
"tadi Farhan sedih tuh" celetuk ibuku membuyarkan lamunanku.
"eh mama, bikin kaget aja. sedih kenapa ma?" sahutku
"di sekolah katanya ada materi berwudhu kalau gak salah, terus kayanya besok harus sudah bisa sementara dia ga ngerti dengan yang dijelasin gurunya" jelas ibuku dan aku ber oh ria.
"jangan oh oh aja" ucap ayahku
"ih papa sewot banget hahahah" sahutku
"di ajarin anaknya, biar besok dia bisa , ngerti?" tegas ayahku
"siap kapten"
****
Malam harinya, terlihat anakku sedang murung di kamarnya membuatku menjadi bingung dia kenapa? seketika aku teringat dengan kata-kata ayah dan ibuku tadi, aku langsung mendekatinya.
"anak mama kenapa murung?" tanyaku pura-pura ga tahu
"mah Farhan mau belajar wudhu tapi gak mau sama papa"
"memangnya kenapa dengan papa? kan papa kamu pintar" ledekku karena melihat mas Bram berada di depan pintu kamarnya.
"papa tu galak tahu ma kalau ngajarin Farhan, entar Farhan gak ngerti papa langsung ambil nada tinggi, kaya mau nyanyi , nyebelin kan" ucapnya yang belum sadar kehadiran ayahnya.
"makanya Farhan harus ngerti biar papanya gak galak" sambil menahan tawa
"memang papanya aja itu yang galak, eumh eh tunggu mama kenapa senyum senyum? apa jangan jang------"
"jangan jangan ada papa, gitu ya? hayolooo, sudah ketahuan sekarang sama papa, ternyata anak papa takut kalau papa yang ajarin ya" ucap mas Bram dengan berjalan ke arah kami.
"papa sejak kapan disitu?" ucapnya ragu-ragu.
"sudah-sudah, jangan godain anaknya terus, tuh Farhan nya jadi takut. eumh sekarang belajarnya sama mama aja mau?"
"mauuuuuuuu" sahut Farhan. Aku langsung mengajak Farhan ke kamar mandi, tepatnya di depan keran air.
"ayo sekarang kamu baca doa wudhu dulu" pintaku
"sudah ma"
"selanjutnya ngapain, hayo?" tanyaku
"membasuh telapak tangan, iya kan ma?"
"tepat sekali, jangan lupa di sela-sela jarinya juga di basuh ya " ucapku yang terus mengamati Farhan dalam melakukan wudhunya.
"eitsss salah" sahutku lagi saat melihat ia hanya membasuh hidungnya.
"terus gimana ma?"
"airnya dihirup sampai kedalam hidung ya sayang, setelah itu dibuang bersamaan dengan membuangnya air kumur-kumur"
"tapi kan sakit ma?"
"gak apa-apa, nanti juga terbiasa. ayo nak" ucapku, lalu anakku melakukannya.
"loh loh, wajahnya kenapa cuma gitu aja basuhnya?"
"salah ya ma?"
"basuhnya sampai ke sebelah telinga ya"
__ADS_1
"siap mamaku yang cantik"
Lalu ia menyelesaikan setiap gerakannya sampai ke kaki dan ditutup oleh doa setelah berwudhu.
"pintar anak mama, kamu sudah hapal kan gerakannya?"
Farhan mengangguk "hapal dooong" . aku balas dengan pelukan.
*****
Beberapa hari kemudian,
Abel datang ke rumahku dengan wajah murungnya, tumben sekali makhluk itu datang seperti itu biasanya dialah yang paling ceria.
"minum dulu" pintaku sambil meletakkan minuman ke depan mejanya.
"terimakasih" ucapnya
"loe kenapa bel?"
"gak apa-apa, memangnya gue kenapa hehe" sambil tertawa kecil
"gak usah bohong sama gue, gagal total"
"memangnya kelihatan ya Rai?"
"banget, ayo katakan"
"sebenarnya hikssss" sambil menahan isakannya
"eh loe nangis?" lalu aku memeluknya untuk menenangkannya.
"suami gue Rai hiksss suami gue hiksss"
"ngeduain gue dengan teman kantornya hikss sakit banget Rai sakit hiks"
Aku tahu betul bagaimana rasanya. sakit? ya bahkan lebih dari itu, rasa yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata namun sangat hancur yang dirasa.
"sabar bel, loe harus kuat" Ya, hanya itu yang bisa kuucapkan.
"gue gak tahu harus gimana lagi sekarang Rai, gue lihat langsung tapi gue ga ada buktinya hikss "
"apa loe mau cerai dengan suami loe?"
"kenapa tidak?"
"loe serius? terus anak-anak loe?"
"hiksss buat apa gue pertahanan rumah tangga dengan adanya pengkhianatan?"
"Bel jangan gegabah.. gue tahu rasanya gimana, gue paham . hustttt udah, jangan nangis lagi. loe harus kuat"
"jadi menurut loe gue harus diam aja gitu?"
"ya, sampai semuanya terbukti, dan sampai hati loe benar-benar tak kuat lagi."
"hiksss"
"bel, ingat anak-anak loe. mereka gak salah dan gak mungkin menanggung akibatnya. loe masih ingat dengan cerita gue kan? gue bertahan untuk siapa? ya, semua demi anak-anak"
toktoktok
Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu rumahku, sebenarnya aku sudah tahu siapa yang datang karena akulah yang memintanya datang.
__ADS_1
"bentar ya, gue buka dulu." dan Abel langsung mengangguk.
ceklek.
"hai ion, masuk..." ya, seseorangnya adalah Dion.
"Abel kenapa?" bisik Dion
"biasalah... oh iya, loe antarin pulang ya"
"oke, aku.... eh salah maksudnya gue yang antarin pulang" (Dion sudah mulai belajar untuk mengubah panggilannya sejak aku dan mas Bram rujuk kembali)
tap tap tap (anggap suara kaki kami melangkah)
Abel melihat ke arah pintu tepatnya saat kami masuk kedalam " Dion?, ngapain loe kesini?"
"gu---gue....." ucapnya terpotong
"gue yang manggil, sorry.. gue ga bisa lihat loe pulang sendiri" sahutku
"oh, okey thanks Rai, tapi apa gak ngerepotin loe Dion?"
"tenang aja, gue akan menomorsatukan grup rempong hahahhaha" canda Dion
"eh sebelum loe pulang gimana kita makan diluar aja dulu , loe ikut aja Rai dan kita ajak Vira. gimana?"
"boleh, gimana Rai mau kan?"
"eum gimana ya, coba telpon Vira, diakan sibuk"
"oke sebentar"
Dion pergi menelpon Vira dan ternyata Vira bisa, aku pun akhirnya mengiyakan ajakan mereka.
Diperjalanan aku melihat kedua sahabat ku saling melempar canda tawa, bahagia rasanya melihat mereka seperti itu.
"Rai loe ngerasa tawanya Abel lepas banget gak sih?" bisik Vira dalam mobil.
"iya benar, dosa gak sih kalau kita jodohkan mereka?" bisikku lagi
plak
"awh!!! sakit bego" ucapku
"kenapa Rai?" tanya Dion dan melihat ke arah spion
"emh ga apa-apa. udah loe fokus aja kedepan ntar ketabrak lagi kalo liat belakang Mulu" sahutku
"bawel" celetuk Dion.
"gara-gara loe ni" ucapku sambil nyenggol tangannya Vira
"lagian loe ga ada pintarnya, udah tahu si Abel masih besuami loe mau jodohin mereka, kecuali kalo udah sah cerai baru deh" cerocos Vira dengan berbisik
... rumput tetangga memang lebih hijau tapi menyayangi dan merawat rumput sendiri akan jauh lebih indah . pintu tak akan pernah bisa terbuka jika tuan rumahnya lah yang membukanya. Ibarat hubungan, tak akan ada orang ketiga keempat dan lainnya jika pemiliknya tidak mengizinkan masuk kedalamnya ~ Raina Amelia....
... ------------------------------...
*bagaimana ni kakak reader, udah pada bosan ya dengan cerita Raina? penasaran gak dengan kisahnya Abel? kalau enggak ya author tetap mau lanjutin hehehehe peace.
Jangan lupa untuk love, favorite, like dan hadiahnya ya . dukungan kalian sangat-sangat membantu semangat author makin bertambah lagi.
Salam cinta, Author ❤️*
__ADS_1