KAU SELINGKUH AKU BALAS

KAU SELINGKUH AKU BALAS
PRIA ASING BIKIN PUSING


__ADS_3

Satu bulan berlalu, hari ini Divya sedang jalan jalan di sebuah mall bersama nyonya Vania dan Sandia. Divya nampak sudah bisa menata diri, ia terus tersenyum bahagia bersama ibu dan tantenya. Saat melewati stand baju, ia menghentikan langkahnya.


" Ada apa Divi?" Tanya nyonya Sandia.


" Aunti coba lihat jaket itu! Itu terlihat sangat cantik. Aku ingin membelinya." Ujar Divya menunjuk jaket kecil berbulu dan berbentuk beruang lengkap dengan sepatunya yang terpajang di sebuah stand baju.


" Iya cantik, tapi kan kita belum tahu anak kamu laki laki apa perempuan, nanti kalau anak kamu laki laki gimana?" Ujar nyonya Sandia.


" Kita ambil warna netral aja, seperti hitam atau biru. Jadi nanti bisa di pakai walaupun anak kamu laki laki." Ujar nyonya Vania.


" Ah iya kau benar Kak, ayo kita beli!" Nyonya Sandia menggandeng Divya masuk ke dalam.


Divya membeli dua jaket itu, setelah itu mereka menuju restoran yang ada di dalam mall tersebut. Sebelum sampai di restoran, tiba tiba Divya mulas ingin buang air kecil.


" Aunti, Mama, aku ke toilet dulu ya." Pamit Divya.


" Iya sayang hati hati, kami ke resto dulu ya sekalian pesan nanti kamu menyusul ke sana." Ucap nyonya Vania.


" Oke Ma." Sahut Divya.


Divya berbelok menuju toilet untuk menuntaskan hajatnya. Setelah selesai ia segera keluar dari sana, namun karena tidak hati hati Divya tidak sengaja menabrak seseorang.


Brugh....


" Awh." Divya mengelus jidatnya yang menabrak dada bidang seseorang. Ia mendongak menatap pria yang saat ini berdiri di depannya.


" Maaf aku tidak sengaja." Ucap Divya mundur selangkah menjauh dari pria asing itu.


" Tidak masalah, lagian kamu yang sakit kan. Jadi aku yang seharusnya minta maaf padamu." Ucapnya.


" Oh ya kenalkan." Pria itu mengulurkan tangannya.


Divya membalas uluran tangannya.


" Damian."


Deg...


Divya langsung menarik kembali tangannya, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari sebelumnya. Ia menatap pria yang bernama Damian itu dengan raut wajah pucat pasi.


" Kamu kenapa? Kenapa wajahmu nampak pucat seperti itu? Apa aku membuatmu takut?" Tanya Damian menatap Divya sambil mengerutkan keningnya.


" Ya.. Namamu mengingatkanku pada seseorang yang sudah tiada." Sahut Divya.


" Namaku." Gumam Damian.


" Tapi bagaimana dengan wajahku? Apa wajahku juga mirip dengan orang itu?" Tanya Damian.

__ADS_1


Divya menatap Damian dengan seksama.


" Tidak, meskipun nama kalian sama tapi wajah kalian berbeda karena memang kalian orang yang berbeda." Ucap Divya.


" Bagaimana kalau ternyata kami orang yang sama?"


Pertanyaan Damian membuat Divya terkejut. Ia menatap Damian sambil melongo.


" Ah tidak tidak... Jangan terkejut seperti itu! Aku hanya bercanda saja. Maafkan aku!"Ucap Damian tersenyum.


" Tidak masalah." Sahut Divya.


" Sepertinya Damianmu adalah orang yang berarti dalam hidupmu, kalau tidak... Tidak mungkin kan ekspresi wajahmu seperti itu. Apa tebakanku benar?" Tanya Damian menatap Divya.


" Tidak juga, dia hanya masa laluku saja. Kalau begitu aku permisis." Ucap Divya melangkahkan kakinya.


" Tunggu Divi!"


Deg


Jantung Divya terasa berhenti berdetak. Bagaimana Damian bisa tahu namanya? Divya membalikkan badannya.


" Bagaimana kau bisa tahu namaku?" Tanya Divya menatap Damian dengan tatapan menyelidik.


" Menurutmu darimana aku bisa tahu namamu? Apa kau tidak berpikir kalau aku ada hubungannya dengan Damian masa lalumu itu?" Damian tersenyum menatap Divya.


" Sebenarnya siapa kau? Dan apa maksud ucapanmu? Atau kau mempunyai tujuan lain dengan mengatakan hal itu padaku? Atau kau mencoba mengguncangku dengan berbicara seperti itu? Jika itu tujuanmu, akan aku pastikan tujuanmu tidak akan pernah tercapai. Aku bukan wanita lemah, aku wanita kuat, aku bahkan bisa melenyapkan seseorang hanya karena sikap kerasku. Jadi berhati hatilah jika berhadapan denganku! Atau kau akan menyesal karena pernah bertemu denganku." Ucap Divya penuh penekanan.


Divya menghela nafasnya pelan. Entah mengapa ia merasa lega mendengar ucapan Damian.


" Tapi setelah mengenalmu aku jadi punya satu tujuan." Ucap Damian kembali membuat Divya terkejut. Entah mengapa berhadapan dengan Damian membuat mood boosternya naik turun tak menentu.


" Apa tujuanmu sekarang?" Tanya Divya mencoba bersikap baik baik saja.


" Mendapatkanmu." Ucap Damian.


Divya melongo membulatkan matanya dan membuka sedikit mulutnya.


" Apa kau gila? Dan apa kau tidak melihat perutku yang buncit ini?" Tanya Divya menunjuk perutnya yang mulai terlihat buncit.


Ya walaupun usia kandungannya baru memasuki bulan ke empat namun perut Divya sudah terlihat membuncit.


" Kau pasti juga tahu kalau tadi aku membeli jaket untuk babby kecil, itu artinya aku sudah berkeluarga. Apa kau berniat jadi pebinor dengan merebutku dari suamiku?" Ujar Divya tak percaya.


" Kalau bisa kenapa tidak? Aku rasa itu tidak buruk. Justru aku senang, karena dengan mendapatkanmu aku langsung bisa dapat bonus. Aku akan meyanyangi anakmu seperti anakku sendiri." Ujar Damian.


" Benar benar tidak waras." Gumam Divya memutar bola matanya malas.

__ADS_1


" Dengar ya Damian! Aku sarankan setelah ini kau pergilah ke rumah sakit, periksakan kejiwaanmu itu! Apakah masih normal apa sudah up normal. Jangan sampai kau terlambat mengetahui jika mentalmu sakit." Cibir Divya kesal.


" Tidak perlu ke rumah sakit aku sudah tahu jawabannya." Sahut Damian.


Divya mengerutkan keningnya.


" Mentalku memang terganggu karena aku gila. Aku tergila gila padamu wahai istri orang yang cantik jelita. Dan mulai sekarang berhati hatilah karena aku akan mengganggumu. Mulai sekarang aku akan mengejar cintamu, aku akan...


" Dasar sinting!" Cebik Divya segera berlalu dari sana.


Damian tersenyum menatap kepergian Divya.


" Aku pasti akan mendapatkanmu sayang, apapun yang terjadi kau harus bertanggung jawab karena telah mencuri hatiku. Kita berdua akan hidup bahagia selamanya." Monolog Damian tersenyum smirk.


Divya masuk ke restoran menghampiri mama dan tantenya. Ia duduk dengan kesal di depan nyonya Sandia.


" Kamu kenapa sayang?" Tanya nyonya Vania menatap Divya.


" Tidak apa apa Ma, aku hanya kesal saja." Sahut Divya.


" Iya kesal kenapa sayang? Bisa di ceritakan kepada kami?" Tanya nyonya Sandia.


" Tadi aku bertemu dengan....


Divya menjeda ucapannya saat melihat Damian duduk di meja sebelahnya, posisi mereka saling berhadapan. Damian tersenyum manis ke arah Divya, sedangkan Divya memutar bola matanya malas.


" Kenapa sayang?" Tanya nyonya Vania.


" Tadi aku ketemu sama orang gila Ma."


" Apa??" Pekik nyonya Vania dan nyonya Sandia bersamaan.


" Kamu tidak apa apa? Kamu tidak di sakiti olehnya kan? Terus kemana orang gila itu? Bagaimana ada orang gila bisa masuk ke mall ini sayang? Sepertinya kita harus lapor pada pihak keamanan." Ucap nyonya Sandia.


" Tidak perlu Aunti, orang gilanya juga udah pergi kok." Sahut Divya melirik Damian.


" Oh syukurlah kalau begitu. Lain kali kamu harus hati hati sayang." Ucap nyonya Sandia.


" Iya Aunti." Sahut Divya.


" Kalau begitu sekarang makanlah! Kamu pasti sudah lapar karena kelamaan berhadapan dengan orang gila itu." Ujar nyonya Vania.


" Iya Ma." Sahut Divya.


Divya mulai mrmakan makanannya, udang pedas dan gurameh bakar pesanannya.


Damian terus menatap Divya hingga membuat Divya tidak nyaman.

__ADS_1


" Aku pasti akan mendapatkanmu Divi." Batin Damian.


TBC...


__ADS_2