
" Sayang kenapa lama sekali mandinya? Apa terjadi sesuatu padamu?" Tanya Alex berdiri di depan Divya.
Divya mendongak menatap Alex.
" Mas aku....
Tiba tiba...
Brugh...
" Divya." Teriak Alex menangkap tubuh Divya yang tidak sadarkan diri.
" Sayang bangunlah!" Ucap Alex menepuk pelan pipi Divya.
" Ya Tuhan tubuh Divi panas sekali." Ujar Alex menggendong Divya ke ranjang.
Alex merebahkan tubuh Divya dinata ranjang lalu menyelimutinya. Ia segera menelepon dokter pribadi yang biasa mengobatinya. Sambil menunggu dokter sampai, Alex mengusap usap telapak tangan Divya yang terasa dingin.
" Sayang bangunlah! Jangan membuat Mas khawatir sayang! Mas mohon." Ucap Alex menciumi tangan Divya.
Tok tok...
" Masuk." Ucap Alex.
Ceklek...
Dokter Molan masuk ke dalam menghampiri Alex.
" Bini lo kenapa bro?" Tanya dokter Molan. Mereka memang akrab layaknya seorang sahabat. Sesekali mereka yang out bareng menghabiskan waktu di suatu tempat.
" Nggak tahu gue, dia baru keluar dari kamar mandi tiba tiba pingsan. Tubuhnya juga sepertinya demam." Sahut Alex.
" Gue periksa dulu, semoga bini lo nggak apa apa." Ujar dokter Molan.
Dokter Molan memeriksa detak jantung Divya, mata dan terakhir denyut nadi Divya.
" Ini hanya demam biasa bro, sepertinya ada masalah yang menjadi beban pikiran bini lo, itu sebabnya dia pingsan. Gue akan kasih penurun demam dan vitamin untuk penguat bayinya. Istirahat yang cukup bisa cepat memulihkan bro, jangan terlalu berat berpikir takutnya dia stress dan itu berbahaya untuk janinnya." Ujar dokter Molan.
" Nanti gue coba beri dia pengertian, tapi dedek gue nggak apa apa kan bro?" Tanya Alex memastikan.
" Tidak apa apa, dia baik baik saja." Sahut dokter Molan.
" alhamdulillah." Ucap Alex.
" Kalau di lihat lihat istri lo kelihatan masih muda." Ujar dokter Molan menatap wajah Divya.
" Hmm usia kami terpaut lima tahun lebih, tapi tidak terlalu mencolokkan? Kami terlihat seumuran karena ketampanan gue." Ujar Alex.
" Narsis lo." Cibir dokter Molan.
__ADS_1
" Harus." Sahut Alex.
" Ini vitamin sama obat yang harus bini lo minum." Ucap dokter Molan memberikan dia strip obat kepada Alex.
" Oke thanks." Ucap Alex.
" Ya sudah gue pergi dulu, nanti malam gue mau adain pesta di club lo. Kalau bisa lo datang ya." Ucap dokter Molan.
" Sorry gue nggak bisa bro, lo kan tahu bini gue lagi sakit. Lain kali aja lah kita yang out bareng." Ucap Alex.
" Oke." Sahut dokter Molan meninggalkan kamar Alex.
Alex naik ke atas ranjang, ia berbaring duduk bersandar di samping Divya lalu memijat pelan kepala Divya.
" Engh." Lenguh Divya memegangi kepalanya.
" Sayang kamu sudah sadar, terima kasih Tuhan." Ucap Alex lega.
" Mas aku kenapa?" Tanya Divya.
" Kamu tadi pingsan sayang, Mas ambil makanan dulu ya buat kamu terus kamu minum obat biar sakit kepalamu sembuh." Ucap Alex turun dari ranjang.
Alex turun ke bawah menyiapkan makanan untuk Divya, ia juga membawa segelas teh hangat untuk Divya meminum obatnya. Alex membawanya ke kamar, ia duduk serong di samping ranjang menghadap Divya yang duduk bersandar pada head board.
" Makan dulu sayang, Mas suapi." Ujar Alex menyiapkan sesendok makanan ke mulut Divya.
Divya tidak menolak karena ia memang lapar dan ingin cepat cepat minum obat biar sembuh.
" Aku tidak mau kemana mana Mas, aku ingin di rumah saja." Sahut Divya membuat Alex menghela nafasnya pelan.
" Bagaimana kalau kita menginap di rumah Mama untuk beberapa hari? Atau mungkin beberapa bulan. Di sana pasti mama dan bang Gava akan menghiburmu, mereka pasti senang bermain denganmu. Seiring berjalannya waktu kamu pasti akan lupa dengan kesedihan ini." Ujar Alex memberi saran.
Divya nampak sedang berpikir.
" Boleh juga Mas, lagian aku kangen tinggal di rumah mama. Aku akan menggunakan anak kita untuk merepotkan mereka." Ucap Divya mengelus perutnya sambil nyengir kuda.
" Hmm nakal ya istri Mas satu ini." Ucap Alex mencubit pelan hidung Divya.
" Kapan lagi aku punya kesempatan emas seperti ini Mas, biarkan aku bersenang senang di sana." Ujar Divya.
" Itu pasti sayang." Sahut Alex sambil tersenyum.
" Baiklah setelah minum obat kau harus istirahat, kita akan ke sana nanti malam." Ujar Alex terus menyuapi Divya.
" Iya Mas." Sahut Divya.
Setelah menghabiskan sepiring makanannya, Divya segera meminum obatnya.
" Sekarang istirahatlah! Mas ke bawah dulu." Ucap Alex.
__ADS_1
Divya mencekal tangan Alex.
" Mas di sini saja, aku tidak mau sendirian. Aku takut Mas." Ucap Divya.
" Baiklah Mas di sini menemanimu, Mas tidak akan meninggalkanmu. Sekarang tidurlah! Mas akan memelukmu." Ucap Alex.
Alex naik ke atas ranjang lalu berbaring di samping Divya. Ia memeluk Divya membuat Divya menenggelamkan wajahnya ke dada bidang Alex. Alex mengelus kepala Divya dengan lembut hingga Divya tertidur pulas.
" Mas tidak akan membiarkan kamu terus bersedih sayang, Mas tidak rela kamu hidup dalam rasa bersalah karena hal yang tidak pernah kamu lakukan. Aku yakin Damian sengaja melakukan ini untuk membuat hidupmu tidak tenang." Monolog Alex mengepalkan erat tangannya.
...****************...
Malam ini Alex membawa Divya ke rumah keluarga Mahardika. Mereka di sambut hangat oleh kedua orang tua Divya dan Gava.
" Adikku sayang, bagaimana kabarmu dan keponakan Kakak?" Tanya Gava merangkul pundak Divya.
" Sedikit buruk Kak." Sahut Divya membuat Gava terkejut. Lebih tepatnya pura pura terkejut.
Ya tadi siang Alex menelepon tuan Gavin dan Gava. Ia menceritakan apa yang di alami Divya karena isi surat yang Damian tuliskan padanya. Ia tidak mau menyembunyikan sesuatu dari keluarga Divya, apalagi sesuatu yang bersifat penting seperti ini. Bukan karena ia takut di salahkan atau sejenisnya namun Alex melakukannya karena ia ingin meminta bantuan kepada keluarga Mahardika untuk menghibur Divya agar Divya melupakan masalah ini.
" Tidak masalah, Kakak akan menghiburmu dan membuat hidupmu baik baik saja." Ujar Gava.
" Kalian belum makan malam kan? Ayo kita makan malam bersama! Bibi sedang membereskan kamar kalian." Ucap nyonya Vania.
" Iya Ma." Sahut Divya.
Mereka semua menuju meja makan untuk makan malam. Divya nampak murung namun sebisa mungkin keluarganya dan Alex menghiburnya dengan mengajaknya bercanda.
" Divi kenapa Kakak lihat kamu sedikit kurusan, apa Alex tidak memberimu makan? Katanya dia bos beberapa restoran lalu kenapa istrinya tidak di kasih makan?" Tnaya Gava menatap Divya.
" Bukan gitu Kak, yang namanya wanita hamil muda kan malas makan Kak. Bawaannya muntah terus, jadi wajarlah kalau aku kurusan. Mas Al menjagaku dengan baik kok." Sahut Divya.
" Oh kirain Kakak begitu, terus kalau ibu hamil muda juga tidak bisa senyum ya? Dari tadi Kakak belum melihatmu tersenyum. Apalagi ketawa sepertinya nggak akan ada." Ujar Gava.
" Kakak melucu dulu baru aku ketawa." Ujar Divya.
" Baiklah Kakak akan menjadi badut yang lucu yang akan membuat kamu tertawa." Ucap Gava.
Gava segera meninggalkan meja makan. Entah kemana ia pergi, sekitar lima menit ia kembali ke meja makan.
" Tara... "
Semua orang menoleh ke arah Gava. Tiba tiba...
Ha ha ha ha
Suara tawa Divya pecah saat melihat wajah Gava yang mirip badut. Lipstik yang melumer kemana mana, wajahnya yang putih seputih tembok dan matanya yang merah menyeramkan. Gava sudah persis seperti badut. Yang tak kalah lucu pakaian yang Gava kenakan saat ini, rok mini di atas lutut dan tanktop seksi membuat tubuhnya tereskpos.
Melihat tawa Divya, Alex dan kedua mertuanya tersenyum bahagia. Mereka menyadari jika suport keluarga sangat di butuhkan di saat saat seperti ini.
__ADS_1
TBC.....