KAU MENDUA

KAU MENDUA
Bab 37


__ADS_3

Dua minggu kemudian, kami sudah mendapatkan rumah baru untuk tinggal, sedikit jauh dari rumah orangtuaku tapi suasananya lebih nyaman, apalagi banyaknya pepohonan membuat kami menjadi lebih adem lagi. Ditambah lagi tetangga-tetangga disini pun pada ramah padahal kami baru saja menempati rumah ini .


"waaah rumahnya lebih bagus ya ma" ujar Ara .


"iya, ada AC nya juga" sahut Farhan.


Memang benar, pemilik rumah ini meninggalkan AC di kamarnya, dan ini juga menjadi nilai plus untuk kami tinggal disini.


"sudah, sebaiknya kalian istirahat ya" sahutku, karena memang sebelumnya rumah ini sudah kami bersihkan, hanya tinggal menempati saja hari ini .


****


Beberapa hari kemudian, aku mengajak teman-temanku untuk main ke rumah baruku ini, aku memang tidak masak apa-apa karena katanya mereka lah yang akan membawa makanan.


"banyak banget makanannya guys" ucapku terheran


"entah ni Dion , lu lagi ulang tahun ya?" celetuk Vira


"ekhem kayanya bukan ulang tahun deh Vir, mungkin ada yang jadian... mungkin ya" sindirku


"eh ga ada - ga ada, ngawur aja kalian. iya gapapa dong gue baik sekali kali aja, kalau ga ada yang mau makan ya udah gue bawa balik aja lagi" protes Dion


"sewot aja lu kaya orang pemes" kata Vira lalu kami berdua tertawa, sementara Abel hanya diam dari tadi.


"bel diam Bae" tanyaku


"oh anu, iya , anu itu, emhh gapapa" sambil salah tingkah .


"kalian pacaran ya? hahahahha" ucapku ngasal


"uhkhkkkk uhukk" mereka langsung terbatuk-batuk.


"udah jujur aja kali ama kita, iya gak Rai" sahut Vira


"eh enak aja, kita cuma dekat doang" ujar Abel asal-asalan .


"oh dekat, yayayya dekat Vir dekat" kataku


"eh maksud si Abel ya kaya aku dekat sama kamu Rai, iya gitu" bela Dion yang salah tingkah.


duh Dion, mau ngebela diri kok salah langkah sih? hahahha.


"oh jadi gitu ion? kaya si Raina ya, gak kaya sama gue juga?" sindir Vira


"pffttttt hahahhahaha" tawaku pecah, yang benar saja sangkin gugupnya mereka menjadi salah bicara.


"eh bukan, ya maksud gue sama Lo juga, arghhh gimana sih ini jelasinnya, dah ya pokoknya gitulah" kata Dion sambil garuk tengkuk nya.

__ADS_1


"aduuuhh sakit perut gue, serius ni kram gitu... apa karena kebanyakan ketawa ya, auuhhhh" kata Vira tiba-tiba.


Seketika kami langsung panik mengingat saat ini Vira sedang hamil besar .


"eh darah? astaga, Lo pendarahan" ucapku sambil melihat ke arah bawah.


Tanpa mikir panjang kami langsung ke rumah sakit untuk mengantarkan Vira. Sebelumnya kami sudah menelpon suami nya jadi otomatis saat kami sudah sampai rumah sakit suami dan anak-anaknya sudah berada disana .


Vira masuk keruangan, diikutin oleh suaminya, sementara anak-anaknya bersama kami di luar ruangan.


"aunty mami kok bisa melahirkan sekarang ya?" tanya anak pertamanya namanya Fathan


"sudah waktunya mungkin" jawab Abel asal


"padahal kata mami lahirannya akhir bulan" sahut Fathan lagi..


"bang Farthan, sini dengarin aunty... Abang sebaiknya berdoa ya untuk mami, kan mami mau lahirin baby twins." ucapku lalu Fathan ngangguk dan duduk dipojokan.


Awalnya aku bingung, tu anak kenapa duduk dipojokan eh rupanya langsung mengangkat tangan dan berdo'a. segampang itu ya nyuruh anak-anak dekat dengan Allah?.


"adek Fatiha gak mau doain mami juga?"


"mau aunty, eh tapi Fatiha bentar lagi jadi kakak Lo bukan adek lagi, jadi jangan panggil adek, okay?"


Aku terdiam dan langsung mengangguk. sementara Fatiha langsung duduk disebelah kakaknya.


Aku mendekati Abel dan duduk disebelah Abel "emang enak dinasehati anak-anak" celetuk Abel


"anak gue juga" ucap Abel


"sama , anak gue juga" sahutku yang tak mau kalah.


Sementara Dion hanya diam dan menggelengkan kepalanya, mungkin dia bingung mau bela siapa karena perdebatan ini gak harus didebati sebenarnya.


Tak lama kemudian keluarlah dokter dari ruangannya.


"gimana sahabat kami dok?"


"Alhamdulillah, ibu dan bayinya selamat, kalau mau melihatnya nanti saja ya Bu pak, tunggu dipindahi ke ruangan dulu"


"oh baik dok, terimakasih..."


"sama-sama.. saya pamit dulu"


"silahkan dok"


Fathan dan Fatiha langsung mendekat ke arah kami, mereka memaksakan diri untuk masuk tapi kami memberikan nasehat agar bersabar sebentar sampai dipindahkan ke ruangan sesuai yang dikatakan dokter tadi.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, kami masuk ke ruangan dan disana juga terlihat baby twins yang menggemaskan.


"aduuuh lucunya ponakan aunty, siapa namanya nak???" ucapku lalu kedua bayi itu langsung menangis dengan nada mereka.


"ih Gimana ni, kenapa jadi nangis ? aunty pengen gendong tapi aunty takut" ucapku jujur. karena memang dulu ayahku lah yang memegang kedua anakku saat bayi, tugasku hanya menyusui saja dulu.


"lagian Lo aneh Rai, punya anak tapi ga bisa gendong anak hahaha" ucap Abel


"Yee mau gimane lageeee" jawabku asal.


"siapa namanya Vir?" tanya Dion.


"eumm kepo ya" sahut Vira


"argh malas nanya sama loe, siapa namanya bang?" tanya Dion pada suami Vira , bernama Virza.


Bang Virza tersenyum "Fadhia Mafaza dan Fadhil Hafuza"


"masyaallah" ucap kami serempak


"ululu ternyata kak Fadhia yang deluan lahir ya nak, sehat selalu ya anak Sholehah" ucapku


"dan untuk adik Fadhil juga sehat selalu ya anak Sholeh" sahut Abel.


"emh Vira, bang Virza.. kalau begitu kami pulang dulu ya" pamit Dion


"loh cepat banget?" tanya bang Virza


"iya soalnya kasihan Angel dirumah sendiri, ayok bel, Rai .." ujar Dion


"eh tunggu dulu, gue pulang sendiri aja deh ion" ucapku karena merasa ga enak mengganggu Abel dan Dion. entahlah kenapa sekarang aku menjadi sungkan untuk ada diantara mereka.


"loh kenapa?" tanya Abel


"gu--gue.... ah masa gue jadi nyamuk sih, ga banget lah hahahhaha" ucapku yang jujur namun terkesan bercanda


"alah ga ada itu, kamu eh maksudnya loe pulang bareng gue, no debat!" ucap Dion


****


Di mobil aku hanya diam dan aku duduk di bangku belakang, kini aku merasa menjadi asing diantara mereka. Aku merasa ada yang hilang tapi entahlah aku juga gak tahu itu apa.


Sementara di bangku depan Dion dan Abel saling bertukar cerita, aku senang melihat mereka terutama Dion yang kini bisa merasakan cinta yang terbalas.


"kamu kok diam aja sih Rai?" ucap Dion tiba-tiba membuyarkan lamunanku


"ah tidak, gue cuma ngantuk aja. pengen tidur tapi takut gak kebangun kan bentar lagi sampai" ucapku jujur

__ADS_1


"tidur aja dulu Rai... eh tapi sorry ya Rai kayanya kita ngantar gue dulu pulang gapapa ya? soalnya ya kasian Tania Rai sendiri aja cuma sama bik asih" sahut Abel


"lah tapi kan rumah gue dekat lagi bel"


__ADS_2