KAU SELINGKUH AKU BALAS

KAU SELINGKUH AKU BALAS
BERDUKA


__ADS_3

" Halo Bu, ada apa malam malam begini ibu telepon?" Tanya Divya.


" Divi hiks.... Divi.. " Bu Rosi menjeda ucapannya sambil terus terisak.


" Bu kenapa ibu menangis? Ada apa bu?" Tanya Divya cemas.


" Damian kecekalaan."


Jeduarrrr....


Bagai tersambar petir, tubuh Divya terasa kaku tidak bisa di gerakkan. Ia melongo membuka sedikit mulutnya mendengar berita ini.


" Mobilnya masuk jurang dan terbakar Divi, polisi menemukan jasadnya yang sudah tidak berbentuk lagi hiks.... Divi... Ibu kehilangan Damian Nak."


Plek...


Ponsel yang di pegang Divya jatuh seketika. Jantungnya berdetak sangat kencang, dadanya terasa sesak, nafasnya tercekat seolah tidak ada pasokan oksigen yang masuk sama sekali. Ia begitu syok mendengar berita buruk ini.


Melihat itu Alex mengambil ponsel Divya.


" Halo Bu." Ucap Alex.


" Nak Alex, Damian kecelakaan mobilnya terbakar dan jasadnya tidak berbentuk Nak, hiks.. Ibu hanya ingin mengabarkan itu." Ucap Bu Rosi.


" Innalillahi wainnailaihiroji'un, kami turut berduka atas semua ini Bu. Ibu yang tabah ya, besok pagi kami akan ke sana." Ucap Alex.


" Terima kasih nak Alex." Ucap Bu Rosi menutup sambungan ponselnya.


Alex menatap Divya yang nampak terbengong.


" Sayang." Alex menepuk pelan pipi Divya.


" Damian Mas... Hiks..... Tidak, ini tidak mungkin terjadi. Kata kata Damian yang akan meninggalkan aku saat pernikahan kita, mimpi buruk dua hari berturut turut, apa itu pertanda atas kejadian saat ini? Tidak tidak... Ini hanya mimpi kan Mas? Ya ini hanya mimpi. Aku memang tidak mau melihat Damian lagi, tapi bukan berarti dia tiada. Bangunkan aku dari mimpi buruk ini Mas! Bangun aku Mas! Bangunkan aku!" Ucap Divya dengan suara meninggi sambil mengguncang kedua bahu Alex.


" Sayang tenanglah! Semua yang terjadi sudah menjadi takdir Tuhan sayang. Ini bukan mimpi, ini kenyataan. Damian sudah tiada karena kecelakaan itu." Ucap Alex menangkup wajah Divya, Divya kembali melongo mendengar ucapan Alex.


Divya menatap Alex begitupun sebaliknya.


" Bolehkah aku menangisinya untuk yang terakhir kali Mas? Dadaku sesak, nafasku rasanya tercekat mendapati kenyataan ini. Bagaimanapun Damian adalah orang yang pernah mengisi hidupku selama ini. Wajarkah jika aku menangisi kepergiannya? " Tanya Divya.


" Menangislah sayang! Keluarkan sesak di dadamu agar kamu merasa lega." Ucap Alex.

__ADS_1


" Mas... Hiks.. hiks.. " Isak Divya.


Alex menarik Divya ke dalam pelukannya. Tangis Divya pecah dalam pelukan Alex. Ia tidak menyangka jika Damian akan meninggalkannya dengan cara seperti ini.


Cemburu tentu saja, melihat istrinya menangisi mantan suaminya membuat Alex cemburu. Ia merasa Divya masih menyimpan rasa untuk Damian. Tapi ia tidak boleh egois, Divya sedang berduka saat ini. Ia harus menghiburnya dan membuang jauh jauh rasa cemburu itu. Bukankah Damian lebih dulu dan lebih lama mengisi hati Divya? Alex harus sabar dan berusaha untuk menghiburnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi ini Divya dan Alex berada di pemakaman umum dekat rumah Damian. Tidak hanya mereka berdua saja tapi tuan Gavin dan nyonya Vania ada di sana. Mereka nampak sedang menguatkan bu Rosi dan pak Rudi.


" Divi, maafkan segala kesalahan Damian selama ini. Janganlah kau menyimpan sakit hati di dalam hatimu Nak! Biarkan Damian istirahat dengan tenang tanpa membawa beban kebencian di dalam hatinya." Ucap Bu Rosi sambil mengusap air matanya.


" Ibu aku sudah memaafkan Damian sejak lama, rasa benci, dendam dan sakit itu juga sudah lama hilang sejak kehadiran Mas Alex di sampingku. Aku memaafkan Damian ibu, aku berdoa semoga Damian di berikan tempat terindah di sisiNya. Ibu dan ayah juga harus tabah menghadapi cobaan ini. Mungkin ini yang terbaik untuk Damian dan kalian semua." Ucap Divya menggenggam tangan mantan ibu mertuanya.


" Terima kasih Divi, kau memang gadis yang baik. Hanya saja putra ibu yang kurang bersyukur memilikimu." Ucap bu Rosi menyentuh pipi Divya.


" Semua sudah berlalu Bu." Ucap Divya.


Selesai pemakaman Divya berjongkok di depan gundukan tanah Merah berhiaskan bunga mawar.


" Damian maafkan aku, di saat terakhir terakhirmu aku malah menyakitimu. Beristirahatlah dengan tenang! Aku pulang dulu." Ucap Divya beranjak.


Mereka semua pulang ke rumah Damian. Bu Rosi mempersilahkan mereka duduk di ruang tamu.


Divya dan Alex saling melempar pandangan. Kira kira surat apa yang Damian tuliskan untuk Divya, pikir keduanya.


" Ini sayang." Bu Rosi memberikan sebuah amplop kepada Divya.


Amplop berwarna merah muda yang di atasnya terdapat sekuntum bunga mawar merah melambangkan cinta yang mendalam. Di bagian depan amplop tertulis ' Bacalah saat kau sedang sendiri'.


" Bukalah Divi! Ibu ingin tahu apa isi dari surat itu dan kenapa Damian menulisnya untukmu." Ujar bu Rosi.


" Maaf Ibu, Damian memintaku untuk membacanya sendiri. Aku rasa Damian tidak ingin kalian semua tahu apa yang dia tulis untukku. Aku menghargai privasinya Ibu." Sahut Divya.


" Baiklah." Bu Rosi menghela nafasnya pelan.


Sebenarnya bu Rosi sangat ingin tahu apa yang putranya tuliskan kepada Divya, namun ia tidak bisa memaksa Divya. Ia cukup tahu dengan sifat kedua anaknya.


" Kalau begitu kami permisi bu besan, sekali lagi kami turut berduka cita atas kepergian Damian." Ucap nyonya Vania.


" Terima kasih bu Vania, saya ucapkan sampai bertemu lagi, hati hati." Ucap bu Rosi.

__ADS_1


Nyonya Vania, tuan Gavin, Divya dan Alex meninggalkan kediaman Damian dengan mobil yang berbeda. Di dalam perjalanan Divya nampak murung memikirkan tentang surat yang hanya boleh di baca olehnya sendiri.


" Sayang kenapa kamu murung seperti itu? Apa kamu kepikiran tentang isi surat itu?" Tanya Alex menatap Divya sekilas.


" Iya Mas, kira kira Damian ngomong apa ya Mas? Aku takut kalau Damian memberitahu alasan kepergiannya." Sahut Divya.


" Apa maksudmu sayang?" Tanya Alex.


" Entah mengapa saat melihat surat itu aku jadi berpikir jika Damian bukan tiada karena kecelakaan tapi karena kesengajaan Mas." Ucap Divya membuat Alex terkejut.


Alex menepikan mobilnya agar tidak mengganggu pengendara lain. Ia menatap Divya sambil mengerutkan keningnya.


" Maksud kamu kamu berpikir kalau Damian bunuh diri begitu?" Tanya Alex lagi.


" Iya Mas." Sahut Divya.


" Astaga sayang... Jangan berpikir negatif seperti itu donk! Ayolah Divi sayang, hilangkan pemikiran seperti itu. Mas rasa dia hanya mengungkapkan cinta dan kata maaf padamu saja. Kamu lihat kan tadi ada bunga mawar merahnya? Bunga itu tanda cinta sayang. Kalau kamu penasaran, kamu bisa membuka suratnya sekarang." Ujar Alex.


" Apa Mas Alex juga penasaran tentang isi surat ini?" Tanya Divya menatap Alex.


" Kalau penasaran iya, tapi Mas menghargai privasimu dan Damian. Mas tidak akan bertanya padamu apa isi surat itu." Sahut Alex.


Divya tersenyum mendengarnya.


" Baiklah akan aku buka." Sahut Divya.


Divya membuka amplop surat tersebut, ia mengambil lipatan kertas di dalamnyaalu membacanya. Jantungnya berdebar sangat kencang, setiap kata demi kata ia baca dan ia pahami.


Tiba tiba...


" Tidak!!!!!!!" Teriak Divya menutup kedua telinganya.


" Sayang kamu kenapa?"


Kenapa Hayo...


Lanjut next part ya...


Dukung karya author dengan takan like koment vote dan mawar yang banyak...


Terima kasih...

__ADS_1


Miss U All...


TBC...


__ADS_2