KAU SELINGKUH AKU BALAS

KAU SELINGKUH AKU BALAS
DIVYA KENAPA?


__ADS_3

Damian menekan tangan Divya di antara kepalanya membuat Divya tidak bisa berkutik. Divya merasa ketakutan saat itu, ia tidak mau hal buruk terjadi padanya. Damian terus menciumnya.


Tiba tiba.....


Huek...


Divya muntah tepat di wajah Damian membuat Damian tersadar akan perbuatannya.


" Maaf!" Ucap Damian bangkit dari tubuh Divya.


Damian masuk ke kamar mandi, Divya mengusap mulutnya menggunakan tisu. Perutnya kembali mual, ia membekap mulutnya lalu berlari menuju kamar tamu.


Huek... Huek...


Divya memuntahkan isi perutnya ke wastafel kamar mandi. Rasanya benar benar mual tak karuan.


Alex yang baru saja masuk langsung berlari ke asal suara saat mendengar Divya muntah. Ia masuk ke dalam kamar tamu mencari Divya.


" Divi." Gumam Alex mendekati Divya yang masih sibuk dengan kegiatan muntah nya.


Huek...


Alex berdiri di belakang Divya, ia langsung memijat tengkuk Divya dengan pelan.


" Sudah Damian, tidak perlu di pijat malah semakin mau muntah rasanya." Ucap Divya tanpa menoleh.


Entah mengapa Alex merasa kesal saat Divya menyebut nama Damian.


" Aku Alex bukan Damian." Ucap Alex membuat Divya melongo.


Divya segera membasuh mulutnya lalu ia mengeringkannya dengan tisu. Divya membalikkan badannya menatap Alex.


" Maaf Mas aku tidak tahu, aku pikir kamu Damian." Ucap Divya.


" Apa Damian ada di sini?" Selidik Alex.


" Iya." Sahut Divya.


" Untuk apa dia ke sini? Bukankah kalian sudah resmi berpisah?" Alex bertanya lagi.


" Aku juga tidak tahu Mas." Sahut Divya.


" Divi jangan berbohong, apa kau yang mengundangnya kemari? Apa dia berbuat macam macam padaku? Katakan Divi!" Selidik Alex.


" Apa kau ke sini atas undanganku?" Divya balik bertanya.


" Tidak, Mas ke sini karena ingin bertemu denganmu dan sedikit menghiburmu atas perpisahanmu dengan Damian." Sahut Alex.


" Mungkin itu yang Damian lakukan saat ini. Dia ke sini ingin menemuiku. Dan ya.. Jangan menuduhku sembarangan! Aku tidak pernah mengundang pria manapun ke rumah ini." Ucap Divya kesal.

__ADS_1


" Mas minta maaf!" Ucap Alex menangkup wajah Divya.


Divya menepis tangan Alex, ia keluar kamar di ikuti Alex dari belakang.


" Sayang kamu marah? Maafkan Mas sayang." Ucap Alex membuat Divya menghentikan langkahnya.


" Jangan panggil aku sayang lagi! Hubunganku dengan Damian sudah berakhir, begitupun dengan hubungan kita. Aku akhiri hubungan kita sampai di sini. Dan tolong! Jangan menggangguku lagi!" Ucap Divya


Alex melongo mendengar ucapan Divya.


" Tidak semudah itu Divi, aku tidak mau mengakhiri hubungan ini. Aku benar benar mencintai dan menyayangimu setulus hatiku, bagaimana kau bisa memintaku untuk tidak menggangumu lagi? Aku tidak bisa melakukannya. Aku mencintaimu, dan aku tidak akan meninggalkanmu sebelum aku mendapatkanmu. Aku bukan barang yang bisa seenaknya kau ambil dan kau buang setelah tidak di gunakan Divi. Aku tidak terima ini." Ucap Alex menggenggam tangan Divya.


" Terserah, aku pusing menghadapi kalian berdua." Ucap Divya melepaskan tangannya.


Nampak Damian menuruni tangga dengan kondisi yang segar. Mungkin ia baru saja mandi.


" Divi aku minta maaf! Bukan maksudku untuk merendahkanmu, aku hanya merindukanmu dan tidak ingin berpisah denganmu." Ucap Damian membuat Alex mengepalkan erat tangannya.


" Kalian para pria sama saja, sama sama menyebalkan. Pergilah dari sini sekarang juga! Aku muak melihat kalian berdua." Ucap Divya menaiki tangga masuk ke dalam kamar.


Damian dan Alex saling melempar tatapan tajam. Mereka merasa sedang berhadapan dengan saingan mereka masing masing.


" Untuk apa lo ke sini?" Tanya keduanya bersamaan.


" Seharusnya gue yang tanya sama lo, ngapain lo ke sini?" Ujar Damian menatap sinis.


" Status gue di sini sebagai pacarnya Divi, sedangkan lo sebagai mantan. So tidak salah jika gue bertanya sama lo." Sahut Alex.


" Akan gue pastikan jika hal itu tidak akan pernah terjadi, Divi milik gue dan selamanya akan jadi milik gue." Ucap Alex penuh penekanan.


" Itu yang coba gue kasih tahu sama lo, sekali Divi menjadi milik gue maka selamanya dia akan menjadi milik gue." Ucap Damian menuju sofa ruang tamu. Ia duduk manis di sana tanpa menghiraukan Alex.


" Percaya diri sekali lo, bukankah waktu itu Divi sudah memberi tahu lo kalau dia cinta sama gue? Gue harap lo tidak lupa akan hal itu." Ucap Alex menohok hati Damian.


Ya Damian masih ingat semua kata kata yang Divya ucapkan padanya tentang perasaannya sekarang.


" Jika Divi bisa berpaling dari gue yang notabenenya sudah dekat selama bertahun-tahun, apalagi dengan lo yang baru kenal beberapa hari saja. Gue yakin yang Divi rasakan pada lo itu hanya rasa nyaman, bukan cinta. Karena cinta Divi hanya untuk gue seorang, dari dulu dan sampai kapan pun. Jika Divi sudah merasa tidak nyaman sama lo, bisa aja di dia ninggalin lo." Sahut Damian.


Alex terkejut dengan ucapan Damian.


" Benar juga kata Damian, bagaimana jika yang Divi rasakan hanya rasa nyaman saja? Bagaimana kalau Damian terus mengejarnya dan membuatnya nyaman bersamanya kembali? Tidak tidak... Aku tidak akan membiarkan semua itu terjadi. Aku harus berusaha lebih keras sekarang. Aku tidak mau kehilangan Divi. Ya Tuhan persatukan kami bagaimanapun caranya. Aku akan mengikuti jalan takdirmu saja." Ujar Alex dalam hati.


" Sekarang mending lo pulang sana! Biar gue yang jagain Divi." Ucap Damian.


" Lo aja sono yang pulang! Gue mau jagain pacar gue di sini, takutnya nanti ada apa apa sama dia." Sahut Alex.


" Ya sudah lo jagain Divi aja berdua di sini. Gue mau ke kamarnya." Ucap Damian membuat mata Alex membola.


" Tidak bisa! Tidak ada yang boleh ke kamar Divi. Kalau mau jagain kita di sini saja." Ujar Alex.

__ADS_1


" Oke tidak masalah." Sahut Damian.


Damian berbaring di atas sofa sebrang Alex. Ia memejamkan matanya menunggu pagi. Begitupun dengan Alex, namun Alex tidak bisa tidur karena terus memikirkan Divya.


" Semoga kau jodoh yang Tuhan kirimkan untukku Divi." Ujar Alex.


Tanpa terasa Alex memejamkan matanya menuju alam mimpi.


Huek... Huek...


Alex membuka matanya, ia mengedarkan pandangan yang ternyata hari sudah pagi. Ia melihat sofa di sebrang yang sudah kosong.


" Sialan Damian mencuri start dari gue." Uajr Alex segera berlari menaiki anak tangga menuju kamar Divya.


Dan benar saja, Damian sudah stand by di sana berdiri di belakang Divya.


" Divi mending kita ke rumah sakit sekarang, aku takut kamu kenapa napa. Dari semalam kamu muntah terus sampai wajahmu pucat gini." Ujar Damian.


Divya menggelengkan kepalanya. Ia berjalan menuju ranjangnya.


" Aku bantu." Ucap Damian.


" Tidak perlu." Sahut Divya.


Divya menatap Alex yang berdiri sambil menatapnya, ia berlalu begitu saja. Tepat berada di samping Alex tiba tiba tubuh Divya terhuyung dan..


Brugh...


" Divya." Dengan sigap Alex menangkap tubuh Divya yang tidak sadarkan diri.


" Divya bangunlah!" Ucap Alex.


" Kita bawa ke rumah sakit Lex." Ucap Damian.


Tanpa membuang waktu, Alex menggendong Divya ala bridal style menuju mobilnya. Ia menurunkan Divya di jok belakang, ia memangku kepala Divya di pahanya.


" Jalankan mobilnya Damian." Titah Alex melihat Damian yang hanya berdiri di luar.


" Baiklah." Sahut Damian segera masuk ke dalam. Ia melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.


Lima belas menit kemudian mereka sampai di rumah sakit. Alex segera membawa Divya ke ruang UGD untuk mendapat penanganan dokter. Ia dan Damian pemeriksaan menunggu di luar sambil berjalan mondar mandir. Mereka merasa cemas dengan apa yang terjadi pada Divya. Keduanya sama sama berdoa untuk kebaikan Divya.


Tak lama dokter wanita yang memeriksa Divya kelaur dari ruangan. Mereka berdua segera menghampirinya.


" Bagaimana keadaan istri saya Dok?" Tanya keduanya bersamaan membuat dokter mengerutkan keningnya.


" Saya suaminya dan ini mantan suaminya." Ucap Alex seolah tahu kebingungan dokter.


" Oh, istri anda....

__ADS_1


TBC...


__ADS_2