
Divya membuka amplop surat tersebut, ia mengambil lipatan kertas di dalamnya lalu membacanya. Jantungnya berdebar sangat kencang, setiap kata demi kata ia baca dan ia pahami.
Tiba tiba...
" Tidak!!!!!!!" Teriak Divya menutup kedua telinganya.
" Sayang kamu kenapa?" Tanya Alex panik.
" Tidak hiks.. Ini tidak mungkin, aku tidak mau menjadi penyebab kematian Damian. Aku tidak mau.. Hiks.. Mas... Damian tidak meninggal gara gara aku kan? Mas hiks.." Isak Divya memeluk Alex dengan erat.
" Sayang tenanglah! Siapa yang bilang seperti itu? Kepergian Damian itu karena takdir Tuhan sayang. Jangan pernah berpikir kau yang menjadi penyebabnya, kau tidak tahu apa apa." Alex mengelus punggung Divya.
" Mas.. Da... Damian sengaja melenyapkan dirinya sendiri karena aku Mas, di... Dia bilang dia tidak bisa hidup tanpaku Mas, di.. Dia hiks... hiks.. Aku takut." Divya terus terisak.
" Sayang Mas mohon tenanglah! Ada Mas di sini." Ucap Alex.
Alex terus memeluk Divya hingga Divya merasa lebih tenang. Divya mengusap air matanya ia melepas pelukannya lalu menatap Alex.
" Mas harus membaca ini!" Ucap Divya memberikan suratnya kepada Alex.
Alex segera membacanya.
Untuk Divya tercinta
*Aku yakin saat kau membaca surat ini aku sudah tiada. Aku minta maaf atas kesalahanku selama ini. Aku harap kau mau memaafkan aku demi ketenangan diriku. Divi semalam ini aku berusaha menerima hukuman dengan berpisah darimu, aku berusaha untuk melupakanmu dan aku berusaha menghilangkan perasaanku padamu namun pada akhirnya aku gagal.
Semakin aku mencoba semua itu membuat perasaan cintaku padamu semakin besar. Hal itu membuatku semakin tersiksa setiap harinya. Aku tidak sanggup menahan beban hidup seberat ini Divi, aku rapuh, aku lemah. Dadaku terasa sesak, aku merasa hidupku tidak ada artinya sama sekali. Bahkan aku tidak punya semangat untuk hidup lebih lama lagi. Aku tidak ada apa apanya tanpamu Divi*.
__ADS_1
Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk melupakanmu, aku menyerah pada diriku sendiri. Aku berpikir untuk pergi meninggalkan cinta sekaligus penderitaan ini selamanya. Aku ingin bebas dari beban ini sekarang. Aku akan mengakhiri semua ini dengan caraku sendiri. Agar tidak meninggalkan rasa malu untuk keluargaku, aku menempuh cara terbaik untuk mengakhiri semua ini. Aku membuat kepergianku seolah olah karena kecelakaan. Aku tidak mau meninggalkan luka pada kedua orang tuaku jika mereka tahu kalau kepergianku atas keinginanku sendiri. Aku harap kau tidak memberitahu masalah ini pada orang lain.
Sekali lagi maafkan aku! Aku minta maaf karena pernah menyianyiakanmu, mengkhianatimu dan meninggalkanmu dengan cara seperti ini. Aku membawa cinta, luka dan penderitaan bersama kepergianku. Kini tinggallah kebahagiaan untukmu. Aku sangat mencintaimu sayang...
Aku menulis ini karena aku ingin kau tahu betapa besarnya cintaku padamu, betapa berartinya dirimu untukku. Jangan sesali kepergianku. Tetaplah bahagia karena waktu tidak berhenti sampai di sini. Aku selalu berdoa semoga kau bahagia bersama anak anak dan suami barumu.
*I Love U forever Divya Mahardika...
Salam manis dari Damian*
Alex meremas kertas itu hingga tak berbentuk.
" Sekarang Mas tahu alasanku menangis, aku tidak sanggup menerima kebencian ayah dan ibu jika mereka tahu kepergian Damian karena aku Mas. Aku tidak tahu harus bagaimana, tanpa sengaja aku telah menjadi pembunuh Damian. Dia pergi karena aku Mas, aku yang bersalah akan hal ini." Ujar Divya.
" Tenanglah sayang! Jangan menyalahkan dirimu sendiri! Mas sudah bilang kalau kepergian Damian adalah takdir Tuhan. Dan jangan khawatir! Mereka tidak akan tahu kalau kita diam saja, biarkan ini menjadi rahasia kita berdua. Lagian belum tentu yang di tulis Damian sebuah kebenaran sayang. Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bisa saja Damian menulis semua itu hanya untuk mengacaukan hatimu. Atau malah bukan Damian yang menulisnya. Jadi tenanglah! Jangan berpikir macam macam! Mas tidak mau sampai kau stress karena itu akan mempengaruhi kesehatan anak kita. Kasihan dedek kalau tertekan karena kamu banyak pikiran. Kamu paham kan maksud Mas." Ujar Alex mengelus kepala Divya.
" Dan masalah surat itu, itu tulisan tangan Damian Mas. Aku sangat mengenalinya." Sambung Divya.
" Ya sudah kita tinggalkan masalah ini di sini, semuanya berakhir di sini. Kau tidak boleh membawa masalah ini ke rumah. Anggap saja kau tidak pernah menerima apapun dari Damian ataupun ibunya. Semuanya harus kita lakukan demi kebaikanmu dan anak kita sayang. Apa kau mengerti?" Tanya Alex menatap Divya.
" Iya Mas aku mengerti. Terima kasih sudah menenangkan aku dan membuatku tidak sekhawatir tadi." Ucap Divya.
" Iya sayang, sekarang kita pulang." Ujar Alex.
" Iya Mas." Sahut Alex.
Alex kembali melajukan mobilnya menuju rumahnya. Sampai di rumah Divya segera masuk ke kamarnya di ikuti Alex dari belakang.
__ADS_1
" Mas aku mau mandi dulu." Ucap Divya.
" Iya sayang." Sahut Alex naik ke atas ranjang. Ia berbaring di atas ranjang meluruskan otot ototnya.
Di dalam kamar mandi, Divya menyalakan kran. Ia duduk menekuk kedua lututnya di bawah guyuran air kran yang mengalir. Air matanya menetes begitu saja mengingat surat dari Damian.
" Hiks... Kenapa setelah kau meninggalkan luka di hatiku, kau juga meninggalkan rasa bersalah di dalam hidupku Damian? Apa kau sengaja melakukan ini padaku? Apa kau tidak rela aku hidup bahagia bersama suamiku? Andai saja dulu kau tidak mengkhianati pernikahan kita, mungkin saat ini kita masih bersama. Andai saja kau bisa menerima kenyataan jika kita tidak akan bisa bersama pasti kau tidak akan melakukan semua ini. Apakah semua ini salahku? Apakah aku salah jika aku tidak mau memaafkanmu? Apakah aku salah jika aku bahagia bersama orang lain? Katakan Damian! Sebenarnya ini kesalahan siapa? Hiks... " Divya memukul dadanya sendiri yang terasa sesak.
" Kenapa kau lakukan ini padaku Damian? Apa kau sengaja membalas rasa sakitmu dengan menyakitiku seperti ini? Ini jauh lebih sakit dari apa yang telah kau lakukan padaku selama ini. Ya Tuhan.... Aku mohon hilangkan rasa bersalahku ini pada Damian. Aku tidak mau tertekan dengan perasaan ini, aku tidak mau sampai aku stress dan tidak bisa mengendalikan diriku. Aku tidak mau terjadi sesuatu denganku dan calon anakku." Monolog Divya mengusap air matanya.
" Ya aku tidak boleh memikirkan hal ini! Yang pergi biarlah pergi, dan aku harus tetap kuat demi janin yang ada di dalam kandunganku. Aku harus kuat, aku harus tetap kuat demi dia." Ucap Divya menyemangati dirinya.
Divya segera mandi dengan benar, selesai mandi ia keluar kamar. Alex yang melihatnya segera menghampirinya.
" Sayang kenapa lama sekali mandinya? Apa terjadi sesuatu padamu?" Tanya Alex berdiri di depan Divya.
Divya mendongak menatap Alex.
" Mas aku....
Tiba tiba...
Brugh...
" Divya." Teriak Alex.
TBC....
__ADS_1