
Semua orang menatap Divya.
" Kata dokter aku susah untuk hamil lagi." Ucap Divya sambil menundukkan kepala menahan kesedihannya.
" Apa??" Alex nampak terkejut mendengar ucapan Divya.
" Divi kau jangan bercanda!" Ucap Gava.
" Tidak Kak, aku baru saja periksa ke dokter kandungan. Dokter bilang akibat kecelakaan yang aku alami membuat rahimku bermasalah. Rahimku terluka dan bekas luka itu membuat rahimku tidak sesubur dulu. Jadi kemungkinan untuk aku hamil hanya tiga puluh persen." Ucap Divya.
" Mas." Divya menatap Alex.
" Mas tidak akan bisa memiliki keluarga sempurna jika terus bersamaku. Kalau Mas ingin punya bayi, Mas harus menikah lagi."
Jeduarrrr....
Bagai di sambar petir di siang bolong, ini berita yang sangat mengejutkan untuk keluarga Mahardika.
" Sa... Sayang. Apa yang kau katakan ini hmm?" Alex menangkup wajah Divya.
Tak kuasa menahan air mata, akhirnya Divya menangis dalam pelukan Alex.
" Hiks... Hiks... Maafkan aku Mas! Maafkan aku yang tidak bisa memberikan kebahagiaan kepadamu. Maafkan aku!" Isak Divya mengeratkan pelukannya.
" Sayang kita sudah membahas hal ini Sebelumnya! Kenapa kau membahasnya lagi jika hanya membuatmu merasa sedih?" Ujar Alex mengelus punggung Divya.
" Kau pergi ke dokter kandungan tanpa sepengetahuan Mas, ini yang Mas tidak suka. Mas sudah melarangmu untuk memeriksakan kandunganmu kan? Lalu kenapa kau nekat pergi ke sana? Hal seperti inilah yang Mas takutkan. Kau akan sedih dan rapuh setelah tahu yang sebenarnya." Ujar Alex.
" Yang perlu kau ingat, dokter itu bukan Tuhan sayang. Selama kita percaya dengan keajaiban Tuhan, kita pasti akan mendapatkannya. Entah kapan waktunya kau pasti bisa mengandung lagi. Dan seandainya memang Tuhan tidak mempercayakan seorang keturunan kepada kita, kita harus menerimanya dengan ikhlas. Kita akan tetap hidup bersama selamanya bukannya malah meminta Mas menikah dengan wanita lain. Mas tidak akan pernah melakukannya sayang. Mas akan tetap berada di sampingmu di saat susah maupun duka." Ucap Alex membuat semuanya terharu.
" Mas mau kau berjanji satu hal untuk Mas." Ucap Alex mendorong tubuh Divya.
" Apa itu Mas?" Tanya Divya menatap Alex.
" Jangan pernah meminta Mas untuk menikah lagi. Mas tidak menyukainya. Jika kau ingin memiliki bayi, kita bisa melakukan pengobatan ke luar negeri. Kita akan melakukan pengobatan herbal ke dokter spesialis yang sudah profesional di negeri tiongkok. Apa kau mau?" Tawar Alex.
" Iya Mas aku mau." Sahut Divya.
" Kalau begitu, tersenyumlah! Yakinlah jika Tuhan tidak akan menyia-nyiakan usaha kita." Ujar Alex.
" Iya Mas, terima kasih." Sahut Divya.
" Kapan kalian akan melakukan pemberangkatan?" Tanya nyonya Vania.
" Lusa Ma, doakan semoga usaha kami berhasil." Ucap Alex.
" Doa terbaik untuk kalian berdua, yang penting Divya tidak boleh stress. Karena itu bisa menghambat proses kesuburannya." Ujar nyonya Vania.
" Iya Ma." Sahut Divya.
" Divya, aku turut prihatin dengan apa yang menimpamu saat ini. Aku doakan semoga pengobatanmu mendapatkan keberhasilan dan kamu bisa mendapat apa yang kamu inginkan. Babby lucu yang akan menjadi keponakanku." Ucap Selya menatap Divya.
__ADS_1
" Amin, terima kasih Kakak ipar." Ucap Divya.
" Sekarang makanlah yang banyak sayang! Biar adik tercintaku sehat dan cepat pulih." Ucap Gava mengambilkan makanan untuk adik tercintanya.
" Sini Kakak akan menyuapimu." Ucap Gava.
Gava mengambil sesendok makanan lalu menyodorkannya ke mulut Divya. Divya menerimanya sambil tersenyum. Ia mengunyah makanannya sambil terus menatap Gava.
" Jangan menatapku seperti itu! Kau akan membuat kakak iparmu cemburu." Ucap Gava.
" Eh enggak ya Mas, masa' aku cemburu sama adik sendiri. Tadi aja Mas ciuman sama Chel.... " Selya menjeda ucapannya saat menyadari tatapan semua orang mengarah padanya.
" Apa? Ciuman?" Pekik tuan Gavin menatap tajam ke arah Gava.
" Eh tidak tidak Pa, maaf aku salah bicara." Ucap Selya merutuki kebodohannya.
" Selya, kalau Gava salah kau tidak boleh menutupi kesalahannya. Kalau kamu tidak mau orang lain tahu kesalahannya, setidaknya kau memberikan hukuman kepadanya. Biar kapok dia, biar nggak mengulangi kesalahanya lagi." Ujar tuan Gavin.
" Iya Pa, aku pasti akan memberikan hukuman kepada Mas Gava." Sahut Selya melirik Gava.
" Kalau aku jadi kamu Kak, aku akan membalasnya dengan ciuman dengan pria lain." Ucap Divya.
" Divi." Ucap Gava menatap tajam ke arah Divya.
" Kenapa? Memang sudah seharusnya begitu kan? Makanya jadi cowok jangan murahan. Seperti Damian aja." Gerutu Divya.
" Eh jangan samakan aku dengan Damian sialan itu. Aku itu di cium bukan berciuman, jadi aku tidak salah di sini. Dia yang main nyosor gitu."
" Tapi kamu menikmatinya." Ucap nyonya Vania dan tuan Gavin bersamaan.
Selesai makan malam mereka kembali ke kamar masing masing. Divya dan Alex memutuskan untuk menginap di sini. Mereka masuk ke dalam kamarnya lalu duduk di ranjang sambil memainkan ponsel masing masing.
" Mas apa yang perlu aku persiapkan untuk keberangkatan kita besok?" Tanya Divya menatap Gava.
" Tidak perlu banyak banyak membawa barang, bawa saja baju secukupnya. Kalau kurang kita bisa beli di sana. Yang jelas siapkan mental dan kesehatan yang baik supaya kita bisa langsung melakukan pengobatan. Mas akan menelepon dokter Kwang untuk membuat janji." Ujar Alex.
" Iya Mas silahkan!" Ucap Divya.
Alex turun dari ranjangnya menuju balkon kamar. Sedangkan Divya kembali fokus pada ponselnya. Ia mempelajari bagaimana cara menjaga kesehatan kandungannya.
Di dalam kamar Gava, Selya mendekati Gava yang sedang fokus bekerja pada laptopnya.
" Mas mau aku buatkan kopi atau teh manis?" Tanya Selya.
" Tidak udah, sebentar lagi aku selesai. Kau tunggu aku di ranjang saja, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sama kamu." Sahut Gava.
" Iya Mas." Sahut Selya.
Selya naik ke atas ranjang, ia nampak sedikit berpikir apa yang akan Gava bicarakan padanya. Apa mungkin Gava akan memarahinya karena ucapannya di meja makan tadi? Pikir Selya.
Tak lama Gava menyusulnya, ia naik. ke atas ranjang sambil menatap Selya.
__ADS_1
" Ada apa Mas? Apa ada hal penting?" Tanya Selya.
" Jangan tegang gitu donk! Aku hanya ingin mengatakan kalau aku ingin.... " Gava menjeda ucapannya.
" Ingin?" Selya mengerutkan keningnya.
" Mas ingin menikah lagi begitu?" Tebak Selya menatap Gava.
" Apa sih kamu itu, kok pikirannya bisa sampai ke situ." Ujar Gava.
" Ya habisnya Mas bikin aku penasaran." Ujar Selya.
" Mas ingin.... "
Gava memajukan wajahnya, ia menyusupkan tangannya ke leher belakang Selya. Tiba tiba...
Cup...
Gava mengecup bibir Selya cukup lama. Sadar tidak ada penolakan, Gava menggigit bibir Selya membuat Selya membuka sedikit mulutnya. Kesempatan itu Gava lakukan untuk menyusupkan lidahnya ke dalam mulut Selya.
Gava mencium bibir Selya dengan lembut, ia mengekspos setiap inchinya. Suara decapan memenuhi kamar mereka. Keduanya saling menikmati manisnya bertukar saliva. Tangan Gava mulai bergerilya kemana mana. Selya hanya bisa menikmatinya sambil memejamkan matanya.
Ciuman Gava turun ke leher Selya, ia menyesap leher Selya hingga meninggalkan bercak kemerahan di sana.
" Sshhh Mas." Desis Selya membuat jiwa kelakian Gava membuncah.
" Aku ingin malam ini Sely." Bisik Gava.
" Lakukan saja Mas, aku siap." Ucap Selya.
Gava kembali mencium bibir Selya. Entah siapa yang mulai kini keduanya sama sama. polos. Malam ini Gava menjadikan Selya miliknya sepenuhnya. Suara erangan dan ******* memenuhi ruangan kamar mereka. Mereka berdua sama sama menikmati indahnya surga dunia yang boleh dilakukan oleh sepasang suami istri.
Keringat mengucur membajiri tubuh keduanya, bahkan suhu AC yang hanya beberapa derajat tidak mampu mendinginkan tubuh mereka. Gava terus memacu tubuhnya di atas Selya. Benar benar pengalaman pertama yang sangat mengesankan.
Setelah bertempur selama satu jam lamanya kini Gava membaringkan tubuhnya di samping Selya.
" Terima kasih sayang." Ucap Gava.
" Hmm." Selya hanya bisa menganggukkan kepala.
" Aku minta satu hal padamu Selya, maukah kau mengabulkannya?" Ujar Gava.
" Apa itu Mas?" Tanya Selya.
" Minumlah pil penunda kehamilan."
Jeduarrrr.....
wah wah wah... Kurang ajar nih Gava... Siapa nih yang mau jitak kepalanya?
Jangan lupa tekan like koment dan vote untuk mendukung karya author..
__ADS_1
Terima kasih...
TBC....