
Tapi apa yang dilakukannya? ah Dion ini selalu saja buat masalah.
Tak lama kemudian Dion datang ke arah kami, terlihat jelas wajahnya yang kusut itu menandakan ia sedang kesal saat ini. Hal itu membuat aku menjadi semakin yakin kalau Dion dan mas Bram telah berkelahi.
"sorry lama" ucap Dion yang aku tatap dengan sangat tajam.
Dion yang melihatnya pun langsung mengangkat bahunya lalu berbisik ke arahku "nanti aku ceritakan" .
"ekhemm" deheman kekasihnya mas Bram, sepertinya ia sudah mulai curiga pada kami.
Kami bertiga langsung menoleh padanya.
"kak pulang yuk, Caca capek" rengeknya dengan manja.
Cih! ingin sekali rasanya aku muntah dihadapannya, sungguh sangat menjijikkan.
Lalu mas Bram mengangguk dan langsung pulang setelah ia pamit pada kami. Tinggal lah aku dan Dion saat ini, aku menarik tangan Dion dan memintanya untuk menjelaskan semuanya.
"cepat katakan, ada apa ini?" tanyaku dengan serius.
"gak ada apapa, tenanglah." jawabnya santai
"Dion......." sambil melotot
"oke oke, aku hanya memperingatkannya, ah tidak tidak, lebih tepatnya memberikannya hukuman atas apa yang dia lakukan, aku gak bisa ngelihat kamu disakitin gitu Rai " ucapnya serius
"gue gapapa, seharusnya loe gak harus lakuin itu" sahutku pelan .
"jujur aja, hati aku juga ikut sakit saat kamu disakiti. kamu bisa saja bilang gapapa tapi tak berlaku untukku, aku tahu kamu Rai, aku tahu kamu lagi gak baik-baik saja" katanya lagi .
Aku terdiam dan hanya bisa diam karena ya mau gimana lagi? membantahnya pun percuma .
"gue pulang deluan" ucapku
"aku antarin"
"gue bawa motor"
"ya sudah hati-hati Rai"
'susah banget sih dapetin hati kamu lagi Rai' gumam Dion yang masih bisa aku dengar, tapi aku memilih untuk pura-pura tidak tahu agar masalah ini tidak diperpanjang lagi.
****
__ADS_1
Malam pun tiba,
di meja makan sudah tersaji lah makanan yang banyak, tentunya ada makanan kesukaan ku juga. Suasana menjadi hening seketika, dan hanya suara sendoklah yang terdengar.
"ma, Farhan kangen papa" kata Farhan untuk memecahkan keheningan
"uhuk uhuk uhuk"
Aku langsung terbatuk-batuk, pengakuannya kali ini sangat membuatku kaget dan pastinya panik. Aku bingung untuk menjawabnya seperti apa jika dia bertanya lebih dari itu sekarang.
"Farhan mau ketemu papa?" tanyaku lembut
Betapa kagetnya aku Farhan langsung mengangguk dan terlebih lagi saat melihat Ara juga ikut mengangguk.
eh apa-apaan ini? kenapa mereka kompak banget.
"ya sudah mama antar" ucapku dengan berat hati.
"mama juga ikut" sahut Farhan
"tidak nak, mama ga bisa ikut" tolakku dengan senyuman.
"kenapa ma?" tanya Ara
degggg
Ayahku langsung memeluk Ara , ibuku memeluk Farhan , dan kedua orangtua ku langsung memberikan pengertian untung saja mereka langsung paham.
tok tok tok (suara ketukan pintu)
Aku membuka pintu karena sudah tahu siapa yang datang, yaitu guru ngaji kedua anakku dan dia mengajarnya secara bergantian.
Dia mengajar Farhan terlebih dahulu karena Farhan masih Iqra' lalu setelahnya mengajar Ara dan sekarang Ara lebih fokus untuk tilawah.
Setelah belajar, mereka berbincang, aku yang tidak sengaja lewat tepat didepan mereka belajar pun langsung menghentikan langkahku setelah Farhan bertanya pada guru ngajinya yang membuat hatiku berdetak.
"umi, Farhan mau bertanya " kata Ara
"silahkan sayang, tanya apa?" sahut gurunya
"begini umi, kalau orangtua pisah itu artinya apa ya? " tanyanya dengan polos
deggggg!!!
__ADS_1
"memangnya kenapa sayang? kok Farhan nanya begitu?" sambil mengelus rambut Farhanyang dilapisi dengan mukenah.
"iya umi, Farhan bingung kenapa papa sampai sekarang tidak pulang? padahal kata mama mereka baik-baik saja, tapi Farhan pernah dengar mama minta pisah sama papa" celoteh Farhan panjang lebar.
tessssssss
Air mataku keluar begitu saja tanpa seizin ku, bagaimana tidak? ternyata jagoan kecilku itu mendengar semuanya dan sekarang apa yang harus ku lakukan? ribuan maaf ku lontarkan untuk anak-anak ku, tapi hanya bisa ku ucapkan dalam hatiku karena entah kenapa bibirku menjadi beku .
"emhh Farhan sebaiknya jangan mikirin itu dulu ya nak? karena yang terpenting sekarang adalah meningkatkan hafalan dan ngajinya, katanya mau cepat baca Al-Qur'an? umi udah ga sabaran nih mau makan pulut kuningnya Farhan, yok semangat yok sebentar lagi" ucap guru ngajinya.
Ara hanya diam karena sebenarnya dia sudah mengerti arti dari perpisahan, saat ini dia sudah kelas 6 SD dan sedikit banyaknya dia sudah paham untuk itu .
Saat Ara melihatku yang terpaku sambil menangis ia pun menghampiri dan memelukku dengan sangat erat, aku membalas pelukannya juga sambil menghapus air mataku .
"mama pasti kuat" katanya tiba-tiba
Aku langsung melepaskan pelukannya dan melihat putri kesayangan ku itu "pasti donk, mama siapa dulu" ucapku
"benarkah? itu air apa yang di wajah mama?" goda Ara
"air wudhu" jawabku ngasal.
Ara mencipitkan matanya seperti ingin mengintrogasi ku, lalu dengan cepat aku langsung mengajaknya kembali ke ruang belajarnya.
Setelah bergabung, aku sedikit bercengkrama dengan guru nya itu lalu mengantarkan nya pulang sampai depan pintu setelah ia izin pamit.
"tunggu mi..." ucapku saat sudah diluar rumah..
"iya mah? ada apa?" katanya sambil membalikkan badannya.
"maaf umi ganggu waktunya sebentar, soal pertanyaan anak-anak saya tadi mohon jangan di dengarin.. emh maksud saya........" ucapku terpotong saat guru tersebut berbicara.
"oh soal itu, mamah tenang saja, saya paham maksud mamah apa. tapi mah kalau boleh saya kasih saran jika ada masalah apapun terutama dengan suami sebaiknya jangan didepan anak-anak. Seperti yang kita ketahui hati anak kecil itu sangat lembut ditambah lagi dengan kepolosannya itu mudah sekali membuat hatinya sakit, saya takut hal itu bisa mengganggu mental anak-anak mah..." ucapnya panjang lebar, dan aku? hanya bisa diam.
"maaf mah, bukan maksud menggurui" ucapnya lagi setelah beberapa menit.
"ah enggak umi, kata-kata umi barusan itu memang benar" lirihku.
Guru tersebut langsung tersenyum dan tak ingin membahas percakapan ini lebih dalam lagi, akhirnya ia pamit pulang denganku.
****
Beberapa hari kemudian, anak bungsuku akhirnya tamat dari Iqra'nya, dan kini ia naik Al-Qur'an.
__ADS_1
Seperti tradisi di lingkungan ini yang mana kalau ada anak kecil naik Al-Qur'an maka harus membagikan pulut kuning, tapi jujur dengan keuanganku yang seadanya aku bingung harus bagaimana caranya?
apa aku harus meminjam uang kepada orangtuaku? ah tidak! ini untuk bersedekah, masa iya aku harus pinjam?.