KAU SELINGKUH AKU BALAS

KAU SELINGKUH AKU BALAS
COBAAN DI MALAM PERTAMA


__ADS_3

Malam hari setelah selesai makan malam, Alex dan Divya masuk ke kamarnya. Kamar yang bersih tidak seperti kamar pengantin pada umumnya. Tidak ada dekorasi atau pun bunga bunga mawar yang bertebaran di atas ranjang. Alex tidak mau membuat Divya tidak nyaman akan hal itu.


" Kamu tidurlah! Mas masih ada pekerjaan." Ucap Alex.


" Mas Al mau kemana?" Tanya Divya menatap Alex.


" Mas harus ke club sebentar, ada pekerjaan yang harus Mas selesaikan di sana." Sahut Alex.


" Apa ada masalah?" Tanya Divya lagi.


" Sedikit keributan yang di timbulkan seorang pengunjung. Tapi kamu jangan khawatir! Mas bisa menanganinya. Mas pergi dulu ya." Ucap Alex mengusap kepala Divya.


" Hmm." Gumam Divya menganggukkan kepalanya.


Alex membungkuk mengelus perut Divya.


" Sayang papa pergi sebentar, tolong jaga mama kamu." Ucap Alex mencium perut Divya.


Hanya mendapat perlakuan sederhana saja membuat Divya bahagia.


" Mas pergi." Ucap Alex meninggalkan Divya di kamarnya.


Sebenarnya berat bagi Alex meninggalkan Divya sendirian di rumah, apalagi di malam pertama mereka. Namun urusan Club tidak ada yang bisa menghandle nya kecuali dirinya sendiri sebagai pemilik club itu.


Alex melajukan mobilnya menuju club tongkrong malam. Sekitar lima belas menit ia sampai di sana. Ia segera masuk ke dalam menemui pegawainya.


" Bagaimana Van? Apa semua sudah terkendali?" Tanya Alex kepada Evan, salah satu bartender yang bekerja di sana.


" Wanita yang membuat kekacauan sepertinya mabuk berat, sekarang dia duduk di sana tuan Al." Sahut Evan menunjuk seorang wanita yang sedang duduk di sofa meja VIP.


" Baiklah aku ke sana." Ucap Alex mendekati wanita itu.


" Mereka jahat! Mereka ingin menyiksaku lagi!" Racau wanita itu.


Alex mengamati wajah wanita itu dengan seksama.


" Arnisa." Gumam Alex membuat wanita itu membuka matanya.


" Alex... Kau Alexo kan? Pria tampan yang berhati dingin. Bahkan kau selalu acuh ketika melihatku. Aku tidak menyangka kita bisa bertemu di sini." Ucap Arnisa adik kelas Alex saat masa putih abu abu dulu.


" Kenapa kau membuat keributan di clubku?" Tanya Alex duduk di samping Arnisa.

__ADS_1


" Aku tidak membuat keributan, aku hanya mengeluarkan amarahku saja. Aku bosan hidup seperti ini terus. Mereka selalu memperlakukan aku seperti pembantu, mereka menyiksaku. Mereka tidak segan segan memukulku kalau aku tidak menuruti kata kata mereka. Aku marah akan hal itu." Ujar Arnisa di tengah tengah kesadarannya.


" Siapa yang kau maksudkan? Apa mereka keluargamu?" Tanya Alex memastikan.


" Suami dan ibu mertuaku, mereka jahat. Bahkan jika mereka membutuhkan uang mereka memaksaku untuk melayani pria hidung belang yang mau membeliku. Hiks... Aku kotor... Aku tidak pantas hidup di dunia ini. Lebih baik aku mati saja."


" Aku mau mati." Teriak Arnisa tiba tiba. Ia mengambil gelas lalu memecahnya.


" Arnisa apa yang kau lakukan?" Bentak Alex.


Sret...


Arnisa menyayat tangannya sendiri menggunakan pecahan gelas itu. Alex ingin merebutnya namun sayang ia terlambat. Darah segar mengalir dari pergelangan tangan Anisa. Mendadak Anisa tidak sadarkan diri membuat Alex terserang panik.


" Arnisa bangun!" Alex menepuk pipi Arnisa berharap Anisa membuka matanya namun nihil. Arnisa masih setia menutup matanya.


Tanpa membuang waktu Alex segera membopong Arnisa menuju mobilnya, Evan yang melihat itu segera mengikuti Alex dan membantu Alex menurunkan Arnisa di mobil.


" Kau bersihkan darah yang berceceran di lantai! Aku akan membawanya ke rumah sakit." Ucap Alex.


" Baik Tuan." Sahut Evan.


Sampai di rumah sakit Arnisa mendapat perawatan intensif dari dokter. Alex menunggunya di depan ruangan UGD. Tak lama seorang dokter wanita keluar dari sana.


" Bagaimana keadaan teman saya Dok?" Tanya Alex menatap dokter.


" Pasien kehilangan banyak darah Tuan, tapi anda tenang saja! Kami sudah menanganinya. Pasien hanya butuh istirahat dan pikiran yang tenang. Sepertinya pasien mengalami depresi selama ini sehingga dia melakukan hal seperti tadi. Pasien di pindahkan ke ruang rawat kamboja nomer tiga Tuan, anda bisa menemuinya di sana." Jelas dokter.


" Terima kasih Dok." Ucap Alex di balas anggukkan oleh dokter.


Alex menuju ruangan yang di maksud oleh dokter dengan mengikuti petunjuk yang ada. Ia masuk ke dalam menatap Arnisa yang terbaring lemah di atas ranjang. Entah apa yang terjadi padanya ia tidak tahu.


Alex duduk di kursi tepi ranjang, ia melihat luka di tangan Arnisa. Seperti luka sabetan hingga meninggalkan jejak kemerahan.


" Sebenarnya apa yang sudah di alami gadis malang ini? Kenapa sepertinya beban hidupnya terasa berat? Padahal dulu dia gadis yang cerdas dan periang. Tidak henti hentinya dia terus menggodaku di depan teman temannya hingga membuat aku malu." Monolog Alex mengingat sosok siswi SMA yang periang itu. Berbeda sekali dengan sosok Arnisa yang sekarang.


Tiba tiba Alex teringat sang istri di rumah.


" Aku harus pulang, Divi pasti mengkhawatirkan aku. Aku akan meminta perawat untuk menjaganya." Ucap Alex.


Saat Alex beranjak, tiba tiba Arnisa mencekal tangannya.

__ADS_1


" Jangan pergi, aku takut. Dia pasti menemukan aku dan dia pasti akan menyiksaku lagi." Racau Arnisa tanpa membuka matanya.


" Maaf istriku menungguku di rumah, aku harus pergi." Ucap Alex melepas tangan Arnisa.


" Aku mohon jangan tinggalkan aku! Atau aku akan melompat dari gedung ini." Ancam Arnisa. Alex menghela nafasnya pelan, ia bimbang harus memilih siapa di antara mereka berdua.


Alex tidak mau sampai Divi merasa kesepian tapi di sisi lain bagaimana jika Arnisa benar benar melakukan ancamanya? Alex menyugar kasar rambutnya.


" Baiklah, kau istirahat saja. Aku akan menunggumu di sofa." Ucap Alex.


" Maafkan aku sayang, aku akan pulang setelah Arnisa tidur nanti. Aku tidak bisa ngabarin kamu karena ponselku jatuh entah kemana. Benar benar merepotkan." Batin Alex duduk di sofa.


Arnisa tersenyum senang melihat Alex mau menuruti permintaannya.


" Aku akan mendapatkanmu bagaimanapun caranya. Dulu aku tidak berhasil tapi akan aku pastikan jika kali ini aku akan mendapat keberhasilan. Kau akan menjadi milikku, tidak peduli kau milik siapa. Aku tidak mau hidup bersama pria kasar seperti suamiku lagi. Aku ingin memiliki pria lembut dan baik hati sepertimu kak Alex." Batin Arnisa.


Di rumah, Divi nampak mondar mandir di kamarnya. Ia mencemaskan keadaan Alex, ia takut jika Alex kenapa napa. Ia mencoba menelepon Alex berkali kali namun tidak di angkatnya.


" Kemana Mas Alex sih? Sudah jam sebelas juga belum pulang pulang. Apa terjadi sesuatu dengan Mas Al? Ah tidak... Jangan sampai itu terjadi. Aku harus menyusulnya." Ucap Divya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi hari Alex mengerjapkan matanya. Ia mengedarkan pandangannya di seluruh penjuru ruangan.


" Astaga aku ketiduran." Ucap Alex beranjak duduk.


" Ya Tuhan bagaimana aku bisa menghadapi Divi kalau seperti ini? Aku tidak pulang hanya karena menemani wanita lain? Astaga Alex... Kenapa lo bisa membuat kesalahan sebesar ini?" Alex menarik kasar rambutnya. Niat hati ingin pulang setelah Arnisa tertidur tapi malah dia ketiduran.


Alex menatap Arnisa yang duduk bersandar sambil tersenyum ke arahnya.


" Kenapa kau tidak membangunkan aku?" Tanya Alex.


" Aku sudah beberapa kali memanggilmu tapi sepertinya tidurmu begitu nyenyak hingga kau tidak terusik dengan suaraku. Terima kasih telah menemaniku." Ucap Arnisa.


" Aku harus pulang, istriku pasti sangat mencemaskan aku. Nanti akan ada perawatan yang menjagamu." Ucap Alex.


Tanpa menunggu jawaban dari Arnisa, Alex keluar meninggalkan Arnisa sendirian. Arnisa tersenyum lebar menatap punggung Alex yang semakin lama tidak terlihat lagi.


" Aku yakin kau akan kembali lagi, istrimu pasti sangat marah melihat suaminya bersama wanita lain." Ucap Arnisa tersenyum smirk.


TBC...

__ADS_1


__ADS_2