
Nyonya Vania mengelus perut putrinya dengan lembut.
" Mama sangat bahagia sayang, akhirnya Mama akan menjadi Oma sebentar lagi. Mama selalu berdoa semoga kamu dan bayimu sehat, selamat dan lancar saat persalinan nanti. Semoga tidak ada hal yang tidak di inginkan menghalangi proses persalinanmu sayang." Ucap nyonya Vania.
" Amin." Sahut Selya dan Divya bersamaan.
" Selamat Divi, semoga kalian berdua selalu sehat dan selalu dalam lindunganNya." Ucap Selya.
" Amin... Terima kasih Kakak ipar." Ucap Divi.
" Panggil Selya aja atau Sely, serasa lebih tua dari kamu kalau di panggil begitu. Aku bukan ingin menjadi kakak iparmu tapi aku ingin menjadi temanmu." Ujar Selya.
" Baiklah Sely, mulai sekarang kita teman." Ucap Divya.
" Begitu lebih bagus." Sahut Selya.
" Tapi kalau di depan kak Gava aku tetap harus memanggilku kakak, bisa bisa kena omel nanti aku karena tidak menghormatimu." Ujar Divya.
" Iya deh nggak apa apa." Sahut Sely.
Mereka berbincang bincang mengenai hal hal seputar kehamilan. Sampai ponsel Selya berdering tanda pesan masuk. Ia mengambil ponsel di tasnya lalu membuka pesan berupa foto dari nomer yang tidak di kenal.
Deg...
Jantung Selya terasa berhenti berdetak saat melihat gambar Gava sedang menggendong seorang wanita masuk ke sebuah kamar apartemen.
" Apalagi ini? Kenapa masih ada orang yang ingin membuat hubungan kami retak? Apa dia berpikir kalau aku bakal percaya dengan semua ini? Aku lebih percaya pada suamiku ketimbang dengan foto ini. Aku tidak boleh terbawa emosi. Aku harus menanyakan kebenarannya kepada mas Gava dulu." Ujar Selya dalam hati.
" Selya kamu kenapa?" Tanya nyonya Vania menatap Selya.
" Tidak apa apa Ma, aku hanya sedang membaca pesan dari temanku saja." Sahut Selya.
" Oh kirain kamu ada masalah." Ujar nyonya Vania.
" Ma aku keluar sebentar ya, aku mau menelepon mas Gava buat ngajakin makan siang bersama." Ucap Selya.
" Baiklah sayang silahkan." Sahut nyonya Vania.
Selya keluar dari kamar Divya, ia segera menelepon Gava sambil menuruni anak tangga.
Tut... Tut... Tut...
Telepon tersambung, namun Gava tidak mengangkatnya.
" Kenapa tidak di angkat Mas? Jangan membuatku curiga atas sikapmu ini." Monolog Selya.
Selya duduk di sofa ruang tamu, ia kembali menelepon Gava namun masih sama, Gava tidak mengangkatnya.
Selya membuka kiriman foto tadi, ia tahu alamat apartemen itu. Ia segera menuju ke sana menggunakan taksi. Dua puluh menit kemudian ia sampai di sebuah apartemen mewah di tengah kota. Ia mengamati foto yang ada di ponselnya.
" Kamar nomer dua kosong dua." Gumam Selya.
Selya segera masuk ke dalam, ia berjalan menghampiri petugas keamanan yang ada.
__ADS_1
" Maaf Pak saya mau bertanya, dimana kamar nomer dua kosong dua ya pak?" Tanya Selya menatap security.
" Ada apa ya Nona? Kenapa anda ingin ke sana? Di apartemen ini tidak sembarangan orang bisa masuk ke dalam Nona." Ucap security.
" Suami saya sedang mabuk di dalam bersama temannya Pak, dia meminta saya untuk menjemputnya." Ujar Selya.
" Oh baiklah Nona, kamarnya ada di lantai tiga." Sahut security.
" Baik Pak terima kasih." Ucap Selya.
Selya menggunakan lift untuk sampai di lantai tiga. Saat ia keluar dari lift ia terkejut karena telah mendapati Anton di sana.
" Mas Anton? Ngapain kamu ada di sini?" Tanya Selya sambil mengerutkan keningnya.
" Aku tadi sengaja mengikuti suamimu. Aku tadi yang mengirim foto itu padamu saat aku melihat suamimu menggendong teman wanitanya. Suamimu ada di dalam bersama wanita itu. Entah siapa dia dan apa yang mereka lakukan di dalam sana." Ujar Anton.
Selya nampak diam saja, ia sedikit terusik dengan kata kata Anton.
" Selya." Panggil Anton.
" Ya Mas." Sahut Selya.
" Kalau seandainya suamimu terbukti mengkhianatimu, kau harus berpisah darinya Selya. Aku tidak mau sampai kamu di sakiti olehnya. Berjanjilah padaku Selya." Ucap Anton menggenggam tangan Selya.
" Maaf Mas aku tidak bisa." Ucap Selya menarik tangannya.
" Bagaimanapun dia suamiku, apapun yang dia lakukan itu haknya. Jika memang dia melakukan kesalahan aku akan memaafkannya. Aku anggap semua ini ujian dari Tuhan dimana aku bisa menjalaninya atau tidak. Setiap pernikahan pasti akan ada masalah dan cobaan yang datang, kita harus menyikapinya dengan cara dewasa. Kalau hanya karena satu kesalahan terus kita berpisah, lalu mau sampai kapan kita kawin cerai seperti itu Mas? Aku akan mentolerir kesalahan yang suamiku lakukan jika itu hanya sekali ataupun dua kali. Bukanlah setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua? Jika berkali kali itu beda lagi ceritanya." Ujar Selya.
Entah karena bodoh atau karena terlalu sabar hingga membuat Selya bisa berpikir seperti itu.
" Aku tahu itu Mas." Sahut Selya tersenyum.
" Bagaimana kamu bisa setenang ini sedangkan suamimu di dalam sedang bersama wanita lain Selya." Batin Anton.
Entah kebetulan atau apa tiba tiba mata Selya menangkap pintu nomer dua kosong dua yang tidak tertutup rapat.
" Rupanya pintunya tidak tertutup rapat Mas." Ucap Selya menunjuk pintu.
" Iya, kenapa aku tidak tahu dari tadi berdiri di sini ya." Ujar Anton.
" Ayo kita masuk." Ucap Selya.
Selya dan Anton membuka pintunya dengan perlahan. Selya mengedarkan pandangannya mengenai seluruh penjuru ruangan.
" Kemana mereka?" Tanya Selya.
" Mungkin ada di kamar Sel." Ujar Anton.
Dengan langkah pelan Selya berjalan menuju pintu yang ia yakini sebagai kamar.
Ceklek...
Ia membuka pintunya dengan pelan. Dadanya bergemuruh saat melihat seorang wanita yang duduk di atas ranjang sambil memegangi dadanya. Sepertinya ia sedang sesak nafas dan membutuhkan pertolongan.
__ADS_1
" Gava tolong aku! Dadaku sesak sekali, tolong bantu buka bajuku." Ucapnya.
Dengan ragu Gava membungkuk di depan wanita itu. Melihat itu Selya langsung masuk ke dalam.
" Biar aku saja Mas." Ucap Selya membuat Gava sangat terkejut.
Selya menarik baju wanita itu sampai...
Sreeeekkkk....
Baju bagian depan wanita itu sobek, Gava segera memalingkan mukanya.
" Tidak perlu lama lama membuang waktu untuk membukanya kan?" Tanya Selya menatap wanita itu.
" Aku pikir kamu akan menggunakan cara lain untuk menjebak suamiku, tapi ternyata kau bukan aktor senior." Ucap Selya tersenyum sinis.
Wanita itu mengepalkan erat tangannya.
" Hei kemana sesak nafasmu barusan? Apa penyakit kulit itu langsung sembuh saat aku merobek bajumu tadi?" Tanya Selya tersenyum smirk.
" Wah sungguh ajaib.... Kau bisa sembuh hanya karena itu, aku patut di acungi jempol kan karena berhasil menyelamatkanmu dari maut. Lain kali pakai baju yang lebih longgar! Sudah tahu suka sesak nafas masih saja pakai baju yang ketat." Ujar Selya.
" Mas mau pulang atau masih mau di sini menemani dia?"
" Siapa tahu setelah aku pergi dia sesak nafas lagi." Ucap Selya menatap Gava.
" Mas pulang!" Sahut Gava cepat. Ia tidak mau sampai Selya salah paham dan marah padanya.
" Oh ya Nona, kalau kau butuh bantuan setelah ini, ada dua satpam di bawah yang bisa kau panggil kemari." Ucap Selya.
Selya segera berlalu dari sana di ikuti Gava dari belakang, begitupun dengan Anton. Mereka menaiki lift menuju lantai bawah. Di dalam lift Gava nampak sedang berpikir bagaimana Selya bisa sampai di sini? Bersama Anton lagi.
" Sayang kenapa kamu sama Anton bisa sampai sini?" Tanya Gava memberanikan diri.
" Karena hati seorang istri akan tahu apa yang telah di lakukan oleh suaminya di luar rumah." Sahut Selya.
" Sayang aku harap kamu tidak salah paham akan hal ini." Ujar Gava.
" Aku memang tidak salah paham Mas karena semua terbukti jelas di depan mataku." Sahut Selya.
Selya menatap Gava dengan tajam.
" Terbukti jika Mas selingkuh di belakangku."
Jeduarrr...
Selya segera kelaur dari lift begitu pintu lift terbuka.
" Sayang tunggu!" Ucap Gava mengejarnya.
Selya malah berlari keluar meninggalkan apartemen itu. Gava menjadi semakin panik, ia segera berlari mengejar Selya namun terlambat. Selya sudah menaiki taksi bersama Anton.
" Arghh sial!!"
__ADS_1
Kasih sedikit konflik sebelum tamat ya...
TBC....