KAU SELINGKUH AKU BALAS

KAU SELINGKUH AKU BALAS
MEMBUJUK DIVYA


__ADS_3

Pagi ini Divya kedatangan ibu mertuanya, mereka duduk berhadapan di sofa ruang tamu. Bu Rosi mencoba membujuk Divya untuk tetap mendampingi putranya. Ia tidak tega melihat putranya terpuruk dan selalu menyalahkan dirinya sendiri atas kehancuran rumah tangga mereka.


" Divi ibu tahu jika kesalahan Damian tidak bisa di lupakan tapi ibu merasa kesalahan Damian masih bisa di maafkan Nak. Damian sangat mencintaimu, dia hanya sedang tersesat Nak. Dia sedang berusaha kembali ke jalan yang benar. Ibu mohon jangan tutup jalan itu Nak, atau anak ibu akan selamanya tersesat." Ucap bu Rosi menangkup kedua tangan di dadanya.


Divya menghembuskan nafasnya kasar. Ia paling tidak tega melihat seorang ibu memohon kepada orang yang lebih muda.


" Divya ibu mohon! Saat ini Damian sangat terpuruk karena perpisahan ini. Ibu mohon dengan segala kerendahan hati Divya. Ibu mohon kembalilah pada Damian!" Ucap bu Rosi.


" Maafkan aku Ibu, seperti ibu memohon padaku aku juga memohon padamu. Tolong pahami perasaanku! Tolong pahami keinginanku ibu. Damian sudah menyakitiku, dia berkhianat dengan wanita lain. Awalnya aku sudah mencoba untuk melupakannya ibu. Aku sudah berusaha untuk memperbaiki hubungan kami, aku tidak memintanya untuk mengakhiri hubungannya dengan wanita itu karena aku tahu mereka punya ikatan berupa anak itu ibu, aku hanya memintanya untuk tetap menjadikan aku prioritas utamanya. Aku memintanya untuk tidak sering sering menemui wanita itu, tapi apa yang Damian lakukan? Dia mengabaikan aku demi wanita itu. Aku tidak sanggup hidup berbagi cinta dengan wanita lain ibu. Aku mengalah, aku mundur demi kebahagiaan Damian dan kebahagiaanku sendiri. Inilah yang terbaik untuk kami Bu. Aku harap ibu bisa memahami apa yang coba aku jelaskan saat ini." Ujar Divya.


" Apa kamu benar benar sudah tidak ingin memperbaiki hubungan ini lagi meskipun Damian sudah meninggalkan wanita itu untuk selamanya?" Tanya Bu Rosi memastikan.


" Damian meninggalkannya karena terbukti jika anak yang di kandungnya bukan anak Damian, seandainya aku tidak memberitahu Damian, pasti saat ini Damian masih bersamanya Bu. Aku tidak akan menjilat ludahku sendiri, sekali aku bilang berpisah maka itu yang akan terjadi." Ucap Divya mulai kesal.


" Baiklah jika itu keinginanmu, ibu sudah tidak bisa berkata apa apa lagi. Tapi ijinkan Damian mengejar cintamu lagi." Ucap Bu Rosi.


Divya menghela nafasnya pelan.


" Baiklah Bu, tapi aku tidak bisa berjanji jika aku bisa menerima Damian lagi." Ucap Divya terpaksa daripada harus mendengarkan keinginan keinginan dari ibu mertuanya ini.


" Terima kasih Nak, ibu pulang dulu. Ibu takut terjadi sesuatu pada Damian karena dari kemarin dia mengurung diri di kamar. Dia bahkan tidak makan dan tidak minum." Ujar Bu Rosi membuat Divya sedikit terkejut.


" Aku turut prihatin atas itu Bu, maaf aku tidak bisa membujuknya." Ucap Divya.


" Tidak masalah, ibu permisi." Bu Rosi meninggalkan rumah Divya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di dalam kamar Damian, saat ini Damian sedang duduk termenung di atas lantai menekuk kedua lututnya sambil menatap keluar jendela. Air mata penyesalan terus menetes di pipinya.


" Hiks... Divi aku kehilanganmu. Hidupku tidak berarti lagi tanpa adanya dirimu Divi. Aku mohon maafkan aku! Hiks... " Isak Damian.


" Aku harus membujuk Divi sebelum hakim memutuskan perceraian kami. Aku akan membuat Divi menerimaku kembali. Divi... Aku datang." Monolog Damian.


Damian membasuh mukanya di kamar mandi, ia menyambar kunci mobil lalu berlari keluar rumah. Damian melajukan mobilnya menuju rumah Divya. Dua puluh menit Damian sampai di rumah Divya. Rumah yang pernah ia tinggali selama beberapa bulan ini.


Ya Damian tahu jika rumah itu tidak di jual, melainkan di tinggali oleh Divya sendiri dari ibunya. Ibunya meneleponnya dan memberitahu semuanya.

__ADS_1


Ting tong


Tak lama Divya membukakan pintu.


Deg...


Jantung Divya berdetak dengan kencang, walaupun ia tahu Damian pasti akan ke sini tapi ia tidak menyangka Damian akan datang secepat ini.


" Damian, ada perlu apa kamu datang ke sini?" Tanya Divya.


" Aku sengaja ingin datang ke sini karena aku ingin membujukmu untuk kembali padaku. Aku tidak bisa hidup tanpamu Divi, aku tidak bisa." Ucap Damian.


Divya menatap wajah Damian yang nampak pucat.


" Divi aku mohon maafkan aku, aku sangat mencintaimu Divi, aku berjanji tidak akan melakukan kesalahan ini lagi. Aku berjanji akan setia kepadamu seumur hidupku. Aku akan menjadikan kesalahan ini sebagai pelajaran untukku. Terima aku kembali Divi. Aku tidak bisa hidup tanpamu." Ucap Damian melangkah maju mendekati Divya.


Divya memundurkan kakinya, Damian semakin maju Divya kembali mundur begitu seterusnya sampai...


Brugh...


Damian dan Divya jatuh ke sofa dengan posisi Damian menindih tubuhnya.


" Damian." Divya menepuk pundak Damian namun tetap saja Damian hanya diam saja.


" Astaga badannya panas banget." Ujar Divya merasakan suhu tubuh Damian yang di atas rata rata.


Divya mencoba melepaskan dirinya dari Damian dengan susah payah.


" Shh gimana ini? Mana Damian berat banget lagi." Gerutu Divya.


Gava yang baru saja masuk merasa emosi melihat Damian dan Divya berada dalam posisi intim.


" Apa yang kau lakukan hah?" Ucap Gava dengan anda tinggi.


" Ah syukurlah kau datang Kak, tolong aku! Damian pingsan menindih tubuhku." Ujar Divya.


" Dia pingsan? Kirain dia berbuat macam macam sama kamu." Ujar Gava menarik tubuh Damian.

__ADS_1


Divya segera beranjak dari sofa, Gava melepaskan Damian begitu saja.


" Astaga Kak, kenapa kasar sekali." Ucap Divya.


" Lebih baik kasar daripada lembut tapi menyakitkan." Sahut Gava.


" Bantu aku membawa Damian ke rumah sakit Kak." Ucap Divya.


" Kau masih peduli dengannya? Dia sudah menyakiti mentalmu Divi, tapi kau masih peduli dengannya. Apa kau masih ada rasa dengannya?" Selidik Gava menatap adik tersayangnya.


" Bukan begitu Kak, bagaimana pun dia manusia. Sebagai sesama kita harus membantunya. Ayo buruan! Dia sedang demam saat ini, suhu badannya di atas rata rata Kak." Ujar Divya.


" Baiklah." Sahut Gava menghela nafasnya pelan.


Gava dan Divya membawa Damian ke rumah sakit. Sampai di sana Damian segera mendapat perawatan intensif. Dengan setia Divya duduk di kursi samping ranjang menemaninya.


" Engh." Lenguh Damian memegangi kepalanya yang terasa nyeri.


" Kau sudah sadar? Apa ada yang kau butuhkan?" Tanya Divya menatap Damian.


Damian tersenyum, ia bahagia mendapat perhatian kecil dari Divya.


" Aku butuh kamu untuk selalu di sampingku. Aku tidak butuh yang lainnya lagi Divi." Sahut Damian.


" Maaf aku tidak bisa." Sahut Divya.


" Aku tahu itu, tapi aku tidak akan menyerah Divi. Aku akan mengejar cintamu kembali. Aku punya keyakinan jika kau masih mencintaiku." Ujar Damian.


" Jangan salah mengartikan kehadiranku di sini! Aku hanya merasa iba melihatmu terpuruk seperti ini. Bersikaplah seperti biasa, hidup tidak akan berhenti hanya di sini saja. Kau harus bisa melanjutkan hidupmu meskipun tanpa aku. Jangan siksa dan bebani kedua orang tuamu dengan masalahmu ini Damian. Mereka tidak akan bisa menghadapinya." Ujar Divya.


" Aku tidak peduli dengan apapun selain kamu. Yang aku pedulikan hanya keinginanku ingin kembali bersamamu seperti dulu. Kita hidup bahagia tanpa adanya orang ketiga." Ujar Damian.


" Jangan bersikap seperti anak kecil Damian, kau harus tahu bagaimana rasanya di sakiti oleh orang yang kita sayang. Lebih baik kita saling instropeksi diri dan jangan mengharapkan sesuatu yang lebih dariku. Karena hatiku telah mati untukmu. Aku pulang, ayah dan ibu dalam perjalanan kemari. Semoga cepat sembuh." Ucap Divya berlalu dari sana.


Damian menatap kepergiannya dengan berurai air mata.


" Tenyata aku salah, kau sudah tidak lagi memiliki perasaan untukku. Tapi aku tidak akan putus asa Divi. Selama kau masih sendiri aku akan tetap mengejarmu kembali." Monolog Damian.

__ADS_1


TBC...


__ADS_2