah kita? kenapa?" tanyaku lirih
"itu untuk berobat Ara kemarin sayang, sungguh" sambil memegang tanganku.
Aku menghindar dan kutatap ia dengan tajam "mas bohong, pasti bukan untuk itu, iyakan? apa mas berjudi? iya mas? ngaku gak?"
"sekarang mas pergi dari rumah papa, Ara gak butuh ayah seperti mas, aku bisa menjaganya. aku tidak suka ya mas kalau mas berjudi, mas tau itu bukan? Hem? " teriakku sambil menunjuk arah pintu.
"mas mohon, jangan seperti ini"
aku sangat sakit hati mendengarnya lalu aku menarik paksa tangan suami aku untuk keluar dari rumah ayahku.. dan....
BUKKKKKKKKKKKKKK
"Raina, tolong dengarin penjelasan mas, " teriak mas Bram dari seberang pintu yang sudah kututup dengan kuat.
"stop! pergilah" ucapku lirih.
Hancur sekali rasanya memiliki suami yang suka bermain judi, tak pernah terpikirkan olehku, seperti inikah suamiku????
Bahkan aku tidak tahu sebelumnya kalau ia sangat suka berjudi, jika aku tahu maka aku tak pernah mau dinikahinya.
****
hikss... hikss hikss....
Aku hanya menangis setiap hari, pikiranku kacau, ayah dan ibuku juga sangat kecewa dengan mas Bram, menantu yang sangat mereka percaya saat ini .
"kenapa mas??? kenapa???"
__ADS_1
Pertanyaan yang selalu muncul dibenak ku walaupun aku tahu dia tak pernah menjawabnya.
pantas saja anakku sakit, ternyata dari uang haram, huh yaallah maafin hamba yang tidak tahu ini sebelumnya, batinku.
tok...
tok...
tok...
"siapa lagi sih? huh... emh Rika tolong loe buka itu pintu kayanya ada tamu deh" teriakku sambil memberikan susu pada Ara
"Ara sayang...."
deg....
suara siapa itu? hmm ya, aku seperti mengenal suara itu, seketika aku langsung menoleh ke sumber suara..
"mas..!!" teriakku
"untuk apa mas kemari lagi? huh? pergi sana kami tidak mau melihat mas disini" sambung ku
"Rai, izinkan aku bertemu dengan putriku, kumohon..." ucapnya.
Aku melihat dengan jelas kerinduan dari seorang ayah pada putrinya, tapi aku juga tak rela anakku berjumpa dengan ayahnya, sedikit egois memang namun ini demi kebaikannya .
Akhirnya aku menepiskan egoku, walau gimana pun dia adalah ayah dari anakku . Ara pasti merindukan ayahnya, aku tak ingin dianggap buruk Dimata putriku.
Aku meninggalkan mereka berdua, kulihat dari kejauhan Mas Bram menggendongnya dan mengajaknya bermain sampai Ara tertidur dipangkuannya.
"mas sebaiknya kamu pulang saja, Ara juga sudah tidur." pintaku
"Raina apa kau masih marah dengan suamimu? maafkan aku, aku tak bisa hidup tanpa kalian, ku mohon kasih aku kesempatan" ucapnya lirih.
degggggg
kenapa aku jadi kasihan begini? lagipula kesalahan bisa diperbaiki, bukan? Allah saja maha pemaaf kenapa aku tidak? hayolah Rai, kau juga merindukannya , bukan??. batinku bergejolak
Karena melihatku tidak meresponnya mas Bram mengambil tanganku "Ra, tolong maafkan aku" ucap nya sekali lagi.
"baiklah aku akan memaafkanmu mas. tapi ku mohon padamu untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. aku sangat benci dengan yang namanya judi, apa kau paham itu mas??" pintaku
"kau tahu? uang haram yang kau dapatkan itu dan kau berikan pada kami itu akan menjadi penyakit untuk keluargamu. amit-amit sekali mas. " sambungku
"mungkin kejadian kemarin adalah teguran dari Tuhan untuk kita, apa kau tega melihat anakmu seperti itu? kau yang berbuat namun anakmu yang menanggung dosanya. semoga ini kesalahanmu yang terakhir." harapku sambil mengambil tangan yang digenggamnya tadi.
Seketika pelukan langsung ku dapat darinya, pelukan yang kurindukan dalam beberapa hari ini, wanginya masih sama .
"berisitirahat lah mas" sambil melepas pelukan itu dan meninggalkannya ke dapur.
__ADS_1