
" Dia... " Divya menjeda ucapannya membuat Alex semakin penasaran.
" Dia apa sayang?" Tanya Alex menuntut.
" Dia tidak melakukan apapun Mas, paling cuma meluk sama nyium kening aja. Itu pun kadang kadang, kan nggak etis kalau suami istri nggak kontak fisik. Mungkin itu yang dia lakukan untuk menyakinkan aku jika memang dia suamiku." Ujar Divya membuat Alex bisa bernafas lega.
" Syukurlah kalau begitu." Sahut Alex.
" Mas bolehkah aku bertanya?" Tanya Divya.
" Tentu saja boleh sayang, jika Mas punya jawaban Mas akan menjawabnya dengan jujur." Jawab Alex.
" Tadi Mas bilang kalau aku kehilngan anak kita, apa sebelumnya aku hamil Mas?" Tanya Divya.
Alex bingung ingin menjawab apa, mau di jawab jujur takut membuat hati Divya terluka. Tapi kalau Divya tahu dia berbohong, Divya akan merasakan lebih sakit lagi. Pikir Alex.
" Apa jika Mas jawab jujur kamu tidak akan terluka sayang?" Tanya Alex sebelum menjawabnya.
" InsyaAllah tidak Mas, aku ingin mendengar kejujuran walaupun itu menyakitkan. Itu kata seseorang yang muncul dalam ingatanku." Sahut Divya.
Alex tersenyum mendengar ucapan Divya, walaupun Divya lupa ingatan namun Alex tidak pergi dari hatinya.
" Baiklah akan Mas jawab jujur." Ujar Alex.
" Sebelumnya kamu memang sedang hamil tiga bulan sayang, Damian menculikmu saat kamu pulang mengantar Mas ke Bandara." Ucap Alex.
" Kenapa Mas tidak langsung mencariku saat itu?" Tanya Divya.
Akhirnya Alex menceritakan apa yang terjadi sejak Divya di culik hingga Divya berakhir kembali di rumah ini.
" Begitulah ceritanya sayang. Terlalu banyak sakit yang kamu lalui selama ini, maafkan Mas yang tidak bisa menjagamu dengan baik." Ucap Alex.
Tidak ada sahutan dari Divya, Alex membungkuk menatap wajah Divya. Ternyata Divya sudah terlelap dalam tidurnya. Alex terkekeh melihatnya.
Alex membenarkan posisi Divya, lalu ia bernaring sambil memeluk Divya dari belakang.
Pagi hari Divya membuka matanya, hal pertama yang ia lihat adalah wajah tampan suaminya. Ia tersenyum manis menyembunyikan kebahagiaannya.
" Aku tidak mengingat siapa kamu Mas, tapi hatiku begitu mengenalimu hingga aku percaya jika kau memang suamiku yang sebenarnya." Lirih Divya meraba wajah Alex.
" Aku sangat mengenal hati, cinta dan kebaikanmu. Hatiku berasa damai berada di dekatmu, hatiku merasa nyaman saat bersamamu Mas. Aku berharap aku bisa mengingat semuanya agar aku bisa mengingat besarnya cinta kita berdua sebelumnya." Ucap Divya.
" Mas selalu mendoakan yang terbaik untukmu sayang." Ucap Alex membuat Divya terkejut. Ia segera menarik tangannya dari wajah Alex karena malu.
__ADS_1
" Kenapa menjauh sayang? Pegang sesukamu karena ini milikmu." Alex meletakkan tangan Divya ke wajahnya lagi.
" Tidak Mas itu tidak sopan, maafkan aku!" Ucap Divya.
" Mas memaafkanmu." Sahut Alex.
" Aku mandi dulu Mas." Divya turun dari ranjang lalu menuju kamar mandi.
Setelah selesai mandi, ia keluar dengan memakai bathrobe saja.
" Mas aku sudah siapkan air hangat untukmu." Ucap Divya.
" Terima kasih sayang." Ucap Alex.
Divya masuk ke ruang ganti sedangkan Alex masuk ke kamar mandi. Setelah Divya memakai bajunya, ia menyiapkan baju untuk Alex. Sampai tiba tiba...
Grep...
Alex memeluk Divya dari belakang, ia menyandarkan dagunya ke bahu Divya membuat tubuh Divya meremang. Divya memejamkan maya meresapi perasaannya. Damian pernah melakukannya tapi rasanya tidak senyaman ini.
" Mas sangat merindukanmu sayang, Ma sangat merindukan saat saat kebersamaan kita. Bahkan setiap malam Mas tidak bisa tidur karena Mas selalu memikirkanmu. Mas berpikir kalau kita tidak bisa bersatu lagi." Ucap Alex.
" Apa yang akan Mas lakukan jika kita tidak bisa bersama lagi Mas?Apa Mas akan melupakan aku?" Tanya Divya.
" Kamu segalanya bagi Mas, kamu belahan jiwa Mas, kamu bahkan nafas bagi Mas. Lalu bagaimana Mas bisa hidup tanpamu? kemarin saja Mas hampir putus asa sayang. Tapi ternyata Tuhan menunjukkan jalannMas untuk mendekat ke arahmu." Ujar Alex.
Divya membalikkan badannya, ia menatap Alex dengan intens. Alex menyusupkan tangannya ke belakang leher Divya, ia memajukan wajahnya lalu..
Cup...
Alex mengecup bibir Divya dengan lama. Sadar tidak ada penolakan, Alex mencecap bibir Divya dengan lembut. Ia menggigit bibir bawah Divya membuat Divya membuka sedikit mulutnya. Alex *****@* bibir Divya dengan lembut, ia mengekspos setiap incinya. Suara decapan memenuhi kamar mereka.
Divya memejamkan matanya menikmati sensasi dari sentuhan Alex. Ia merasa dejavu dengan ciuman ini. Ia merasa pernah melakukanya dengan seseorang.
" Ya Tuhan kepalaku sakit sekali, apa aku tidak boleh memikirkan hal ini? Ya Tuhan tolong hilangkan rasa sakit ini." Batin Divya.
Bayangan bayangan kebersamaan keduanya terlintas di pikiran Divya begitu saja. Wajah pria itu semakin ke sini semakin terlihat jelas.
Setelah keduanya kehabisan nafas, Alex melepas pagutannya. Ia mengusap lembut bibir Divya menggunakan jempolnya. Divya tersenyum bahagia, bagaimanapun ini ciuman pertama mereka setelah perpisahan. Rasanya sama seperti saat mereka melakukannya untuk yang pertama kali.
" Terima kasih sayang, rasanya masih sama seperti saat pertama Mas menciummu dulu. Mas mencintaimu sayang." Ucap Alex mencium kening Divya.
" Aku tahu." Sahut Divya.
__ADS_1
" Kalau tahu kenapa tidak membalasnya?" Tanya Alex menggoda Divya.
" Aku juga mencintaimu Mas Al, selamanya." Ucapan Divya membuat Alex terkejut.
" Sayang kamu... " Alex menggantung ucapannya.
" Aku mulai melihat dengan jelas siapa pria yang berada di dalam pikiranku itu Mas, dan orang itu adalah kamu Mas." Ucap Divya.
Alex terkejut sambil melongo membulatkan matanya dan membuka lebar mulutnya.
" Apa maksudmu sayang?" Tanya Alex memastikan.
" Aku mulai mengingat kamu Mas, ternyata tidak butuh lama aku bisa mengenalimu." Ujar Divya.
" Beneran sayang? Kamu mengingat Mas?" Tanya Alex lagi. Ia merasa senang hanya mendengar hal itu dari Divya.
" Iya Mas walaupun belum sepenuhnya, aku hanya mengingat kau lah pria yang selalu ada di dekatku. Semoga ini awal yang baik Mas untuk aku bisa mengingat kalian semua." Ujar Divya.
" Tentu sayang." Sahut Alex memeluk Divya.
" Mas ganti baju dulu." Ucap Divya.
" Kenapa?" Tanya Alex.
" Aku akan ternoda melihatmu telanjang dasa seperti ini Mas." Ujar Divya.
" Ternoda atau ternoda hmm?" Tanya Alex menggoda Divya.
" Apa sih Mas." Ucap Divya malu malu.
Tidak bisa Divya pungkiri jika memang ia tergoda dengan dada bidang yang memiliki kulit putih mulus seperti susu itu. Ingin rasanya Divya mengelusnya. Tiba tiba..
Deg...
Alex menarik tangan Divya lalu meletakannya di dadanya.
" Sentuh, raba ataupun mau di cubit Mas kasih gratis sayang karena milik Mas milik. kamu juga." Ujar Alex menatap Divya.
" Aku akan memilikinya setelah aku mengingat semuanya Mas, aku tidak mau melakukannya di saat aku belum mengingatmu sepenuhnya. Aku harap Mas mau memberikan waktu itu padaku. Walaupun aku sendiri tidak tahu sampai kapan aku membutuhkan waktu itu." Ujar Divya.
" Mas akan memberikan waktu sebanyak yang kamu mau sayang." Ucap Alex.
" Terima kasih Mas." Ucap Divya memeluk Alex begitupun sebaliknya.
__ADS_1
TBC.. . .