
Malam hari Alex baru saja pulang dari salah satu restonya, ia masuk ke kamar Divya. Ya, mereka masih tinggal di rumah keluarga Mahardika. Saat ia menutup pintu tiba tiba...
Grep....
Divya memeluk erat Alex dari belakang.
" Sayang kamu kenapa?" Tanya Alex menggenggam tangan Divya di dadanya. Divya menempelkan pipinya ke punggung Alex.
Satu detik... Dua detik... hingga detik ke dua puluh Divya masih dalam posisi yang sama. Alex membalikkan badannya, ia menangkup wajah Divya dengan kedua tangannya. Ia yakin jika istri tercintanya sedang tidak baik baik saja.
" Katakan ada apa sayang hmm? Apa kau sedang dalam masalah?" Tanya Alex menatap Divya. Divya menggelengkan kepalanya.
" Lalu?" Alex bertanya lagi. Divya kembali menggelengkan kepalanya.
" Baiklah Mas tidak akan memaksamu untuk mengatakan apa yang terjadi, Mas akan menunggu kamu sendiri yang mengatakannya pada Mas. Tapi Mas harap jangan terlalu lama, jika kau tidak bisa memendam sendiri lebih baik segera beritahu Mas apa masalahnya." Ucap Alex. Divya menganggukkan kepalanya.
" Sekarang bolehkah Mas mandi dulu? Mas gerah karena Mas seharian berada di dapur membantu chef Arian." Sambung Alex.
Divya menjauh dari Alex, Alex mencium kening Divya lalu ia berlalu menuju kamar mandi. Divya menyiapkan pakaian ganti untuk Alex yang ia letakkan di ruang ganti lalu ia naik ke atas ranjang.
Selesai mandi Alex segera memakai bajunya, ia menghampiri Divya di ranjang. Divya mendekat lalu memeluk perut Alex, ia merebahkan kepalanya di bahu sangat suami tercinta.
" Apa agenda jalan jalannya menyenangkan?" Tanya Alex mengelus kepala Divya.
" Tidak." Sahut Divya lirih sambil menggelengkan kepalanya.
" Tidak? Kenapa tidak? Apa yang membuatnya tidak menyenangkan? Apa yang yang Mas kasih tadi pagi kurang?" Tanya Alex.
" Bukan karena itu Mas." Sahut Divya.
" Lalu?" Tanya Alex.
" Damian."
" Apa???" Pekik Alex terkejut. Ia mendorong pelan tubuh Divya sambil menatap Divya dengan heran.
" Damian... Damian siapa yang kamu maksud sayang? Bukankah Damian sudah tiada?" Tanya Alex memastikan.
" Iya Mas, saat di mall aku bertemu dengan pria yang bernama Damian. Dia mengingatkanku pada Damian yang sudah tiada, entah kenapa semua ucapannya seolah olah ingin menyatakan jika dia memang Damian Mas. Damian yang sudah meninggal. Aku takut Mas, dia bilang kalau dia suka sama aku dan akan merebutku dari Mas." Ujar Divya kembali memeluk Alex.
Alex mengepalkan erat tangannya.
" Apa wajah mereka sama?" Tanya Alex.
__ADS_1
" Tidak Mas, hanya nama mereka saja yang sama." Sahut Divya.
" Berarti dua bukan Damian mantan suamimu sayang, sekarang kau tidak perlu memikirkan hal ini! Mas tidak mau sampai kamu drop seperti satu bulan lalu. Dan jangan khawatir!Siapapun dia Mas tidak akan membiarkannya merebutmu dari Mas. Mas akan menjagamu dengan sepenuh jiwa dan raga. Semoga Tuhan selalu mempersatukan kita sayang." Ujar Alex menciumi pucuk kepala Divya.
" Semoga Mas." Sahut Divya.
Drt... Drt...
Ponsel Alex berdering tanda panggilan Masuk.
" Sebentar sayang ada yang telepon, Mas angkat dulu." Ucap Alex menatap id pemanggil.
" Farel." Gumam Alex. Ia segera mengangkatnya.
" Halo Rel, ada apa? Apa terjadi sesuatu di sana?" Tanya Alex. Biasanya jika Farel menelepon pasti ada masalah besar di club miliknya yang berada di pulau B.
" Iya Lex, club kita kebakaran. Ada lima orang yang menjadi korban, sepertinya lo harus ke sini untuk menangani tuntutan pihak korban. Gue nggak bisa menangani mereka sendirian karena mereka banyak maunya. Mereka ingin langsung bertemu denganmu." Sahut Farel di sebrang sana.
" Kapan kejadiannya? Kenapa lo tidak langsung menelepon gue? Apa para korban sudah tertangani dengan baik? Apa pegawai kita ada yang jadi korban?" Tanya Alex.
" Kejadianya bberapa jam yang lalu, gue nggak sempat ngabarin lo karena gue sibuk menyelamatkan para pegawai kita. Para korban sudah berada di kamar jenazah rumah sakit xx. Semua korban merupakan pengunjung club. Gimana? Lo bisa ke sini kan?" Tanya Farel.
Alex menatap Divya sekilas.
" Apa yang terjadi Mas? Sepertinya aku mendengar korban dan kebakaran." Ucap Divya.
" Iya sayang, Club milik Mas yang ada di pulau B kebakaran dan memakan lima korban. Pihak keluarga menuntut dan ingin bertemu dengan Mas langsung. Mas harus ke sana sayang, seandainya kamu tidak hamil muda Mas akan mengajakmu ikut ke sana." Ujar Alex.
" Tidak apa apa Mas, aku di sini saja. Aku turut prihatin dengan musibah yang menimpamu Mas. Aku berdoa semoga keluarga korban mau berdamai dengan Mas." Ujar Divya.
" Amin, terima kasih sayang." Ucap Alex memeluk Divya
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jam lima pagi Alex menuju bandara di antar oleh Divya. Alex sudah melarang Divya namun Divya bersikeras ingin mengantar kepergiannya.
Setelah pesawat yang di tumpangi Alex lepas landas, Divya segera melajukan mobilnya menuju rumahnya. Ia ingin mengunjungi rumah yang sudah satu bulan ia tinggalkan. Saat melewati perbukitan tiba tiba ada sebuah mobil yang menghadangnya, sontak membuat Divya langsung menginjak remaja menghentikan mobilnya.
Nampak dua orang pria turun dari mobil itu membuat Divya merasa ketakutan. Tak lama seorang wanita juga turun dari mobil itu, ia mendekati mobil Divya.
Tok tok..
wanita itu mengetuk kaca mobil Divya, Divya menurunkan kaca mobilnya.
__ADS_1
" Ada apa? Kenapa kau menghadang mobilku? Apa kita saling kenal?" Tanya Divya.
" Hai kenalkan aku Evi, Aku mau menumpang sampai ke jalan xx. Anak buahku harus pergi ke suatu tempat sekarang juga, ada keperluan mendesak yang tidak bisa di tinggalkan. Bolehkan aku menumpang mobilmu?" Tanya wanita itu.
Divya nampak sedikit berpikir, bukankah membantu hal baik jika kita mau membantu orang lain.
" Baiklah, silahkan masuk!" Ucap Divya
Evi membuka pintunya, ia duduk di samping kemudi. Saat Divya hendak menjalankan mobilnya tiba tiba Evi membekap wajahnya dengan sapu tangan. Sepertinya Divya terkena obat bius karena setelah itu Divya tidak sadarkan diri.
" Bawa dia ke mobil!" Titah Evi pada salah satu anak buahnya.
" Baik bos." ucapnya.
" Dan kau bawa mobil Divya ke rumahnya. Buat seolah olah Divya ada di sana dan pastikan keluarganya tidak akan curiga." Ujar Evi pada pria satunya.
" Baik bos."
Pria itu membopong Divya masuk ke mobilnya. Setelah itu ia melajukan mobilnya menuju ke suatu tempat. Tak lama mereka sampai di sebuah rumah mewah di pinggiran kota. Divya di bawa ke kamar utama dalam keadaan masih tidak sadarkan diri.
" Kalian boleh pergi." Titah seorang pria.
" Baik Bos."
Pria itu naik ke atas ranjang, ia duduk di samping Divya.
" Sayang kita bertemu lagi." Ucapnya sambil mengelus pipi Divya.
" Kali ini aku tidak akan melepaskanmu. Seumur hidupmu kau akan selalu bersamamu. Aku tidak peduli jika kau akan menolak ku nanti yang jelas kau tidak akan pernah bisa pergi dari sini. Aku mencintaimu sayang." Ucap pria itu mencium kening Divya.
Divya mengerjapkan matanya,
Deg...
" Kamu."
Siapa hayo????
Jangan lupa tekan like koment vote dan hadiahnya buat author biar semangat buat ceritanya.
Terima kasih untuk readers yang telah mensuport author semoga sehat selalu...
Miss U All...
__ADS_1
TBC....