
Tap tap tap...
Suara kaki itu membuat Farhan menoleh ke arahnya
"Angeeeeellll!!!!!" teriak Farhan ke arahnya membuat seisi ruangan pun menoleh kearah Angel yang baru datang.
"hai anak cantik, kamu sama siapa nak?" tanyaku
"sama Daddy , tantee"
"terus Daddy kamu mana sekarang?" sambil celingukan.
"ekhem, aku disini" sahut Dion tiba-tiba
"astaga , kaget gue... nah ada kalian juga duo rempong" ucapku saat melihat Vira dan Abel
"kita gak disuruh masuk ni?" celetuk Abel
"berisik loe, ganggu" ketusku.
Acara pun berjalan dengan lancar, para tamu satu persatu pun pergi meninggalkan rumah, tinggallah kami tuan rumah dan ketiga sahabatku.
"kok pada diem? sini bantuin" ucapku
"loe mah resek Rai, kita kan tamu, iya gak Vir"
"kita yang punya hajat bel, buktinya kita datang tanpa di undang, ah sudahlah! ayo kita bantu, kasian dia" jawab Vira membuat seisi ruangan cekikikan.
Setelah selesai kami langsung duduk diruangan sambil kaki di selonjorkan, padahal acaranya tidak begitu besar tapi cukup menguras tenaga juga ternyata.
"mas Bram ga datang ya Rai?" bisik Vira
"seperti yang loe lihat" jawabku.
"Rai, oh Rai... loe yakin gak ngundang suami loe?" tanya Abel sambil menepuk bahuku
"aw! sakit neng. Napa sih? aneh lu" kesalku.
Belum sempat Abel menjawab Tiba-tiba ada seseorang menyapaku, orang yang masih ada di hatiku namun tidak kuharapkan kehadirannya saat ini.
"Rai" sapa nya , aku langsung melihatnya, ya benar saja lelaki itu yang datang.
"ada apa?" tanyaku ketus
"mas boleh ketemu anak-anak kan?"
"kalau Rai bilang enggak, apa mas akan pulang?"
"enggak, mas tunggu di sini. lagian mereka kan juga anak mas, mereka pasti merindukan ayahnya."
"cih! rindu? ayah? hmm ya, ayah seperti apa yang mas bicarakan? oh ayah yang pergi tanpa memberikan nafkah untuk anaknya? ayah yang ga pernah nanya kabar anaknya tapi malah bersenang-senang dengan wanita lain? hiih, memalukan!"
"Rai, kamu salah paham, mas bisa jelasin ke kamu"
"stop! anak-anak ada di dalam, silahkan temuin!"
****
__ADS_1
Sore harinya, aku masih bercengkrama dengan grup rempongku, ah maksudku Abel dan Vira tapi kini Dion juga ikut ngumpul lagi bareng kami setelah kejadian dulu, ah iya.
Sebenarnya kami berempat awalnya berteman, tapi namanya juga anak ABG ya, bisa aja karena teman lama-lama jadi suka walaupun kaya cinta monyet gitu, ah aku jadi malu ngingatnya. Dan sejalan beriring waktu setelah kami pacaran kemudian putus Dion dengan terpaksa harus kami jauhkan dari grup rempong ini .
"akhirnya gue bisa balik ke grup rempong" kata Dion
"hanya ke grup loh ya, bukan ke hati seseorang, ekhem" sindir Abel yang langsung dapat tatapan tajam dariku
"pasti lah bel, tapi kalau orangnya mau juga gapapa" goda Dion membuat pipiku menjadi merah.
"loe kenapa Rai? kok merah? pake blush on tiba-tiba?" kata Vira
"auk ah" sahutku
"loe jangan kelihatan bete' gitu, loe harus tampak bahagia sekarang" celetuk Abel
"benar Rai, didalam masih ada suami kamu, setidaknya biarkan dia melihat kamu bahagia sekarang" sahut Dion yang membuatku menjadi mikir kalau ucapan mereka memanglah benar.
"ciyeeee, masih aku kamu" goda Abel
"sial loe tuyul! gue ngebantu loe jelasin ke Raina malah gue kena serang, ah nyesal bertubi-tubi ini mah" ucap Dion.
"gue ambilin pisau ya guys?" sahutku
"buat apa?" ucap Dion dan Abel barengan
"kalian" singkatku
"hah??" ucap mereka barengan
"maksud loe apa sih Rai? dan loe juga kenapa daritadi barengan gitu ngomongnya sama gue ion, berasa kaya FTV hahahaha" ucap Abel
"benar Vir, hmm begini loh bapak dan ibu terhormat, pisaunya untuk kalian agar lancarnya proses serang menyerang" ucapku
"sial!" ucap mereka barengan lagi.
"tuhkan, kalian cocok hahahahhaha" sahut Vira.
Tiba-tiba mas Bram pulang dan pamit kepadaku..
"Rai, mas minta waktunya. mas butuh waktumu sebentar saja untuk jelasin semuanya. tapi ya mungkin ga sekarang karena sepertinya kamu sedang sibuk dengan teman dekatmu" sambil melirik Dion
"kalau mau bicara ya bicara aja sekarang disini"
"oke tapi di sebelah sana ya? cuma kita berdua, mas mohon"
"oh kalau gitu ga bisa, sorry saya sibuk" sambil meninggalkan mereka .
****
Hari ini adalah acara pembagian rapot di sekolah anak-anak, aku bingung ke sekolah siapa dulu yang aku datangi karena memang kedua anakku berbeda sekolah.
"mama ke sekolah Farhan dulu kan?" ucap bocah itu sambil memelukku
"eum iya say-----" ucapku terpotong saat Ara juga menghampiriku
"eitss no! mama kesekolah Ara dulu, hufffh Farhan adikku sayang, mama kesekolah kakak deluan ya, soalnya kan sekolahmu jauh, mutar-mutar nanti"
__ADS_1
"eh ga bisa gitu dong, kan Farhan adiknya kakak berarti kakak ngalah dong sama adik"
"ladies first guys!"
"ah kakak mah curang"
"stoppppp!! jangan berdebat, aduh kepala mama pusing...."
"maaf mah" ucap mereka barengan
"begini saja, kita ke sekolah kakak dulu, baru ke sekolah adek gimana? nanti setelah dari sekolah adek kita beli ice cream, apa kalian berminat sayangnya mama????"
"setujuuuuuu" ucap mereka
"pinter......" sahutku.
Baru saja kami mau keluar rumah, Tiba-tiba ayah mereka sudah berada di depan rumah.
"papaaaaaa" teriak mereka sambil memeluk ayahnya.
Saat melihat itu, hatiku rasanya seperti dicabik-cabik, mereka sangat merindukan ayahnya. sementara aku bertahan dengan keegoisanku. apa sudah saatnya aku memaafkan kesalahan mas Bram dan kembali padanya demi anak-anak?
Seketika hati dan pikiranku seperti sedang perang dingin saat ini.
"mama kenapa diam aja? ayo peluk papa" ucap Farhan
"Farhan ga boleh gitu dek" tegur Ara
degggg!
Anak kecil ini sudah sedewasa ini pemikirannya, padahal belum waktunya ah semakin menjadi-jadi rasa bersalah ini pada mereka .
"mas ngapain kesini?"
"mau antarin kalian"
"kami bisa pergi sendiri"
"Rai, ayolah.. sekali ini saja, demi anak-anak"
"baiklah, tapi jangan jadikan anak-anak sebagai alasanmu mas"
"ma--maafkan mas"
"asiikkk perginya gak jadi naik angkot" celetuk Farhan
"Farhan.....!!" kata Ara sambil matanya mendelik
"maaf" sambil menundukkan kepalanya.
"sudah jangan bertengkar, ayo naik nanti kita terlambat" sahutku.
Diperjalanan hatiku senang melihat keluarga kecil ini kembali berkumpul walau hanya sebentar saja, aku melihat anak-anak begitu bahagia walaupun kami hanya menggunakan sepeda motor
"tetaplah tersenyum anak-anakku" lirihku dalam hati.
Sampailah kami disekolah Ara, aku melihat banyak wali murid yang datang berpasangan, hatiku sedikit lega karena ayahnya ikut datang bersama kami, setidaknya Ara tidak malu didepan teman-temannya.
__ADS_1
Satu persatu guru memanggil nama muridnya dan orangtua/wali murid lah yang maju kedepan untuk mengambil rapot nya.
"Farasya Aflah" Tibalah nama anakku dipanggil dan kami langsung maju menghadap guru wali kelasnya.