
satu detik,
dua detik,
tiga detik,
......... sepuluh detik.
"ppffttttttt hahahhahahahahhaha" Tawa mereka pecah.
Aku melepas pelukan Abel dan langsung melirik Dion berharap menemukan jawaban disana namun yang dilirik pun sepertinya juga sama bingungnya kaya aku .
"Napa sih?" tanya Dion penasaran
"gue menang doooong" ucap Abel
"serius?" mereka mengangguk
"demi apa?" tanyaku lagi
"demi anakku, Tania . ah kalian ini" ucap Abel
"terus Tania nya mana?" tanya Dion.
Tiba-tiba ada yang menyelinap di samping Abel dan Vira kemudian....
"Baaaaaaaa!!!!! " ucap Tania .
"astaga senam jantung gue" ucapku sambil mengelus dadaku
"heheh sorry aunty" aku langsung memeluknya.
Lalu kami pergi mencari cafe untuk makan siang, sementara anak-anakku sudah aku titipkan kepada ayah dan ibuku.
"gimana rasanya bel?" tanyaku saat didalam mobil
"sekarang sih gue jadi tenang, ga ada pikiran yang terbebani lagi" ucapnya jujur.
"kalau loe ga percaya loe bisa buktiin sendiri" sambungnya lagi ngaur.
"sialan loe" sahutku.
"jangan dooong, jangan sampai terjadi" celetuk Dion.
"naah itu, tumben baik" sahutku.
"memangnya kenapa ion? kalau terjadi kan bakal ada peluang buat loe , eh keceplosan" sahut Vira
"tapi gue udah lama berhenti" sambil lirik Abel
"nanti jadi jendes akut pula si Raina" sambungnya lagi.
"kok pada jahat sama gue" ucapku
"tenang aunty, Tania di pihak aunty" sahutnya.
"uuuu tayang" ucapku.
Timbul kecurigaan untuk Dion dan Abel, kenapa dia bilang berhentinya sambil lirik Abel ya? jangan-jangan..... ah berita bagus ini.
__ADS_1
"ekhemmm" dehemku memecahkan keheningan.
"Napa Lo? iritasi?" tanya abel
"dehidrasi kaleeee" sahutku dan Vira.
"pak supir jangan lihatin Abel terus dong, lihat tu kedepan, nyawa kami ditangan bapak Lo" sindirku.
"ganggu aja sih" ketus Dion
"halalin , bukan diliatin, iya gak Rai" celetuk Vira yang membuat Abel dan Dion menahan senyumnya, tapi walau begitu tetap saja ketahuan karena melihat wajahnya memerah.
"pasti dong, widiiih ada yang pake blush on alami nih" godaku
"hussss udah udah, udah sampai ni. masih mau ngegoda apa turun?" tanya Dion sambil turun.
***
Saat makan pandanganku dan Vira tertuju pada Dion dan Tania. Terlihat jelas bahwa Tania sangat menyukai Dion.
"om mau gak Tania panggil Daddy?" tanya Tania polos.
mendengar itu, Abel refleks menjadi batuk "uhukkk uhukkkkk"
Sementara aku? ya, aku dan Vira tersenyum melihatnya apalagi saat lihat muka Dion menjadi merah .
"Tania gaboleh gitu, okay?" tegur Abel
"kenapa Bun? kan sekarang Tania ga punya ayah. eh punya sih tapi ayah bilang ayah mau keluar kota tinggal sana" ujarnya jujur.
"benar bel?" dan Abel mengangguk.
"laki-laki sama aja" ucapku tiba-tiba.
"wooyyy halooo , guys, spadaaa, gue juga lakik keleus, kesinggung nih" ucap Dion
"hahahah loe kesinggung ?" Dion mengangguk
"derita loe" sahutku lagi dan semua tertawa.
"om gak mau ya jadi Daddy nya Tania?" ucap Tania lagi dan membuat suasana menjadi hening.
"anu, itu, eumhh Tania.... om mau kok... jangan sedih ya, kalau ada apa-apa panggil aja om..." ucap Dion
"janji Daddy?" sambil menunjukkan jari kelingkingnya
"janji sayang" balas Dion
"ekhemmm Daddy Dion...." goda Vira dan diberi tatapan tajam oleh Dion.
******
Sesampai di rumah aku sedang melihat Farhan dan Ara sedang berantam, eh maksudnya berdebat. entah apa yang didebatkan kedua anakku sampai terdengar keluar.
"assalamu'alaikum" ucapku
Mereka menghentikan debatnya sebentar untuk menjawab salamku dan kemudian debat lagi.
Setelah mandi aku masih dengar mereka berdebat, astaga anak-anak ini....
__ADS_1
Lalu aku keluar untuk menyaksikan perdebatan mereka...
"memangnya what itu artinya apa sih kak?" tanya Farhan
"ya apa!" ketus Ara
"kakak mah gitu, ditanya baik-baik juga..."
"iya loh Farhan adek gue yang cakep, what itu artinya apa. arghhh kamu ni"
"loh ditanya malah nanya balik"
"serah Lo deh"
"Farhan nanya serius ini, apa artinya what kak?"
"artinya itu apa, loh dek"
"kalau bahasa Inggrisnya apa kak?"
"what"
"issssss, terus kalau bahasa Indonesianya what ?"
"ya apa!" dengan menekankan setiap kalimat.
"ih kakak gim-----" ucapnya terpotong
"STOP!!!!" teriakku.
Mereka berdua menoleh ke arahku dan berjalan mendekatiku.
"mah, kakak tu masa ga ngerti sama pertanyaannya Farhan"
"beuuuuhh Farhan sayang, coba cari di kamus deh apa artinya, males banget debat ih" Gerutu Ara .
Aku tersenyum melihat keduanya dan ku elus kepala mereka dengan lembut, aduh anak-anakku gemesin banget sih.
"Farhan, dengarin mama... apa yang dikatakan kakak mu itu benar dan itu adalah jawabannya. begini sayang, coba ambil pensil dan kertas dulu....." pintaku, farhan langsung mengambilnya sementara Ara tersenyum menandakan kemenangan.
Lalu aku menulis kalimat *what\=apa* dan aku jelaskan maksudnya, setelah itu Farhan mangut mangut menandakan mengerti.
"sekarang kamu sudah mengerti?" tanyaku
"sudah ma"
"ayo, minta maaf sama kakak" tegasku
"loh kok minta maaf? Farhan kan ga salah, Farhan cuma nanya, kakak aja yang ngegas jawabnya"
"mama ga suka di bantah ya, ayo minta maaf"
"iya iya...." sambil menjulurkan tangannya.
"kak Farhan minta maaf ya" ujarnya
Ara enggan membalas tangan adiknya namun dengan segera aku melotot ke arahnya dan akhirnya ia pun menurutinya.
"iya kakak maafin"
__ADS_1
"nah gitu baru anak-anak mama" sahutku.