
Setelah Gava menceritakan apa yang terjadi padanya kepada kedua orang tuanya, hari ini Gava membawa kedua orang tua dan kedua adiknya ke rumah Selya. Di sana mereka di sambut dengan hangat oleh Selya, Romi dan ketua RT setempat. Tidak lupa bu Arni juga ikut nimbrung di sana.
" Silahkan duduk Om, Tante!" Ucap Selya sopan setelah mengalami mereka semua.
Mereka semua duduk di sofa ruang tamu. Selya dan Romi menyajikan makanan dan minuman seadanya.
" Saya mohon maaf kepada pak RT dan warga sini karena anak saya membuat kalian semua merasa tidak nyaman. Kedatangan saya ke sini untuk melamar sekaligus ingin membawa Selya dan Romi untuk tinggal di kediaman saya. Saya sudah mengurus acara pernikahan mereka yang akan di lakukan pada esok hari. Tak lupa saya juga mengundang pak RT untuk menjadi saksi dan memberikan doa restu kepada mereka berdua." Ucap tuan Gavin.
" Kami juga meminta maaf kepada keluarga nak Gava karena kami terkesan memaksakan pernikahan ini. Kami merasa ini hal terbaik agar mereka tidak melakukan hal yang tidak terpuji di kemudian hari. Terima kasih atas undangannya, akan saya usahakan untuk datang ke pernikahan mereka." Ucap pak RT.
" Terima kasih pak RT." Ucap tuan Gava.
Mereka lanjut dengan berbincang bincang.
" Selya, bisakah mama bicara berdua denganmu?" Nyonya Vania menatap Selya. Selya menatap Gava yang di balas anggukkan kepala olehnya.
" Iya Tante." Sahut Selya.
Selya dan nyonya Vania keluar rumah, mereka duduk di bawah pohon mangga yang ada di depan rumah Selya.
" Apa yang ingin Tante bicarakan padaku? Kalau Tante memintaku untuk menjauh dari Mas Gava, aku pasti akan menjauhinya Tante. Aku minta maaf karena aku telah menyulitkan keluarga kalian." Ucap Selya menundukkan kepalanya.
" Bukan itu Selya." Ucap nyonya Vania tersenyum. Selya mengerutkan keningnya menatap nyonya Vania.
" Mama ingin membicarakan tentang acara pernikahan kalian. Setelah Gava memberitahu kami, kami langsung menyiapkan pernikahan dengan konsep pada umumnya. Mamam meminta maaf jika nanti konsep pernikahan yang akan berlangsung tidak sesuai dengan apa yang kamu harapkan. Karena Gava memberitahu Mama secara mendadak jadi Mama tidak bisa melakukan persiapan lebih." Ujar nyonya Vania.
" Aku tidak memikirkan hal itu Tante, menikah dengan pria seperti mas Gava saja tidak pernah terpikirkan olehku. Aku merasa aku tidak pantas berada di tengah tengah kalian. Aku dan mas Gava sangat jauh berbeda, kami bagaikan langit dan bumi Tante. Aku sudah meminta mas Gava untuk memikirkan hal ini namun mas Gava bilang dia mau menerimaku apa adanya. Bagaimana dengan Tante dan yang lainnya? Apa kalian tidak menyesal membawaku bersama kalian? Aku tidak mau kehadiranku justru membuat keluarga kalian di hina oleh orang lain." Ujar Selya mengutarakan isi hatinya.
" Selya kami tidak memandang status orang lain dari segi materi. Mama tidak peduli dengan omongan orang, kalau mereka orang yang baik justru mereka akan semakin segan dengan keluarga kami karena kami memilihmu sebagai menantu kami. Tidak semua keluarga seperti keluarga kami kan? Satu hal yang harus kamu tahu, kami menerimamu dengan setulus hati kami." Ucap nyonya Vania.
" Aku mengucapkan banyak banyak terima kasih karena Tante mau menerima keadaanku seperti sekarang ini. Awalnya aku ragu Tante, tapi setelah mendengar ucapan Tante, aku menjadi yakin jika mas Gava jodoh terbaik yang Tuhan kirimkan untukku. Terima kasih Tante." Ucap Selya.
" Sama sama sayang." Sahut nyonya Vania.
Divya berjalan menghampiri mereka.
" Asyik bener lagi ngomongin apa sih Ma?" Tanya Divya duduk di samping mamanya.
__ADS_1
" Lagi perkenalan sama calon menantu Mama." Sahut nyonya Vania.
" Aku tidak menyangka kalau calon istri kak Gava masih muda sepertimu, berapa usiamu kakak ipar?" Tanya Divya menatap Selya.
" Delapan belas tahun." Sahut Selya.
" Oh baru lulus sekolah rupanya." Gumam Divya.
" Aku berdoa semoga pernikahan kalian membawa keberkahan, semoga kalian hidup bahagia selamanya." Ucap Divya.
" Terima kasih Divi." Sahut Selya.
Selesai berbincang, mereka mereka berpamitan kepada pak RT. Romi dan Selya ikut bersama mereka, saat Selya membuka pintu mobil Gava tiba tiba Anton datang menghampirinya.
" Selya." Ucap Anton.
" Iya." Sahut Selya menatap Anton.
" Selya aku ingin mengatakan sesuatu padamu, aku ingin setelah aku mengatakannya kau bisa mempertimbangkan keputusanmu ini." Ucap Anton mengenggam tangan Selya.
Deg...
Jantung Selya berdetak sangat kencang. Ia menatap ke arah bu Arni yang nampak tidak suka dengannya.
" Aku tahu kau hanya menganggapku sebagai kakak, aku juga sudah mencoba untuk menghilangkan perasaan ini tapi aku tidak bisa Selya. Aku semakin tersiksa dengan perasaan yang aku miliki untukmu." Ungkap Anton.
" Apa ini sebabnya bu Arni tidak pernah menyukaiku selama ini?" Tanya Selya.
" Iya, sebenarnya aku ingin mengungkapkan perasaanku padamu sejak lama. Tapi mama mengancam akan menyakitimu jika aku berani mengatakannya. Tapi tidak untuk kali ini Selya, aku tidak bisa memendam perasaanku lagi. Aku mohon Selya! Tolong jangan pegi! Jangan terima pernikahan ini! Menikah denganku saja, aku akan membawamu pergi dari sini. Aku mohon Selya!" Ujar Anton menciumi punggung tangan Selya.
Melihat itu hati Gava memanas.
Tiinnn..
Gava menekan klakson panjang.
" Maaf Kak aku tidak bisa, aku tidak bisa berada di dalam keluarga dimana salah satu dari mereka membenciku. Maafkan aku! Tolong jangan halangi kebahagiaanku." Ucap Selya masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
" Selya." Teriak Anton.
Gava segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah Selya dan Anton yang sedang bersedih karena merasa kehilangan.
" Apa dia kekasihmu?" Tanya Gava tanpa menoleh, ia fokus pada jalanan.
" Bukan." Sahut Selya singkat.
" Tapi kalian saling mencintai." Tebak Gava.
" Tidak." Sahut Selya.
" Lalu kenapa sepertinya kau sedih berpisah dengannya?" Gava bertanya lagi.
" Aku sedih karena tidak bisa membalas perasaannya." Sahut Selya.
" Kenapa tidak bisa?"
" Karena perasaan tidak bisa di paksakan, lagian sebentar lagi aku akan menikah. Jadi aku harus memberikan hati dan cintaku untuk suamiku nanti kan?" Ujar Selya.
" Atau Mas ingin aku menikah dengan Mas tapi aku belajar mencintai pria lain?"
" Tidak boleh." Sahut Gava cepat.
" Kamu harus berlajar mencintaiku bukan mencintai pria lain, begitupun dengan aku. Aku akan belajar mencintaimu sepenuh hatiku." Ucap Gava.
Selya tersenyum menatapnya.
" Sepertinya tidak sulit untuk mencintaiku Mas. Aku akan memberikan kenyamanan dalam hatimu dengan kesederhanaanku sehingga Mas akan bergantung padaku." Ujar Selya.
" Begitupun dengan aku, aku akan membuatmu nyaman berada di sampingmu. Aku akan membuatmu selalu memikirkan aku sehingga kamu tidak punya waktu untuk memikirkan pria lain. Kita harus sama sama mencoba." Ucap Gava.
" Aku akan mencoba dengan sepenuh hatiku Mas, semoga pernikahan kita membawa kebahagiaan untuk kita semua." Ucap Selya.
" Amin." Ucap Gava.
TBC....
__ADS_1