
Hari ini Selya di minta oleh mama mertuanya untuk mengantar makan siang ke kantor Gava. Dengan langkah pelan ia masuk ke lobby perusahaan menghampiri resepsionist yang bertugas di sana.
" Selamat siang Mbak, dimana ruangan pak Gava ya?" Tanya Selya sopan.
" Ada di lantai sepuluh Nyonya, tapi maaf sepertinya tuan Gava sedang menerima tamu. Akan saya telepon tuan Gava lebih dulu" Ujar reseptionist.
" Tidak perlu Mbak, biar nanti saya tunggu di luar saja sampai tamunya pulang, terima kasih Mbak." Ucap Selya.
" Sama sama Nyonya." Sahut recepsionist.
Selya berjalan menuju lift, ia naik lift menuju lantai sepuluh. Sampai di sana ia segera menuju ruangan Gava dan kebetulan di lantai ini hanya ada tiga ruangan jadi ia tidak kesulitan mencarinya. Ruangan Gava, ruangan asisten dan ruangan sekretaris.
Selya menuju ruangan yang tertempel tulisan Presdir Gava Mahardika pada pintu.
" Itu ruangannya." Gumam Selya mendekat.
Saat sampai di depan pintu yang sedikit terbuka, tubuh Selya termangu saat melihat seorang wanita sedang memeluk Gava saat ini.
" Aku mohon maafkan aku Va, aku memang salah karena telah meninggalkanmu dan lebih memilih karierku. Tapi sekarang aku telah menyadari kesalahanku, itu sebabnya aku kembali. Aku ingin kita bersama lagi seperti dulu. Aku ingin menikah denganmu Gava, aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu." Wanita itu memeluk Gava dengan erat.
" Dengarkan aku Chelsea." Gava mendorong tubuh wanita yang bernama Chelsea.
" Aku...
Tiba tiba...
Cup...
Chelsea mencium bibir Gava dengan sedikit kasar. Selya melongo membulatkan matanya, hatinya pedih melihat Gava yang tidak berusaha menghindar ataupun menolaknya. Ia membalikkan badannya sampai bahunya menyenggol pintu.
Brak...
Sontak Gava langsung melihat ke arah pintu.
" Sely." Gumam Gava saat melihat sosok Selya yang berjalan meninggalkan ruangannya.
Gava segera berlari keluar memastikan jika penglihatannya benar.
" Sely." Panggil Gava saat Sely hendak masuk ke dalam lift.
Selya tidak menghiraukannya, ia masuk ke dalam lift begitu saja. Melihat itu Gava langsung berlari masuk ke dalam lift sebelum pintu lift tertutup.
__ADS_1
" Sely dengarkan aku!" Ucap Gava menyentuh bahu Selya.
Sely menatap tangan Gava yang berada di pundaknya lalu menundukkan kepala. Lift berjalan turun menuju lantai bawah.
" Sely kau jangan salah paham! Aku dan Chelsea tidak ada hubungan apa apa. Aku...
" Tidak ada hubungan tapi bisa ciuman. Kau hebat Mas, kau mempermainkan perasaan dua wanita di saat yang bersamaan." Sahut Selya memotong ucapan Gava.
" Dua wanita?" Gava mengerutkan keningnya menatap Selya.
" Kau mempermainkan perasaanku karena berciuman dengannya, kau juga mempermainkan perasaannya karena kau tidak menolak ciumannya. Itu artinya kau memberikan harapan padanya. Entah siapa dia aku tidak tahu yang jelas kau telah melakukan kesalahan." Ujar Selya.
Gava mengukung Selya dengan meletakkan kedua tangannya di samping kepala Selya. Mereka berdua saling menatap satu sama lain.
" Apa kau cemburu?" Tanya Gava.
" Kalau aku ciuman dengan pria lain, apa Mas tidak akan cemburu?" Bukannya menjawab Selya malah balik bertanya.
" Aku pasti cemburu." Sahut Gava.
" Itu lah jawabanku saat ini." Ucap Selya membuat Gava terkekeh.
" Tidak mau, karena ada bekas bibir wanita lain di bibirmu itu." Sahut Selya.
" Aku akan menghilangkan jejaknya, setelah itu kau tidak boleh menolak ciumanku." Ucap Gava.
" Aku tidak janji." Sahut Selya.
" Ini makanan dari mama untuk makan siang, segera di makan sebelum dingin. Kalau perlu makan berdua dengan pacarmu itu." Selya memberikan kotak bekal makanan ke tangan Gava.
" Aku pergi dulu." Ucap Selya keluar saat pintu lift terbuka.
" Sely tunggu!" Ucap Gava mengejar Selya.
" Ada apa lagi Mas? Mas harus makan siang, ada tamu juga yang menunggu Mas di ruangan Mas. Dan aku sarankan kalau Mas mau menciumnya lagi, Mas harus makan sambal sebelumnya biar bibir pelakor itu kepanasan." Ujar Selya.
" Kalau bibir dia kepanasan, bibir aku kepanasan juga donk sayang." Ucap Gava.
" Itu hukuman buat suami yang berani mencium wanita lain di belakang istrinya." Sahut Selya meninggalkan Gava.
Gava tersenyum melihat kepergian Selya.
__ADS_1
" Sama persis seperti mama yang tidak tahu cara meluapkan amarah dengan benar." Gumam Gava.
" Oh istriku yang akan aku cintai dunia akhirat, maafkan aku karena aku menyakiti hatimu. Tunggu aku pulang, aku akan meminta maaf dengan benar kepadamu." Monolog Gava kembali ke ruangannya.
Sampai di ruangannya, Gava memutar bola matanya malas melihat Chelsea yang masih berada di sana.
" Lebih baik sekarang lo pulang!" Ucap Gava.
" Katakan dulu siapa wanita tadi! Apa dia pembantumu?" Tanya Chelsea yang mendapat pelototan dari Gava.
" Bagaimana bisa kau menyebut nyonya Gava Mahardika dengan sebutan pembantu? Mana ada pembantu yang secantik dia? Mata lo nggak di pakai buat lihat?" Sahut Gava.
" Ja... Jadi dia istrimu? Kamu sudah menikah Gava? Kapan? Kenapa aku tidak tahu hah." Ujar Chelsea.
" Tidak penting untuk memberitahu lo, mending sekarang lo keluar dari sini! Dan jangan pernah datang lagi ke sini! Jangan pernah lo muncul di hadapan gue dan kehidupan gue lagi! Gue eneg lihat wajah lo yang bermuka dua itu." Ucap Gava menusuk hati Chelsea.
" Apa kau mencintainya?" Tanya Chelsea.
" Astaga... Pertanyaan macam apa itu Chelsea? Jelas jelas aku menikahinya itu berarti aku mencintainya Chelsea. Dia gadis cantik, baik hati, pekerja keras, penurut dan tidak banyak menuntut duniawi seperti dirimu. Semua sifat yang aku inginkan ada pada dirinya. Itu sebabnya aku tidak membutuhkan orang lain lagi." Sahut Gava.
" Sekarang pergilah dari sini atau aku akan memanggil satpam untuk menyeretmu dari sini." Ancam Gava.
" Baiklah aku akan pergi, tapi usahaku untuk mendapatkanmu kembali tidak akan berhenti sampai di sini. Aku akan terus berusaha sampai aku bisa mendapatkanmu Gava." Ucap Chelsea.
" Lakukan saja jika kau bisa, aku tidak berminat untuk kembali padamu. Wanita penuh obsesi dan sangat egois yang hanya bisa mementingkan diri sendiri." Sahut Gava.
Chelsea meninggalkan ruangan Gava dengan perasaan kesal. Pria yang dulu sangat mencintainya kini tidak membutuhkan dia lagi.
" Seandainya dulu aku tidak meninggalkannya, saat ini aku pasti sudah menikah dengan Gava. Bodoh kau Chelsea, kenapa dulu lo lebih memilih karier menjadi model daripada menjadi istri Gava? Sekarang begini kan jadinya. Tidak ada lagi sandaran untuk aku bertopang hidup. Tidak... Aku harus mendapatkan Gava kembali supaya aku bisa mewujudkan impianku dan mendapatkan ketenaranku kembali." Monolog Chelsea.
Ya... Chelsea adalah mantan kekasih Gava. Gava memilih Chelsea karena ia merasa jika Chelsea wanita yang baik. Tapi ternyata dugaannya salah, hubungan mereka hanya bertahan selama satu bulan. Itu pun entah Gava mencintainya atau tidak saat berhubungan dengannya.
Di dalam ruangan Gava nampak sedang memikirkan sesuatu.
" Aku harus berbuat sesuatu untuk menyingkirkan Chelsea supaya dia tidak berani mendekati Sely. Aku tidak mau sampai Chelsea menekan Sely dan membuat Sely meninggalkan aku. Aku tidak akan membiarkan semua itu terjadi, aku tidak mau kehilangan Sely. Sepertinya aku harus pulang dan menjelaskan semuanya kepada Sely."
Gava meninggalkan ruangannya, ia berencana pulang ke rumah untuk menjelaskan kepada Sely.
" Semoga Sely mau mengerti." Gumam Gava.
TBC....
__ADS_1