
Aku tersenyum "Nama saya Raina, panggil Raina saja pak Rasyid"
"Ahm baiklah, tapi jangan panggil saya pak, panggil aja Rasyid atau ----"
"Mas Rasyid" sambungku lalu ia tersenyum .
Tiba-tiba Syifa dan Ara saling pandang dan tos tangan "yes" kata mereka dengan lantangnya.
"Ada apa?" kata ku dan Mas Rasyid barengan
"Eh" lalu mereka menutup mulut mereka sambil menggeleng. Aneh bukan?.
Author POV
Hari ini Ara dan Syifa sengaja mengajak keluarganya pergi ke Mall, mereka memang berencana untuk memperkenalkan mama Raina dengan Ayah Rasyid karena mereka ingin menjodohkan nya.
Ibunya Syifa meninggal saat ia ber umur 2 Tahun dan sampai sekarang Ayahnya belum juga mau menikah . Syifa benar-benar merindukan seorang Ibu hingga ia mengetahui kalau Ibunya Ara sekarang sudah bercerai.
Begitupun dengan Ara, walaupun papa Bram masih hidup ia juga sudah lama tak mendapatkan kasih sayang, terlebih lagi sekarang ada benteng pertahanan yang membatasinya.
"Ra, bagaimana? besok siang jadi kan?" tanya Syifa memastikan lagi
"Harus jadi dong, sesuai rencana ya.. entar kita ketemuan di depan mekdi ya?"
"Sip, ya sudah aku pulang dulu, ayah sudah jemput, bye Ara"
"Bye Syifa, salam buat ayah"
"Eh hahahah" lalu mereka tertawa bersama.
Keesokan harinya sesuai rencana mereka pergi ke Mall, ternyata Farhan juga bekerja sama dengan kakaknya hal itu lah membuat ia meminta kepada mama Raina untuk membeli ice cream di mekdi.
Saat balik arah tiba-tiba
Brukkkk
Tepat sekali! ya sasaran nya tepat karena ice cream itu mengenai baju milik lelaki paruh baya yang menjadi tujuannya.
Tak lama kemudian Mama Raina datang, sementara Ara dan Syifa sedang beralasan untuk pergi ke toilet.
Singkat cerita mama Raina meminta maaf kepada ayah Rasyid sampai Ara dan Syifa balik barengan.
"Ara"
__ADS_1
"Syifa"
Begitu lah pertemuan keduanya, terlihat saling panik padahal hanya tehnik, pintar ya mereka? ckckckc dasar othor🤪.
Author POV end.
Makanan yang di pesan pun datang, kedua anakku makan dengan lahap sedangkan aku? entah apa yang aku pikirkan sampai makanan didepanku ini hanya aku aduk-aduk sedari tadi.
"Raina?" panggil Mas Rasyid
"Eh iya mas?"
" Ada apa?"
"Tidak apa-apa mas" Aku sadar sedari tadi aku hanya diam sambil mengaduk makanan, aku pun memakannya sambil mikir kenapa jantungku berdetak lebih kencang? apa aku kena penyakit jantung?, ah amit-amit.
Selesai makan, kami pulang ke rumah, sebenarnya mas Rasyid menawarkan diri untuk mengantar kami tapi aku tak tahan dengan jantung ini yang tak karuan.
***
Hari ini adalah hari yang ditunggu kedua anakku saat mendengar kabar bahwa Ayahnya pulang dari Bali, bukan Ayahnya yang mereka tunggu tapi oleh-oleh yang dijanjikan oleh Ayahnya.
Aku mengajak Ara dan Farhan ke rumah ayahnya, bagiku sekarang prioritaskan adalah kebahagiaan anak-anakku.
"Nah itu Om Rasyid sudah datang" kataku kepada anakku.
Semenjak pertemuan kemarin aku dan Mas Rasyid semakin dekat, bahkan saat ini kami sudah bertunangan, tinggal menunggu hari H saja, jadi bagiku untuk apa mengibarkan peperangan pada ayah kandungnya mereka?.
"Assalamu'alaikum" ucap mas Rasyid di depan pintu
"Waalaikumussalam, masuk nak masuk" titah ayahku .
Aku keluar kamar "yuk mas" kataku membuat ayahku heran.
"Mau kemana?" tanya ayahku
"Mau ke rumah mas Bram pa, anak-anak ingin menagih oleh-oleh"
"Tapi nak Rasyid---" ucap ayahku menggantung karena mas Rasyid memotongnya
"Tidak apa-apa pa, yang berlalu biar lah berlalu" Dengan santainya.
Akhirnya kami pamit dan pergi ke rumah mas Bram, aku celingak-celinguk mencari anak-anak, dimana mereka?
__ADS_1
"Kenapa Rai?"
"Anak-anak mana mas?"
Mas Rasyid tersenyum "sudah di mobil, Ayuk masuk"
Aku masuk saat mas Rasyid membuka pintu mobilnya.
Ternyata perpisahan membuahkan pelajaran, hasil yang kudapat adalah bertemu dengan lelaki yang membuatku nyaman dengan tanggung jawabnya, perhatiannya melindungi diriku dari banyaknya kesakitan yang kemarin ku dapat. ~ Raina Amelia.
Mobil berlalu dengan cepat, hingga kini kami sudah berada di depan rumahnya. Aku meminta Ara dan Farhan untuk turun deluan bersama Syifa.
Sedangkan aku masih terpaku di dalam, ada rasa benci sebenarnya di satu sisi.
"Ayok turun" kata mas Rasyid sambil menggenggam tanganku
"Tapi---"
"Rai, semua akan baik-baik saja, percaya sama mas" Dengan menenangkanku.
Saat aku keluar ternyata anak-anak sudah di dalam, Kakiku terpaku namun lagi-lagi mas Rasyid menguatkan ku.
Di ambang pintu "assalamu'alaikum" ucap ku dan Mas Rasyid
"Waalaikumussalam" sahut mereka di dalam.
"Raina... a---ayo masuk" pinta mas Bram dengan terbata-bata saat melihat tangan ku digenggam oleh mas Rasyid.
Tak lama kemudian, Friska keluar dari kamarnya, aku tersenyum namun Friska hanya diam dengan wajah yang pucat. Lah bocah Napa ya?.
"Hai Friska" sapa ku.
"Hai mbak" katanya pelan lalu ia juga duduk di sebelah mas Bram.
"Ini siapa Rai?" tanya mas Bram tiba-tiba.
"Ini-----"
...... ----------------------------......
Dukung author ya, gampang banget caranya tinggal Like, koment, favorite *dan votenya🤎🤎🤎
Kak, ini menjelang episode terakhir kak, stay terus ya, love banyak banyak deh🤎🤎
__ADS_1
Salam cinta, author, ❤️*